Hujan deras seharian pada Selasa dini hari (2/2) pukul 03.00 itu telah menghancurkan balai ketoprak milik Darto. Kakek yang usianya telah melewati satu abad ini masih mengingat alunan campursari yang tiba-tiba hilang saat peristiwa menyeramkan itu terjadi.
ILMIDZA AMALIA NADZIRA, KABUPATEN, JP Radar Kediri
Dini hari itu Darto sedang tidur di rumahnya. Berada di Dusun Nglangu, Desa Pohsarang, Kecamatan Semen. Kediaman yang sebelumnya menjadi tempat latihan ketoprak bersama anggota peguyuban.
Beruntung, cucu menantu Darto, Sujani, 53, yang rumahnya bersebelahan dengan rumahnya itu belum tidur. “Saat itu, memang sedang mendengarkan campursari di radio,” terang Jani.
Darto dan cucu menantunya itu memang kerap menghabiskan malam bersama jika ada jadwal campursari tayang di radio kesayangannya. “Alhamdulillah masih diberi selamat oleh Gusti Pangeran,” tutur Darto bahagia.
Kini, rumah yang menjadi saksi bisu suksesnya paguyuban ketoprak miliknya hancur. Di rumah itu pula, Darto menyimpan barang-barang seperti gong, kelambu, kostum pemain dan berbagai alat musik lainnya. “Sudah dipindah semua, di dekat dapur,” ujar pria yang telah berusia lebih seabad itu.
Kakek empat cucu itu bercerita bahwa dia adalah pemilik paguyuban ketoprak yang terkenal di Kediri. “Namanya Sidomulyo,” imbuhnya. Saat itu, dia membuat paguyuban ketoprak itu tahun 1940. Saat itu, kesenian ketoprak memang belum banyak dikenal masyarakat.
Dia menceritakan awal mula terjun di kesenian ketoprak. Menurutnya, saat itu, masyarakat tidak diperkenankan berkumpul karena dicurigai akan melakukan makar. Oleh karena itu, dicari cara agar dapat berkumpul tanpa harus dibubarkan oleh tentara penjajah. “Ya cara satu-satunya membentuk kelompok kesenian,” tuturnya.
Dia tak menyangka, kelompok yang dibentuknya itu semakin tahun semakin berkembang. Hingga pada tahun 1950-an, ketoprak semakin berjaya. Apalagi, untuk acara-acara hajatan kecil maupun hajatan besar. Bahkan, paguyubannya sudah terkenal di mana-mana. “Saya paling jauh ada tanggapan (tampil) di Jawa Tengah,” kenangnya. Lebih dari 50 tahun Darto telah berpetualang di pentas ketoprak. Dari pentas srandul sampai ketoprak modern.
Cerita-cerita yang dihidangkannya bervariasi. Dari cerita rakyat, dongeng, legenda, sejarah dan bahkan cerita-cerita keagamaan. “Yang menjadi menarik kan ada tembangnya untuk menyampaikan cerita,” ujarnya. Karena itu, pemain ketoprak diharapkan tak hanya pandai berakting tapi juga harus bisa bernyanyi dan menari. “Sedangkan untuk pemain gamelan memerlukan sinden,” ujarnya. Nyanyian itu disebutnya untuk mencairkan suasana panggung.
Namun, kesenian itu makin tergerus oleh jaman. Sejak memasuki tahun 2000, menurut Darto ketoprak itu semakin tertinggal. “Ya semenjak itu tanggapan ikut dengan tanggapan wayang kulit,” ujarnya. Setelah delapan tahun mengikuti tanggapan wayang kulit, dia memutuskan berhenti dan bertani.
Meskipun usia sudah senja, Darto yang kini tinggal bersama anaknya bernama Kartinah, 70, tidak membuat dirinya berhenti beraktivitas. Menurutnya, meskipun tinggal bersama anak dan dekat dengan cucunya, dia tidak ingin merepotkan. “Selama masih bisa sendiri, saya lakukan sendiri,” ujarnya.
Kini Darto hanya bisa memandangi rumah kenangannya saat bermain ketoprak itu dengan matanya yang sudah tidak jelas untuk melihat. Dia mengaku baru saja melakukan operasi tahun lalu. “Yang sebelah kiri dioperasi karena katarak,” tuturnya.
Selain itu, dia harus bersedih. Pasalnya, radio kesayangannya kini juga hancur karena tertimpa robohan rumahnya. “Padahal itu satu-satunya hiburan saya,” ujarnya.
Untuk mengevakuasi rumahnya yang roboh, dia dibantu oleh pihak kecamatan dan Polsek Semen. Mereka kerja bakti sekitar pukul 13.30 untuk membersihkan bangunan yang roboh. “Dibantu dengan tetangga sekitar juga,” ujarnya. (dea)
Editor : adi nugroho