Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Pohon-Pohon dalam Perayaan Natal di Kediri yang ‘Tidak Biasa’

adi nugroho • Rabu, 25 Desember 2019 | 19:00 WIB
pohon-pohon-dalam-perayaan-natal-di-kediri-yang-tidak-biasa
pohon-pohon-dalam-perayaan-natal-di-kediri-yang-tidak-biasa

Bagi jemaat GBI Syalom, Natal tahun ini harus istimewa. Karena itu mereka bersepakat membuat pohon Natal yang lain dari biasanya. Menyusunnya dari aneka buah dan sayuran. Sedangkan di Hotel Grand Surya, ratusan botol bekas mereka kumpulkan dari para tamu.


 


IQBAL SYAHRONI-MUALIFU ROSYIDIN, Kediri, JP Radar Kediri


 


Gereja Baptis Indonesia (GBI) Syalom berada di Desa Blimbing, Kecamatan Mojo, Kabupaten Kediri. Tepatnya di RT 04 RW 02. Bangunannya tergolong megah.


Gereja ini jadi tempat ibadah bagi sekitar 45 kepala keluarga (KK) di desa tersebut. Seperti gereja lain menjelang perayaan Natal, GIB Syalom juga punya kegiatan untuk menyambut hari raya umat Kristiani tersebut. Termasuk melengkapinya dengan pohon Natal. Dekorasi wajib setiap perayaan hari yang diyakini merupakan kelahiran Yesus Kristus itu.


Namun, pohon Natal di gereja ini berbeda. Berada di dekat mimbar, pohon Natal itu terbuat dari buah dan sayuran.


Dua orang terlihat sedang meneliti tatanan buah dan sayuran itu. Keduanya adalah Wijianto, 55, dan Erik Sudarmanto, 36. “Sementara tidak ada kendala. Pohon siap untuk acara Natal besok (hari ini, Red),” terang Erik menunjuk kondisi pohon Natal yang kerangkanya terbikin dari bambu itu.


Di bagian paling bawah pohon itu tersusun dari rambutan. Di atasnya ratusan jagung yang sudah dikelupas kulitnya ditata rapi menjulang. Di atasnya lagi, ada belasan buah naga dan pisang. Sedangkan di bagian pucuk ada anggur dan durian. Sebelum diberi salib sebagai puncaknya.


Menurut Erik, ide membuat pohon Natal dari buah dan sayur itu dari jemaat yang juga Kades Blimbing Djoehari. “Awalnya ingin membuat sesuatu yang berbeda untuk natal kali ini, itu juga rembukan dengan jemaat lain,” terang Erik.


Setelah mucul ide itu, jemaat pun ‘patungan’. Kebetulan, mayoritas jemaat adalah petani. Sehingga tidak kesulitan mengumpulkan bahan-bahan.  Seperti Erik dan ayahnya misalnya, keduanya memberikan rambutan. Kebetulan keduanya punya tanaman itu di halaman rumah.


Meskipun berasal dari buah dan sayuran segar, Erik yakin pohon Natal itu bisa awet. Minimal hingga beberapa hari setelah Natal. “Kalau bisa hingga Tahun Baru, tapi lihat nantilah,” harap Erik.


Tidak semua bahan penyusun pohon Natal ini dari hasil panen jemaat. Jagung misalnya, menurut Wijianto bahan itu dibeli di Pasar Grosir Ngronggo. Karena warga yang punya lahan jagung kebetulan sudah panen ketika rencana itu muncul. Mereka membeli sebanyak satu kuintal. Kemudian diangkut melintasi jalanan berkelok menuju lokasi gereja. Setelah dikupas kemudian disusun. Sisanya, direbus untuk konsumsi yang membuat.


Menurut Wijianto, tahun depan sudah ada ide yang muncul. Seperti membuat pohon Natal dari ranting kayu atau yang lain. “Tapi itu masih lama, kan masih setahun lagi,” ucapnya.


Sementara, di Hotel Grand Surya Kediri,  mereka membuat pohon Natal yang terinspirasi go green environment. Mereka merangkainya dari ribuan botol bekas air minum kemasan. Diberi nama The Bubbles Bottles Christmas Tree oleh kreatornya, Hermanto.


Selain Hermanto, pohon Natal itu juga andil dari puluhan karyawan hotel. Memanfaatkan 7.500 botol. Botol itu dikumpulkan dai para tamu hotel. Bisa untuk dua pohon Natal. Dan dikerjalan selama 14 hari.


Satu pohon setinggi 3 meter berdiri tegak di lobi hotel di lantai dasar. Sedangkan satunya, yang tingginya mencapai 6 meter, ada di dekat swimming pool.  Pohon-pohon itu semakin indah dengan kilauan lampu warna-warni yang menempel. Juga ada karyawan berpakaian santa claus.


Bukan tahun ini hotel ini membuat pohon natal dari botol bekas. Tahun lalu juga ada. Hanya, tiap tahun selalu berganti model dan asesorisnya. Tahun ini, botol hijau yang mendominasi. Warna kuning dan merah sebagai penghias agar tidak monoton.


Del Piero, public relation manajer Grand Surya Hotel mengatakan, botol-botol itu dikumpulkan dari para tamu. “Fasilitas gratis untuk dua buah botol yang diberikan tiap pengunjung,” ujarnya.


Namun, banyak lagi botol tambahan yang diberikan oleh para tamu. Botol itu dibawa atau dibeli sendiri oleh pengunjung di luar fasilitas hotel. Total, tiap hari mereka bisa mengumpulkan 300-an botol.


 


 


 

Editor : adi nugroho