Pemilu kali ini seperti menjadi momok bagi para petugasnya. Banyak yang jatuh sakit hingga meninggal. Terbaru, ketua PPK Semen harus dirawat di rumah sakit karena tersengat aliran listrik.
IQBAL SYAHRONI
Ruang perawatan itu berada di lantai 2 Rumah Sakit Bhayangkara Kediri. Nama yang tertera adalah Ruang Bougenville, bernomor kamar delapan.
Di kamar itu terlihat beberapa perempuan. Lima wanita itu duduk mengitari tempat tidur pasien, tempat sesosok tubuh merebahkan diri. Mereka adalah istri, anak, dan kerabat dari Sulistyo, sosok yang harus terbaring di kamar tidur rumah sakit itu.
Sulistyo adalah kepala Panitia Pemilihan Kecamatan (PPK) Semen. Lelaki itu harus dilarikan ke rumah sakit akibat terkena insiden berbahaya saat melakukan rekapitulasi perolehan suara di Balai Desa Puhsarang, Semen, Kabupaten Kediri. Dia tersengar aliran listrik dari kabel mik yang dia pegang.
Infus masih terpasang di tangan kirinya. Memang, ia baru dirujuk ke Rumah Sakit Bhayangkara Kediri sekitar pukul 10.00 WIB, kemarin. Sebelumnya, Sulistyo dirawat di Puskesmas Semen.
Bagaimana sampai lelaki 47 tahun itu kesetrum listrik? Kisahnya berawal saat anggota PPK Semen yang dia pimpin hendak melakukan rekapitulasi. Saat memindahkan mikrofon dari meja sebelah ke mejanya, ternyata tangannya menyentuh kabel. Tiba-tiba sengatan aliran listrik langsung menghentaknya. “Padahal yang saya ingat, kondisi tangan saya juga tidak basah. Semua baik-baik saja,” terangnya saat ditemui di RS Bhayangkara, kemarin.
Kejadian nahas itu terjadi sekitar pukul 08.00 WIB. Saat itu, yang ia ingat adalah ia sedang mengecek alat untuk memulai rapat pleno. Ketika hendak memindahkan mikrofon itulah tiba-tiba ia tersetrum. Dari dua mikrofon yang ada di tangannya, ia tidak ingat betul mana yang menyetrumnya hingga ia terjatuh. Yang pasti, dia sempat beberapa menit menggelinjang di antara meja dan kursi.
Petugas lain yang sempat kebingungan melihat itu. Untungnya, mereka segera sadar dan segera menghentikan aliran listrik.
“Sebelum listrik dimatikan saya tidak bisa melepaskan alat tersebut dari tangan saya. Agak lama sampai saya terjatuh,” ujarnya mengingat-ingat.
Setelah terjatuh, ia tidak ingat apa-apa. Mungkin sekitar lima menitan dia tak sadarkan diri. Dia baru sadar saat digotong rekannya menuju puskesmas.
Salah seorang temannya bercerita bahwa saat tersetrum, Sulistyo sempat kejang. Tubuhnya menggelinjang ketika terjatuh. “Kalau itu saya tidak ingat. Saya hanya diberi tahu petugas lain,” terangnya.
Sore kemarin, meskipun terbaring di kasur rumah sakit, satu handphone miliknya tetap setiap menemani. Tergeletak di meja. Menunggu dering yang datang sewaktu-waktu. Menurut pria asal Desa Kedak itu, meskipun sakit dia tetap memantau proses rekapitulasi. Handphone itulah alatnya untuk melakukan pemantauan dan berkomunikasi. Meski sakit dia tak ingin tugasnya sebagai ketua PPK terbengkalai. “Tetap koordinasi dan komunikasi dengan anggota di sana (PPK Semen, Red) agar tetap aman dan terkendali,” imbuhnya.
Kemarin, beberapa tokoh memberikan simpati pada kejadian yang menimpanya. Di antaranya Kapolres Kediri Kota AKBP Anthon Haryadi yang menjenguknya di rumah sakit. Saat datang Kapolresta didampingi oleh Kapolsek Semen AKP Karyoko. “Dari KPU kabupaten juga ke sini tadi,” terangnya.
Kemarin, Sulistyo masih mengeluhkan sakit di punggung dan pinggang. Kesemutan di tangannya mulai berangsur hilang. Dia merasa lega karena pemeriksaan organ dalamnya normal. Seperti jantung dan organ dalam lainnya.
“Memang suami saya tidak ada riwayat penyakit dari dulu,” tukas Sadiah, istri Sulistyo, mengomentari hasil pemeriksaan itu.
Sadiah sendiri mengaku kaget saat mendengar suaminya kena musibah. Ketika ada yang mengabari insiden itu dia langsung mendatangi puskesmas. Ia berharap agar suaminya segera sembuh. Agar bisa beraktivitas seperti semula. “Sementara ini biar istirahat dulu, biar sembuh total, baru bisa beraktivitas lagi,” pintanya.
Meski terbaring sakit, Sulistyo masih menunjukkan semangat tinggi. Enggan terlihat sakit, Sulistyo tetap memaksakan duduk. Bergurau dan bercengkerama dengan anak dan istrinya. Keinginannya mengawasi proses rekapitulasi hanya bisa dia puaskan dari komunikasi melalui pesawat teleponnya.
Editor : adi nugroho