Hampir empat minggu berlalu, peristiwa tenggelamnya Kapal Motor Virgo Transport 8 pada 13 September silam seolah masih membayangi Irwan Mujiono. Betapa tidak, musibah itu nyaris merenggut nyawanya. Pun memisahkan dia dengan teman yang hingga sekarang belum ditemukan.
ASAD M.S., Kabupaten JP Radar Kediri
“Teriakan toloong…toloong! Itu seperti masih terngiang-ngiang di telinga saya,” kenang Irwan Mujiono, ditemui di rumahnya, RT 2, RW 2 Desa Sumberejo Kandat, kemarin (8/10).
Rentetan peristiwa yang mencekam pada Minggu (13/9) dini hari itu juga masih tergambar jelas di benaknya.
Tak hanya teriakan minta tolong para penumpang saja. Gaduh suara kapal yang mulai bergoyang hebat di malam buta itu seolah juga masih bisa jelas didengarnya.
“Sampai sekarang ini saya masih sering terbangun pukul 01.00. Rasanya seperti kembali ada di KM Virgo,” lanjut Irwan menggambarkan trauma yang dialaminya.
Musibah yang terjadi di perairan Kalimantan itu ibarat mimpi buruk, yang bahkan kalau bisa, tidak ingin diingat oleh Irwan lagi.
Betapa tidak, sekitar pukul 01.00 pada 13 September lalu dia sedang terlelap di kamar sopir. Tidak ada alarm atau tanda, tiba-tiba saja kapal miring.
Baca Juga: Dua Korban KM Virgo Dalam Pencarian: Empat Penumpang Dari Kediri Tewas, 2 Lainnya Selamat
Suara teriakan dan kepanikan penumpang lain yang kala itu membangunkannya.
“Tiba-tiba ada orang lari masuk, mereka teriak, kapale miring! kapale miring!” kenangnya lagi.
Bersamaan dengan itu, semakin banyak penumpang yang berhamburan mencari jalan keluar. Termasuk di antaranya Irwan.
Dalam kondisi setengah sadar, dia berusaha berlari keluar bersama Aris Sunarwan, sang teman yang mengajaknya mengantar barang ke Kalimantan.
Sebenarnya, tidak ada tanda-tanda jika kapal yang ditumpanginya itu akan tenggelam.
Pada Sabtu (12/9) siang, kapal berjalan seperti biasa. Hanya saja, sekitar pukul 19.00 sempat bergoyang keras.
“Siang saya sempat keliling kapal karena tidak bisa tidur. Lihat-lihat ruang di kapal. Dan ini yang menyelamatkan saya waktu musibah itu karena saya bisa cari jalan keluar,” tuturnya tak berhenti bersyukur.
Begitu kapal miring pada pukul 01.00 dini hari, pria berusia 38 tahun itu sempat ingin menuju pintu belakang untuk keluar dari kapal. Tapi kondisi di sana sangat ramai.
Dia pun mengajak Aris untuk keluar lewat pintu depan dan langsung keluar.
Dalam kondisi panik, ternyata dia lupa tidak memakai pelampung. Meski diliputi rasa takut, dia pun kembali ke dalam untuk mengambilnya.
Setelah Irwan dan Aris memakai pelampung, mereka langsung melompat ke pintu keluar.
Baca Juga: Menyusul sang Adik, Jenazah Tri Sutrisno Korban KMP Virgo asal Puncu Berhasil Dipulangkan
Benar saja, beberapa saat kemudian dinding sekat di kapal pecah. Pintu yang semula di samping pun bergeser ke atas mengikuti kemiringan kapal.
Tak ada pilihan lain. Irwan hanya bisa berteriak meminta tolong dengan keras.
Tiba-tiba saja ada tangan dari atas kapal yang menarik membantunya. “Pikiran saya sudah nggak karuan. Saya panik. Teriak. Saya sebut keluarga saya satu per satu,” tuturnya.
Setelah itu, yang ada di benak Irwan hanya panik dan takut. Apalagi, sejurus kemudian lampu mati.
Yang ada hanya gelap dan teriakan minta tolong dari penumpang lain. Anak-anak, laki-laki dewasa dan perempuan dewasa, semuanya teriak meminta tolong.
Hanya dalam waktu sekitar 15 menit, kapal benar-benar terbalik. Irwan pun terlepas dan jatuh ke laut.
Dia berusaha berenang menjauh dari kapal karena khawatir tersedot jika kapal tenggelam.
Berbekal pelampung saja untuk bisa mengapung masih belum cukup. Beruntung dia menemukan sebuah galon kosong.
Benda plastik itu yang belakangan jadi pegangan untuk mempertahankan tubuhnya agar tetap mengapung.
Di saat yang hampir bersamaan, Irwan merasakan ada seseorang yang memegang kepalanya agar tetap mengambang.
Baca Juga: Korban KM Virgo Asal Kediri Kembali Ditemukan! Korban Sopir Truk Ekspedisi asal Ringinrejo
Sekitar satu jam berusaha menyelamatkan diri, akhirnya dia melihat sekoci. Harapan hidupnya muncul kembali.
“Toloong! Toloong! Saya teriak menggunakan tenaga yang tersisa, akhirnya didengar oleh orang di sekoci,” urainya.
Irwan sudah tidak tahu lagi, berapa lama dia berada di sekoci. Dalam kondisi tubuh yang sangat lemas, dia bersama beberapa korban lain hanya bisa menunggu pertolongan orang.
Sekitar pukul 10.00 Senin (14/9) silam akhirnya pertolongan datang. Adalah kapal nelayan KM Cahaya Bahari Jaya yang mendekat. Irwan dan lima korban lain di sekoci lantas dibawa ke kapal tersebut.
Namun, upaya penyelamatan belum selesai. Di dalam kapal itu sudah ada 22 korban lainnya. Mereka terombang-ambing di laut selama dua hari satu malam.
“Alhamdulillah nelayannya baik. Tapi mereka tidak bisa pergi ke daratan. Mereka berusaha menghubungi Basarnas,” kenangnya lagi.
Sejurus kemudian ada kapal TNI yang datang. Mereka lantas dibawa ke pelabuhan di Banjarmasin.
Setelah tiba di daratan, dia ganti memikirkan Aris, temannya. Selama dua minggu di Banjarmasin dia berusaha mencari informasi tentang nasib rekannya itu.
Pelabuhan, rumah sakit, dan sejumlah tempat yang menangani korban kapal Virgo sudah didatangi. Tapi, nama Aris tidak ada di sana.
Selama itu pula, Irwan tidak lagi memikirkan barang-barangnya. Tidak ada ponsel, baju, dan barang pribadi lainnya.
Baca Juga: Aditya, Korban Tewas KMP Virgo asal Kediri Dimakamkan di Puncu! Sang Kakak Masih dalam Pencarian
Pun, truk pengangkut spare part yang dikemudikannya juga tidak ada di benaknya.
Setelah jejak Aris tak terendus, Irwan pun memutuskan untuk pulang.
"Orang rumah sampai sudah salat jenazah karena tidak ada kabar dari saya,” tuturnya tersenyum getir.
Selama mencari Aris, Irwan memang tidak bisa menghubungi keluarganya. Sebab, dia tidak bisa mengingat nomor telpon kerabatnya.
Di tengah ketidakpastian itu, rupanya keluarga melakukan salat jenazah.
Meski masih diliputi trauma dan sedih karena Aris belum ditemukan, Irwan mengaku lega. Sebab, kini dia bisa berkumpul kembali dengan keluarganya.
Fokusnya kini adalah memulihkan rasa trauma yang dirasakannya. Selebihnya, sebagai kepala keluarga dia juga harus cepat berdamai dengan pengalaman kelamnya demi periuk rumah tangganya.
Editor : Ayu Ismawati
Sumber : Radar Kediri