Berkenalan dengan dr Dekonanda Jufri Nasution dan Dua Anaknya yang Juga Spesialis Ortopedi

Ayu Ismawati • Dipublikasikan Kamis, 8 Oktober 2026 | 07:00 WIB
KELUARGA-KOLEGA: Dari kiri, dr Ade, dr Jufri, dan dr Ariya, bapak anak yang semuanya dokter spesialis ortopedi. (Foto: Wahyu Adji)
KELUARGA-KOLEGA: Dari kiri, dr Ade, dr Jufri, dan dr Ariya, bapak anak yang semuanya dokter spesialis ortopedi. (Foto: Wahyu Adji)

Kolaborasi di Rumah hingga Ruang Operasi

 

Berbagi nama belakang yang sama, tiga dokter ortopedi di Kediri ini jauh lebih dekat dibanding sekadar kolega. Dokter Dekonanda Jufri Nasution tak pernah menduga kedua putranya akan mengikuti jejaknya. Menjadi dokter spesialis ortopedi yang berkarir di Kediri.

 

Dokter Ariya Maulana Nasution, Sp. OT baru saja keluar dari ruang operasi saat menemui Jawa Pos Radar Kediri. Ariya dikenal sebagai salah satu dokter spesialis ortopedi di Kediri.

Karir yang tak lepas dari pengaruh sang ayah yang juga dokter spesialis ortopedi. Menariknya, Ariya juga punya seorang adik bernama dr Ade Yahya Nasution, yang juga spesialis ortopedi.

Tumbuh dengan menyaksikan perjalanan karir sang ayah dari dokter umum hingga sekolah lanjutan sebagai dokter spesialis berperan besar membentuk persepsinya terhadap profesi ini. Sampai-sampai dia memutuskan mengikuti jejak yang sama: mengambil bidang spesialis yang tergolong minim peminat. 

Baca Juga: Bintang Persik Kediri Ezra Walian Menghilang, Jalani Pemulihan dengan Dokter di Luar

“Memang berat sekolah spesialis, tapi saya lihat bidang ortopedi itu banyak orang yang butuh,” sambung Ariya.

Selain karena kebutuhan dokter ortopedi yang besar, motivasinya memilih bidang kedokteran ini juga karena alat-alatnya yang semacam ‘alat pertukangan’. Mulai dari palu, bor, hingga tatah yang biasa ditemui di setiap ruang operasi.

Sesuatu yang cukup dekat dengan cita-citanya dulu sebagai seorang arsitek. 

“Saya dulu S1-nya sempat daftar arsitek, sudah keterima juga. Karena saya suka menggambar. Tapi dalam ortopedi pun itu ternyata juga arsitek banget. Misalnya, kita mau operasi patah tulang, nggak mungkin asal sambung,” bebernya sembari menyebut, ada seni perhitungan terhadap ‘struktur’ hingga fungsi tiap unsur alat gerak yang juga dia temui di dunia ortopedi.   

Meski terjun di dunia yang sama dengan sang ayah, dia mengaku tak ada arahan maupun paksaan. Sejak masih sekolah, dia dan adiknya diberi kebebasan mau menjadi dokter apapun.

Baca Juga: Sosok Taufan Hidayat: Dokter, Peternak, dan Pemegang Lisensi Impor Domba Australia

“Waktu koas atau dokter muda itu mulai ada ketertarikan mengambil bidang ini,” aku dokter berusia 37 tahun itu.

Senada dengan Ariya, dr Dekonanda Jufri Nasution, sang ayah, mengaku tak pernah mengarahkan kedua anaknya menjadi dokter spesialis ortopedi. Bahkan dengan jam kerja yang hampir selalu berakhir malam hari, dia tak menyangka kedua putranya memutuskan mengambil jalan yang sama.

“Karena yang namanya ortopedi pasti nggak bisa pulang cepat, mesti malam. Dan anak-anak sudah tahu, seperti inilah pekerjaan bapaknya,” ujar pria yang akrab disapa Jufri itu.

Di rumah, Jufri adalah ayah dari Ariya dan Ade. Namun di rumah sakit, hubungan itu sedikit berubah.

Mereka bertiga berdiri sebagai dokter dan sesama kolega. Bisa jadi rekan diskusi, bahkan juga rekan ‘debat’ saat terjadi perbedaan pendapat soal kasus medis tertentu. 

“Dalam sistem kedokteran itu sesama ortopedi tidak ada senior-junior, tapi kolega. Dikatakan senior mungkin sebatas lama kerja saja. Mungkin yang junior lebih pintar, bisa saja, karena ambil sub-spesialisasi. Kalah bapaknya,” kelakarnya. 

Baca Juga: 5 Kampus Kedokteran Terbaik di Indonesia, Pilihan Terbaik untuk Kamu yang Bercita-cita Jadi Dokter!

Tak seperti dia, anak-anaknya memang memutuskan lebih memperdalam lagi keilmuannya dengan mengambil sub-spesialis. Misalnya, Ariya, sulungnya, yang mengambil sub-spesialis tulang panggul dan paha.

Serta Ade, bungsunya, yang berencana mengambil sub-spesialis tulang belakang. 

Meski terlihat sama, namun ketiganya punya sejumlah perbedaan. Termasuk almamaternya yang juga berbeda. Hal itu tak jarang memicu dasar pertimbangan yang berbeda.

Alih-alih jadi alasan pemecah, justru membuat ketiganya semakin kaya gagasan. Itu dibutuhkan saat mereka terjebak dalam perdebatan soal kasus medis tertentu atau pasien yang ditangani. 

“Kalau debat, sering. Saya sama Ade yang sering debat. Kadang juga saya sama dr Ade diskusi, ini patahnya gini, enaknya operasi yang bagaimana. Itu yang cukup sering,” kata Ariya menimpali. 

Baca Juga: Dokter di Kediri Menyaru Polisi, Tipu Calon Bintara, Ini Kerugian Yang Dialami Korban!

Relasi yang dekat sebagai keluarga kandung juga memudahkan mereka ketika harus dihadapkan situasi medis yang sulit. Tak jarang mereka kolaborasi di ruang operasi.

“Kalau yang (kasus) sulit misalnya seperti kemarin operasi patah empat. Ya udah, main bareng kita di ruang operasi. Dokter Ade main yang atas, saya yang bawah. Jadi ditangani bareng,” sambung Ariya lagi.

Menurut Jufri, berdebat dalam keilmuan itu sah-sah saja. Bahkan, tak jarang saling konsultasi soal kasus medis kerap berlanjut hingga di rumah. Atau, saat pertemuan keluarga yang rutin digelar setidaknya seminggu sekali.

“Kasus itu macam-macam. Satu kasus bisa tiga opini. Tapi semua benar, nggak ada yang menyesatkan. Karena niat kita kan baik, membantu, menolong, merawat, dan menyembuhkan. Nggak ada yang lain,” beber pria yang berdomisili di Kelurahan/Kecamatan Mojoroto Kota Kediri itu.

Terlepas dari itu, Jufri dikenal sebagai dokter senior yang supel, humoris, serta family man. Peringai itu pula yang banyak diteladani anak-anaknya. Salah satunya oleh dokter Ade.

Baca Juga: Atasi Kelangkaan Dokter Spesialis, CakraHealth Hadirkan Ekosistem Manajemen Kesehatan Terintegrasi

“Papa itu sosok yang giat sekali untuk kelurganya. Itu yang membuat saya pengen mengikuti semangatnya,” ungkap Ade.

Sampai sekarang, quality time bersama keluarga tetap wajib. Di tengah berbagai kesibukan, mereka tetap mengupayakan berkumpul setidaknya sekali seminggu.

Sesederhana makan siang bersama anak-anak dan cucu sudah cukup bagi dokter Jufri dan istri. 

Meski tak pernah mengatur keputusan hidup sang anak, dokter Jufri tetap menekankan satu hal kepada anak-anaknya.

Ada tanggung jawab besar yang diemban sebagai dokter maupun sebagai anak. Yakni, menjaga nama baik keluarga dan institusi kedokteran.

“Saya nggak mau ngatur. Saya cuma ngasih filsafah saja. Kamu besok masih lama, saya sudah lewat masanya. Ya, besok kalian tugasnya menjaga. Jaga nama baik saya, kakak-adik, rumah sakit,” pesan dokter Jufri. (fud)

 

Editor : Ayu Ismawati
Sumber : Radar Kediri
dokter ortopedi dekonanda jufri nasution ariya maulana nasution ade yahya nasution kedokteran