Bukan Sekadar Benda Tua: Menelusuri Cerita di Balik Koleksi Museum Sri Aji Joyoboyo

Shinta Nurma Ababil • Dipublikasikan Jumat, 2 Oktober 2026 | 17:11 WIB
Ikonik utama kepala Budha Bodhisattva
Ikonik utama kepala Budha Bodhisattva

JP Radar Kediri - Memasuki area Museum Sri Aji Joyoboyo, pengunjung terlebih dahulu disambut petugas administrasi. Sebelum melangkah kaki lebih jauh, pengunjung dipersilahkan mengisi data diri sebagai bagaian dari pencatatan kunjungan.

Di area luar museum, sejumlah informasi juga terpampang. Berbagai larangan dan perintah disampaikan sebagai ketentuan yang perlu diperhatikan sebelum memasuki ruang museum. Ketentuan tersebut menjadi pengingat bahwa museum bukan sekadar tempat untuk meihat benda-benda lama.

Baca Juga: Larikan Arca Durga ke Museum Sri Aji Jayabaya Kabupaten Kediri

Di dalamnya terdapat berbagai koleksi yang perlu dijaga dan diperlakukan dengan baik. Setelah menyelesaikan proses administrasi, pengunjung dapat memasuki ruang museum dan mulai melihat berbagai peninggalan yang tersimpan di dalamnya.

Museum Sri Aji Joyoboyo berada di kabupaten kediri, tepatnya di kecamatan Pagu. Museum ini berkaitan dengan peninggalan Sejarah yang ditemukan di wilayah kabupaten kediri, dengan koleksi yang didominasi arca bercorak Hindu-Budha.

Museum ini baru didirikan pada 2026, sementara sejumlah arca yang menjadi koleksinya ditemukan dalam rentang waktu 2019.

Baca Juga: Museum Sri Aji Jayabaya Kediri, Menjadi Salah Satu Destinasi Wajib Bagi Para Pengunjung!

Ari sebagai salah satu pemandu museum mengatakan terdapat satu benda yang langsung menarik perhatian karena ditempatkan di bagian Tengah museum. Sebuah kepala arca Buddha Bernama Bodhisattva berdiri menjadi salah satu koleksi ikonik di Museum Sri Aji Joyoboyo.

"Ada yang menjadi masterpiece, Kepala Buddha Bodhisattva ini yang pertama kali ditemukan di sekitar candi adan-adan, kita temukan tahun 2019 waktu kita penelitian di sana" Ujar Ari.

Arca tersebut hanya berupa bagian kepala. Bagian tubuhnya hingga kini belum ditemukan. Meski tidak lagi memiliki bentuk utuh, kepala Bodhisattva tersebut tetap menjadi salah satu koleksi yang mencuri perhatian pengunjung.

Penempatannya di bagian Tengah museum membuat koleksi tersebut seolah menjadi salah satu titik perhatian utama Ketika pengunjung mulai menjelajahi ruang museum.

Baca Juga: Penataan Museum Sri Aji Jayabaya Kediri Berlanjut, Akhir Tahun Ini Rencana Masuk Tahap Kedua

Dari satu koleksi, perjalanan kemudian berlanjut menuju arca lainnya. Salah satunya yang di sebut catur muka yang ditempatkan Bersama sejumlah koleksi arca lain.

Ari menjelaskan bentuknya memperlihatkan sosok Dewa Siwa dengan empat wajah pada bagian kepalanya. Keberadaan arca tersebut menjadi bagian dari Kumpulan peninggalan yang memperlihatkan jejak kebudayaan Hindu-Buddha di wilayah Kabupaten Kediri.

"Catur muka ini jadi masterpiece kedua, bisa di bilang langka juga di Indonesia. Karena kan biasanya catur muka itu identik dengan Brahma, tapi di sini ketemunya Dewa Siwa, karena di bagian kepala itu ada hiasan kayak tengkorak menggigit bulan." Tambah Ari

Tidak semua koleksi museum berbentuk arca. Di bagian ruangan lain, pengunjung dapat menemukan pipisan. Benda tersebut memiliki bentuk yang sederhana jika dibandingkan dengan arca-arca yang memiliki bentuk figurative. Namun, kesederhanaan bentuknya menyimpan fungsi yang tidak kalah menarik.

Pipisan digunakan sebagai alat untuk menghaluskan berbagai bahan. Dalam penggunannya, bend aini dapat digunakan untuk menghaluskan ramuan obat, makanan, hingga cat merah atau okar yang digunakan untuk keperluan ritual.

Dari sebuah benda yang tampak sederhana, pengunjung dapat melihat Gambaran mengenai aktivitas dan kebutuhan masyarakat pada masa lalu.
Keberadaan arca Bodhisattva, Arca Brahma, hingga pipisan menunjukkan bahwa koleksi museum tidak hanya berbicara mengenai bentuk benda.

Baca Juga: Kunjungan Museum Sri Aji Jayabaya Membeludak, Dalam Sebulan Catatkan Lebih dari Seribu Pengunjung

Setiap peninggalan memiliki cerita dan fungsi yang berkaitan dengan kehidupan pada masa Ketika benda tersebut digunakan.

Benda-benda tersebut kini memang tidak lagi digunakan sebagaimana fungsinya pada masa lalu. Mereka berada di balik ruang museum, diam dan tidak bergerak. Namun, keberadaannya menjadi penghbung antara masa lalu dan masa kini.

Melalui koleksi yang tersimpan, pengunjung dapat mengenali Sebagian jejak Sejarah dan kebudayaan yang pernah berkembang di wilayah kabupaten kediri.
Museum Sri Aji Joyo Boyo pada akhirnya bukan sekadar ruang untuk menyimpan benda-benda tua.

Di balik setiap arca dan benda peninggalan yang dipamerkan, terdapat cerita mengenai masa lalu yang masih dapat dipelajarihingga sekarang. Bagi pengunjung, perjalanan menyusuri museum bukan hanya tentang melihat koleksi, tetapi juga tentang mencoba memahami cerita yang ditinggalkan oleh benda-benda tersebut.

Penulis: Afif Muthoharoh

Kampus: UIN Syekh Wasil

Editor : Shinta Nurma Ababil
museum sri aji joyoboyo bodhisattva kabupaten kediri arca sejarah