Mengenal Komunitas Oleng-Oleng Indonesia dan Keteguhannya Mengadvokasi Pelestarian Sumber Air

Ayu Ismawati • Dipublikasikan Selasa, 22 September 2026 | 10:02 WIB
Komunitas Oleng-oleng Indonesia saat mengikuti apel sebelum aksi lingkungan. (Foto: Dok. Oleng-Oleng Indonesia)
Komunitas Oleng-oleng Indonesia saat mengikuti apel sebelum aksi lingkungan. (Foto: Dok. Oleng-Oleng Indonesia)

Sering Dijuluki Preman karena Suarakan Pelestarian Alam

Bergerak di jalur advokasi memang tak selamanya banjir dukungan. Tak jarang, penolakan hadir hanya karena menyuarakan hal yang belum menjadi kepentingan mayoritas. Jalan terjal itu pula yang kerap dihadapi Komunitas Oleng-oleng Indonesia. 

AYU ISMA, Kabupaten, JP Radar Kediri

Komunitas ini lahir dan dibentuk oleh sekumpulan orang Kediri. Tepatnya dari Desa Tunge, Kecamatan Wates. Berawal keprihatinan melihat sumber air yang dibangun menjadi tempat wisata tanpa mempertimbangkan kelestariannya, mereka pun sepakat membentuk paguyuban pada 2020 lalu.

“Sejak awal kami sebenarnya tidak anti dengan wisata alam yang berbasis di sumber atau sungai-sungai. Tetapi dengan syarat harus memelihara kelestariannya,” ujar Koordinator Komunitas Oleng-oleng Indonesia Heri Dwikoryantoko.

Baca Juga: Hery Susanto, Perangkat Desa di Kediri sekaligus Relawan Penggerak Pelestarian Hutan dan Sumber Air yang Tetap Kukuh di Jalan Konservasi meski Kerap Ribut dengan Warga

Kenyataannya, banyak sumber air yang dirombak dengan mengabaikan regulasi dari dinas pekerjaan umum maupun dinas lingkungan hidup.

Misalnya, pohon-pohon penyangga sumber air ditebangi untuk kepentingan wisata. Atau, mendirikan bangunan permanen di sekitar mata air. Hal inilah yang berseberangan dengan prinsip pelestarian alam dan ditentang para pegiat lingkungan itu. 

Masifnya alih fungsi kawasan sumber air—khususnya di desa-desa di Kabupaten Kediri—mendorong para relawan ini menjalankan advokasi. Dalam perjalanannya, aksi nyata seperti menanam pohon dan memelihara sumber air jadi rutinitas mereka.

Berawal dari satu sumber air di Kecamatan Wates, hingga kini Oleng-oleng sudah mengadvokasi lebih dari 40 titik sumber air di Kabupaten Kediri dan sekitarnya. 

“Waktu itu tujuan kami adalah bagaimana membantu melengkapi apa yang tidak bisa dilakukan oleh dinas karena mungkin keterbatasan tenaga, waktu, atau ketidaktahuan itu sendiri. Otomatis kalau begitu kan tugas kami mendorong dinas-dinas untuk melakukan kewajibannya,” tandas pria kelahiran 1965 itu.

Baca Juga: Meneropong Aksi Pelestarian Alam Para Leluhur melalui Prasasti Lucem

Heri menilai, pengrusakan lingkungan tak serta merta karena kesengajaan. Melainkan bisa juga karena ketidaktahuan masyarakat imbas terbatasnya pendampingan dan sosialisasi.

Karena itu, menurutnya penting bagi pemerintah desa maupun daerah untuk mengedukasi masyarakat agar peduli dengan pelestarian lingkungan. 

Saat ini, Komunitas Oleng-oleng Indonesia punya sekitar 35 anggota aktif. Mereka juga berasal dari latar belakang yang beragam.

Mulai dari petani, buruh tani, kuli bangunan, guru, hingga penyuluh pertanian. Perbedaan itu disatukan oleh misi yang sama; menggaungkan semangat pelestarian alam, khususnya sumber air. 

Dengan berbekal semangat itu, mereka terus belajar tentang jenis-jenis pohon dan karakternya. Termasuk pohon apa yang cocok ditanam di kawasan sumber air.

Hanya saja, kendala muncul saat para relawan ini tak punya dukungan pembiayaan sama sekali. Melainkan hanya dari keuangan masing-masing anggota.

Baca Juga: Mainkan Wayang ‘Hantu’, Komunitas Kampung Dongeng Kediri Kampanyekan Pelestarian Lingkungan lewat Cerita Seru

“Kami ya berpikir untuk pengadaan, dana saka ngendi (dari mana)? Ya, urunan. Setiap bulan kami rapat untuk evaluasi sekaligus urunan untuk beli polybag, media tanah, cari benih atau bibit untuk dibesarkan. Dan saat menanam pun kami hati-hati. Tidak akan menanam yang masih pendek di bawah 1,5 meter,” beber pria yang akrab disapa Heri DK itu.

Selain menanam dan merawat pohon, mereka juga sudah melakukan pembibitan sendiri. Itupun dilakukan di pekarangan rumah masing-masing.

Heri bersyukur, meski pembibitan dilakukan secara swadaya di rumah, hasil bibit pohon dari mereka sudah banyak ditanam hingga ke luar Kediri. Di antaranya hingga Gunungkidul, Banyuwangi, bahkan sampai ke Mamuju, Sulawesi Barat.

“Jadi setiap anggota yang punya pekarangan, entah sempit atau luas, ya wajib juga punya tanaman calon untuk untuk ditanam di hutan atau sumber. Meski di basecamp juga ada (lahan pembibitan, Red),” terang pria kelahiran Kulonprogo, Jogjakarta itu.

Baca Juga: Pelestarian Budaya di Desa Nglumbang Kediri, Hidupkan Kelompok Karawitan Anak Muda

Berjuang di jalan pelestarian lingkungan yang merupakan misi mulia ini, tak jarang membuat mereka kerap harus bersinggungan dengan masyarakat.

Konflik terjadi saat edukasi lingkungan itu berbenturan dengan kepentingan warga. Heri mengenang, pihaknya juga pernah hampir dipolisikan, semata-mata karena menyoroti penebangan pohon yang dilakukan di kawasan sumber air. 

“Kemungkinan konflik itu tetap ada. Kami memaklumi (penolakan dari warga pengelola sumber air, Red). Meski kami tidak sepakat dengan langkah yang diambil pengelola sumber air untuk wisata, tapi kami memaklumi karena mereka belum tahu,” tandas Heri.

Upaya advokasi yang mereka lakukan justru mendapat label yang kurang baik dari sebagian orang. Termasuk dijuluki semi-preman oleh pengelola wisata desa, semata-mata karena mereka menyoroti praktik alih fungsi sumber air menjadi objek wisata tanpa memperhatikan regulasi. 

Baca Juga: Matangkan Persiapan Waru Turi Fun Run 2026, Event Pertama di Kediri yang Bawa Semangat Pelestarian Lingkungan

Baginya, perspektif seperti itu menjadi bagian dari harga yang harus dibayar sebagai relawan.

“Ada yang sampai menyewa lawyer, terus Oleng-Oleng diintimidasi juga pernah. Ada juga yang mengundang dukun untuk membuka hutan, tetapi selain rituan-ritual juga mengancam kami,” kenangnya.

Bukannya surut langkah, hal seperti itu justru menjadi pendorong bagi anggota untuk saling menyemangati. Namun di sisi lain, tak dimungkiri ketakutan juga kerap dirasakan beberapa anggota. 

Karenanya, ke depan dia berharap pemerintah bisa hadir membersamai perjuangan para relawan seperti mereka. Di antaranya dengan gencar mengedukasi warga serta menerapkan regulasi yang mengikat tentang pelestarian alam. 

“Kami berharap bisa ada perda (peraturan daerah, Red) di Kediri yang benar-benar bisa melindungi sumber air dengan, misalnya, menentukan batas-batas di setiap sumber air,” harapnya.

Baca Juga: Kontingen Dinas Kesehatan Kota Kediri Tampil Memukau di Dhoho Night Carnival, Bawa Pesan Pelestarian Lingkungan dan Ajakan Menjaga Kesehatan Jantung

Dengan begitu, konflik terkait batas wilayah di sekitar sumber air bisa diminimalisasi. Kebijakan itu juga diharapkan bisa menjadi dasar hukum yang kuat dalam melindungi setiap upaya pelestarian alam.

Termasuk mencegah terjadinya konflik yang tidak diperlukan. (ut)

Editor : Ayu Ismawati
Sumber : Radar Kediri
pelestari lingkungan oleng-oleng indonesia komunitas lingkungan hidup relawan