Anak Penjahit yang Pernah Gagal Seleksi Bintara
Dia datang dari kampung di kaki Gunung Muria. Datang dari keluarga yang sederhana. Motivasinya yang tinggi-tidak kapok meski pernah gagal-adalah jalan menjadi seperti sekarang ini, memimpin Polres Kediri.
ASAD M. S., Kabupaten, JP Radar Kediri
“Kalau sekali gagal lalu berhenti, mungkin saya tidak akan pernah sampai di titik ini,” katanya, mengawali perbincangan.
Sosok yang berucap itu adalah seorang polisi berpangkat ajun komisaris besar polisi (AKBP). Namanya Muhammad Wahyudin Latif.
Ada sederat gelar akademis yang menghiasi nama itu, baik di depan maupun belakang.
Bila ditulis lengkap, maka namanya adalah AKBP Dr Muhammad Wahyudin Latif SH SIK MSi.
Tentu saja semua gelar yang dia dapatkan tidak diraih dengan mudah. Kalimat di awal tulisan ini menjadi penegasnya.
Kegagalan juga menghiasi perjalanan hidupnya. Yang membedakan adalah, perwira yang kini memimpin Polres Kediri ini tidak pernah menyerah.
“Saya dari dulu diajari orang tua untuk berjuang. Kalau gagal, ya dicoba lagi,” tegasnya.
Latif, demikian sapaannya, lahir di kampung yang ada di kaki Gunung Muria, Kudus, Jawa Tengah.
Lahir dari keluarga sederhana. Ayahnya guru sekolah dasar (SD). Sedangkan ibunya berjualan pakaian dari pasar ke pasar.
“Ibu itu konveksi rumahan. Pakaian yang dibuat dititipkan di pasar,” kenangnya.
Di ruangan kerjanya yang sekarang dia menerawang kembali masa-masa itu. Masa-masa penuh perjuangan.
Kondisi keluarga yang seperti itu membuat AKBP Latif terbiasa membantu ibunya berdagang.
Bahkan, hal seperti itu sudah dia lakukan sejak SD. Pagi sampai siang bersekolah.
Di waktu lain dia ikut membawa dan menjajakan pakaian dagangan sang ibu.
“Saat SD dulu saya sekolah pakai sandal jepit,” kenangnya.
Saat SMP, dia diberi tanggung jawab lebih besar. Diminta mengelola bisnis kecil sang ibu.
Menghitung kebutuhan bahan, menyiapkan kain, hingga memastikan benang dan kancing ada.
“Dari situ saya belajar tanggung jawab. Mulai dari hal sederhana membantu ibu,” ujar perwira berpangkat dua melati emas di pundak itu.
Di keluarga Latif tidak ada seorang pun yang menjadi polisi, ataupun tentara.
Kebanyakan bahkan menjadi petani. Keinginannya menjadi polisi dipantik oleh semangat ingin memiliki pekerjaan yang lebih pasti.
Sekaligus mengangkat kondisi ekonomi dan martabat keluarga.
Maka, ketika sudah kelas 3 SMA, dia pun mencoba mendaftar polisi. Saat itu dia ikut seleksi masuk bintara Polri. Sayangnya, dia gagal menembus sederet tes.
Tapi, Latif tak kapok. Dia juga tak langsung berkuliah. Melainkan memilih rehat setahun.
Membantu orang tua sembari mempersiapkan diri mendaftar jadi anggota polisi lagi.
“Saya fokus bantu ibu. Satu sisi agar punya waktu mempersiapkan diri (mengikuti seleksi Polri),” ujarnya.
Beberapa bimbingan belajar dan les pun dia ikuti. Tujuannya agar memperbesar peluang di seleksi berikutnya.
Akhirnya, waktu yang ditunggu pun tiba. Dia kembali mendaftar menjadi anggota polisi.
Kali ini bukan seleksi calon bintara yang dia tuju melainkan justru langsung mendaftar akademi polisi (Akpol).
Sebenarnya, selain mendaftar Akpol, Latif juga mendaftar di sejumlah sekolah kedinasan.
Beberapa di antaranya punya peluang yang besar diterima. Namun, kata hatinya tetap memilih Akpol.
Lebih-lebih, restu orang tua juga mengarah ke hal yang sama. Singkat kata, dia pun diterima dan lulus Akpol pada 2006.
Dari sandal jepit di SD, pasar tempat membantu ibunya berdagang, kegagalan seleksi Bintara, hingga akhirnya menembus Akpol.
Jalan itu menjadi fondasi perjalanan panjang Latif sebelum satu per satu amanah kepolisian datang kepadanya.
Usai lulus Akpol, ia mengawali karir di Polda Bali. Tugas awal di Polres Gianyar, Kanit Reskrim Polsek Ubud, hingga berpindah ke sejumlah wilayah.
Pengalaman demi pengalaman membentuknya sebagai polisi yang tidak hanya berhadapan dengan perkara hukum tetapi juga karakter masyarakat yang berbeda-beda.
Perjalanan kariernya kemudian membawanya ke Jawa Timur. Ia pernah dipercaya menjadi Kasat Reskrim Polres Banyuwangi, Kasat Reskrim Sidoarjo, Kasat Reskrim Tuban, hingga sejumlah posisi di Ditreskrimsus Polda Jatim.
Baca Juga: Wisnu dan Latif Pimpin Kediri Raya, Menanti Sepak Terjang Dua Kapolres Anyar!
Pengalaman penanganan perkara korupsi, lingkungan, kehutanan, hingga berbagai tindak pidana menjadi bagian dari perjalanan tersebut.
Misalnya, saat bertugas di Sidoarjo, ia terlibat dalam pengungkapan sejumlah kasus pengiriman ilegal benih lobster.
Pengungkapan tersebut mendapat penghargaan dari Susi Pudjiastuti, yang saat itu menjabat Menteri Kelautan dan Perikanan.
Pengalaman panjang itu terus berlanjut hingga ia mendapat kesempatan bertugas di Bareskrim.
Di sana, ia terlibat dalam penanganan perkara lingkungan dan kehutanan, termasuk pengungkapan dugaan penggunaan kawasan hutan untuk perkebunan ilegal di sejumlah provinsi serta kasus pembalakan liar.
Sebelum dipercaya memimpin Polres Kediri, Latif terlebih dahulu mendapat amanah sebagai Kapolres Probolinggo. Kini, sejak Juli 2026, ia memimpin Polres Kediri.
Namun, bagi Latif, perjalanan itu bukan sekadar soal pangkat dan jabatan.
Ada pelajaran yang terus dibawa dari rumah masa kecilnya. Tidak menyerah ketika gagal dan selalu berusaha memperbaiki keadaan.
Ditambah, adanya dukungan keluarga khususnya istri dan tiga orang anak yang selalu menjadi motivasi.
Mampu menambah semangat untuk bekerja lebih baik lagi. Juga agar bermanfaat bagi masyarakat.
"Semua orang punya hak dan kesempatan yang sama untuk menjadi anggota dan meniti karir di Polri. Tidak melihat dia orang tidak punya, orang dari kampung ataupun lainnya. Semua punya hak dan kesempatan yang sama," pesannya.
Editor : Andhika Attar Anindita
Sumber : Radar Kediri