Lipsus Hari Udara Bersih Internasional (2): Polusi Bikin Penuaan Dini, Ini Kata DLHKP!

Hilda Nurmala Risani • Dipublikasikan Senin, 7 September 2026 | 23:19 WIB
Ilustrasi : Hari Udara Bersih Internasional. (Afrizal Syaiful M/JPRK)
Ilustrasi : Hari Udara Bersih Internasional. (Afrizal Syaiful M/JPRK)

 

KEDIRI, JP Radar Kediri - Polusi udara tidak hanya berdampak pada kesehatan pernapasan. Bisa juga berpengaruh terhadap kesehatan kulit. Sebab,  kulit merupakan organ terluar tubuh yang pertama kali terpapar polutan.

“Polusi udara kan banyak banget mengandung zat-zat kayak karbon monoksida, CO2, ozon, dan logam-logam berat lainnya. Kandungan zat-zat yang berbahaya itu bakal terpapar sama kulit kita," ujar dr Sarkaraning Dian Pradnya Paramitha.

Semakin sering terpapar polusi, kulit akan lebih rentan masalah. Mulai iritasi hingga dermatitis. Tak hanya itu, zat berbahaya dari polusi juga memicu stres oksidatif pada kulit.

Baca Juga: Karhutla Palangka Raya Tembus 306 Kejadian, DPRD Minta Sekolah Diliburkan Jika Kualitas Udara Buruk

“Akhirnya menyebabkan inflamasi atau keradangan. Kulit gampang kemerahan, iritasi, dan lebih cepat lebih kering,” imbuhnya.

Dampak jangka panjangnya juga tidak kalah serius. Jika kulit sering terpapar stress oksidatif maka akan memperlambat produksi kolagen kulit. Ujungnya akan mengalami penuaan dini.

Tak hanya itu, polusi juga dapat memperparah jerawat. Karena mengeluarkan lebih banyak sebum atau minyak. Juga menutup pori-pori, yang ujungnya jerawat  semakin bermunculan.

Baca Juga: Udara Dingin Karena Bediding Namun Kerja Shift Malam? Tak Usah Khawatir, Begini Rekomendasi BMKG

Oleh karena itu, untuk mengantisipasi dampak polusi, perlindungan menjadi kunci utama. Proteksi itu tidak cuma pakai sunscreen aja, tapi juga perlu pakai skincare yang mengandung antioksidan. Contohnya vitamin C, vitamin E, dan niacinamide. Yang dapat disesuaikan dengan kondisi kulit masing-masing.

Pembersihan wajah juga harus diperhatikan. Double cleansing,” saran perempuan yang akrab disapa dengan panggilan dr Mitha ini.

Selain perawatan luaar, asupan untuk tubuh juga penting. Seperti banyak mengonsumsi makanan berserat. Serta minum air dan mengonsumsi vitamin yang mengandung antioksidan.

Baca Juga: Musim Kemarau Bikin Filter Udara Motor Cepat Kotor, Ini Dampaknya pada Mesin

Lalu, seberapa parah sebenarnya kualitas udara di Kota Kediri? Meskipun berbagai proyek berpengaruh, namun pemerintah menilai masih dalam ambang batas aman. Sebab, masih banyak lahan hijau yang tersebar di Kota Kediri.

"(Banyaknya proyek) memang memengaruhi kualitas udara. Tapi masih banyak lahan hijau,” kilah Kepala Dinas Lingkungan Hidup, Kebersihan, dan Pertamanan (DLHKP) Kota Kediri Hery Purnomo melalui Kabid Penataan dan Penaatan Lingkungan Hidup Aris Mahmudin.

Aris kemudian menyodorkan data. Mereka beberapa kali melakukan uji kualitas udara.

Baca Juga: Musim Kemarau Bikin Filter Udara Motor Cepat Kotor, Ini Dampaknya pada Mesin

Parameter partikulat debu atau PM 2,5. “Artinya, uji ini dilakukan secara terus-menerus selama 24 jam di beberapa lokasi,” terangnya.

Hasilnya? Di lokasi uji pertama, di selatan Alun-Alun Kota Kediri, tercatat 18,5 mikrogram per meter kubik. Warnanya masih hijau.

“Artinya masih aman. Beda halnya jika berwarna kuning yang artinya harus waspada,” terang Aris lagi.

Kedua, Kelurahan Ngletih yang berada di area perkantoran hasilnya adalah 17,0. Memang masih bersih. Tidak ada kepadatan arus lalu lintas dan masih banyak hamparan sawah. Begitupun RTH publik maupun privat yang masih sering ditemui.

 Baca Juga: Udara Sejuk di Waru Turi Bikin Pelari Nyaman, Peserta Ingin Ikut Menanam Pohon di Waru Turi Fun Run 2026

“Ketiga, di Jalan Rinjani Kelurahan Campurejo di area transportasi baku mutu 55, hasilnya 14,0. Terakhir, Masjid Nurul Huda Kelurahan Pojok, Kecamatan Mojoroto justru  hasilnya 13,4. Artinya dari beberapa titik yang tersebar di Kota Kediri dengan baku mutu 55 masih relatif aman. Dan layak untuk kehidupan, lingkungan, kesehatan, dan lain-lain,” papar Aris.

Selain itu, Kota Kediri punya Stasiun Pemantau Kualitas Udara (SPKU) di Taman Ngronggo. Fasilitas itu merupakan bantuan dari Kementerian pada 2025.

Meskipun demikian, Aris mengakui bila RTH di Kota Kediri belum memenuhi ketentuan 20 persen. Sebab, sekarang penghitungannya tak lagi memasukkan lahan pertanian pangan berkelanjutan.

Baca Juga: Udara Sejuk di Waru Turi Bikin Pelari Nyaman, Peserta Ingin Ikut Menanam Pohon di Waru Turi Fun Run 2026

"Selama masih ada pembangunan jalan tol juga berpengaruh. Mungkin kalau selesai tentunya buffer zone atau wilayah penyangga kanan kirinya tol bisa ditanami tanaman untuk mendukung RTH," terangnya sembari menyebut jika RTH di Kota Kediri dibawah 15 persen.

Di lain sisi, pengamat lingkungan Kediri Agus Muji Santoso menyebut kualitas udara di Kota Kediri saat ini tidak jauh berbeda dengan kota-kota lain di Jawa Timur. Tantangan utama yang dihadapi sama, yaitu cuaca yang cukup ekstrem dengan suhu siang yang panas dan angin kencang yang mempengaruhi kualitas udara di sekitar.

"Jadi kondisi saat ini di Kota Kediri maupun di kota-kota lain itu sama tantangannya. Tantangannya yaitu cuaca yang lumayan ekstrim, siang panas, anginnya kencang itu juga memengaruhi kualitas udara yang ada di sekitar," ujar pria yang akrab disapa Muji itu.

Dengan kondisi panas tersebut, partikel-partikel seperti debu dan partikel halus lainnya mudah cepat kering. Apalagi ditambah dengan angin yang luar biasa. Sehingga wajar  apabila pengukuran kualitas udara di Kota Kediri dan bahkan umumnya di Jawa Timur  relatif menurun.

Baca Juga: Udara Sejuk di Waru Turi Bikin Pelari Nyaman, Peserta Ingin Ikut Menanam Pohon di Waru Turi Fun Run 2026

Merujuk data yang dirilis DLHKP Kota Kediri, kualitas udara dalam 4 tahun terakhir memang cenderung fluktuatif. Pada 2021 hingga 2024 mengalami kenaikan. Berbeda halnya dengan 2025 yang mengalami penurunan. 

“Turun ya wajar karena memang iklim. Juga adanya kebijakan pemerintah terkait dengan pembangunan pusat atau daerah," beber pria yang juga menjadi wakil rektor 3 serta dosen jurusan biologi di UNP itu.

Untuk kategori umum, kualitas udara masih dalam kondisi sehat. Tapi untuk beberapa kategori dengan eksepsiun tertentu ini harus pakai masker.

Salah satu parameter yang tinggi adalah PM 2,5. "Contoh sederhana saja ya, partikel yang sempat terukur itu kan PM 2,5 itu kan sampai 31 mikrogram per meter kubik, itu cukup tinggi di tempat kita,” ujarnya. Sementara itu parameter lain seperti CO, SO2, dan NO2 masih dalam batas aman.

Baca Juga: Perkiraan Cuaca Kediri Hari Ini 10 Maret 2026: Kompak Hujan Ringan, Cek Suhu Udara di Kota dan Kabupaten

Ditanya adalah faktor lain yang mengakibatkan kualitas udara turun selain cuaca ekstrem, Muji menyebut kepadatan kendaraan dan industri juga turut memberi berpengaruh. Hanya saja kontribusi sampai saat ini belum benar-benar terhitung secara pasti.

Namun yang pasti dia menyarankan beberapa hal untuk dilakukan. Diantaranya memakai masker. Juga dengan memperbanyak tanaman penyerap polutan. "Bisa dengan memperbanyak tanaman sansevieria, lidah mertua, kemudian menanam tanaman-tanaman penyerap polutan ya. Juga perbanyak tanaman yang menyerap CO dan CO2 tinggi seperti trembesi, pohon angsana atau pterocarpus indicus, dan sejenisnya,” pungkasnya.

Editor : Andhika Attar Anindita
Sumber : Radar Kediri
hari udara bersih bikin penuaan dini dlhkp proyek kota kediri