Warga dan Masyarakat Lintas-Komunitas Jaga Wisata Kali Bening Ngancar Tetap Konsisten di Jalur Ekologis
Tak banyak wisata alam yang konsisten di jalur ekologis ketika namanya semakin hits. Namun di Wisata Kali Bening Ngancar, pelestarian alam tetap menjadi prioritas. Warga dan masyarakat lintas-komunitas berjuang menjaga kelestarian alam di tengah keberadaannya yang sedang naik daun.
Seperti akhir pekan sebelum-sebelumnya, aliran sungai di tengah ladang tebu itu dipadati pengunjung. Ada yang mendirikan tenda. Ada yang sekadar menggelar tikar. Duduk bersantai bersama keluarga dan teman.
Bersantai di tempat ini memang menyenangkan. Apalagi setelah berjalan melintasi jalan di tengah ladang tebu yang gersang dan kering. Begitu memasuki kawasan ini seketika udara dingin menyeruak.
Pohon-pohon rindang jadi kanopi panasnya hari. Tak jauh dari tempat pemberhentian terakhir untuk kendaraan, air sungai yang jernih langsung menyambut. Alirannya meliuk-liuk di antara tanah berumput.
Baca Juga: Razia Hilang, Penambang Pasir Ilegal di Sungai Brantas Kediri Datang Lagi, Ini Kata BBWS!
Namanya Kali Bening Ngancar. Berada di Desa Kunjang, Kecamatan Ngancar. Destinasi wisata ini viral baru-baru ini. Suasana alam yang asri dengan aliran sungai yang jernih dan dangkal cocok jadi tujuan wisata murah bersama keluarga.
Terlepas dari namanya yang sedang naik daun sebagai destinasi wisata, kawasan ini tetapkan area konservasi yang harus dijaga. Di balik itu, ada sejumlah warga dan masyarakat lintas-komunitas yang bahu-membahu menata dan menjaga.
Dari yang sebelumnya lahan terbengkalai tempat peternak ngarit atau mencari pakan rumput. Sekarang menjadi salah satu penggerak ekonomi warga. Sekaligus ikon pelestarian lingkungan di Kecamatan Ngancar.
“Dulu ini tempat orang cari pakan ternak. Seiring waktu, dinamika di lapangan terus beragam. Sampai banyak juga penebangan liar di sini,” ungkap Kepala Dusun Sindurejo, Desa Kunjang Pulung Tursulawanto.
Area tersebut hampir dialihfungsikan sebagai lahan produktif pertanian. Karena tak ingin ada pembukaan lahan di sana, beberapa warga pun terdorong mempertahankan kelestariannya.
Baca Juga: Razia Penambang Pasir di Sungai Brantas Bocor? Mendadak Libur, Tim Hanya Temukan Enam Perahu!
Bahkan, mengubah lahan yang sebelumnya gersang menjadi ruang hijau yang asri.
“Karena hutannya itu gersang, mati, ada inisiatif untuk menghijaukan kembali. Itu kurang lebih sejak 2018 mulai ditanami pohon dan dikembangkan. Tapi break waktu pandemi,” beber Pulung.
Warga tak bergerak sendiri. Ada peran masyarakat lintas-komunitas. Apalagi meski dikembangkan sebagai destinasi wisata, pengelolaan kawasan tetap bertumpu pada prinsip konsevasi.
Beberapa kali pegiat lingkungan menggelar aksi bersih-bersih dan penanaman pohon. Salah satunya pada Minggu lalu (6/9), saat ratusan pegiat lingkungan dari Kediri dan sekitarnya menggelar clean up dan penanaman pohon di sana.
“Kalau dulu masih banyak perusakan lingkungan, sekarang sudah semakin peduli. Bahkan sekadar menebang ranting saja sekarang akan berurusan dengan komunitas penjaga di sini,” ungkapnya.
Meski menjadi camping ground, komunitas dan warga sangat ketat dalam membuat aturan. Salah satunya, dilarang menyalakan api unggun. Beberapa papan peringatan pun tersebar di sekitar aliran sungai yang hulunya dari Sumber Lumbu itu.
“(Selain bahaya kebakaran) apinya dikhawatirkan merusak dedaunan. Selain itu, akar pohon-pohon di sini kan juga tersebar di dalam tanah. Khawatir apinya membakar jaringan akar,” sambung Pulung.
Berkat kepedulian warga dan sejumlah komunitas, kawasan itu semakin hidup. Tak hanya menjadi ruang terbuka hijau tempat pengunjung melepas penat.
Melainkan juga jadi penyuplai oksigen bagi kawasan sekitar. Debit air sungai juga lebih stabil. Saat kemarau panjang sekalipun, seperti sekarang ini.
“Pengelolaan sementara masih dari kami para relawan peduli lingkungan dan sumber air. Tetapi pemerintah desa juga sedang menyiapkan bagaimana membuat kerangka supaya tidak terjadi konflik antarkomunitas maupun dengan warga,” terang pria yang juga anggota kelompok aktivis lingkungan hidup Oleng-Oleng Kediri itu.
Baca Juga: Mbak Wali Ikut Kerja Bakti Bersih-Bersih Sungai, Ajak Perwakilan Forkopimda Gowes ke Taman Baru
Potensi konflik tak jauh dari kepentingan ekonomi. Semakin banyak pengunjung membuat semakin banyak peluang ekonomi. Seperti dari warung-warung yang berdiri di kawasan itu sekarang ini.
“Ini sedang kami siapkan. Kami gali permasalahannya, historisnya, dan apa progresnya. Sehingga nanti bermanfaat untuk peningkatan, paling tidak pada kualitas lingkungan dan ekonomi warga,” tandasnya.
Yudianto, ketua Komunitas Jalak yang juga mengelola kawasan itu mengatakan, perubahan di kawasan itu sangat drastis. Dari yang sebelumnya pangonan atau tempat menggembala sapi dan kambing kini jadi destinasi yang sudah bisa menggaet pengunjung dari luar daerah.
“Kami ingin kawasan ini tetap asri. Makanya kami juga masih sering melaksanakan pelepasan ikan atau burung ke habitat aslinya di sini,” ungkapnya.
Baca Juga: Sungai dan Peradaban
Dia mengaku senang dengan semakin banyaknya kesadaran yang tumbuh di masyarakat. Termasuk dari anak-anak muda yang tergerak mengkampanyekan pelestarian alam. Salah satunya yang dilakukan ratusan pemuda baru-baru ini.
“Kami ingin menunjukkan ke anak-anak bahwa ada lokasi wisata yang masih alami sebenarnya, tetapi perlu penyadaran kepada pengunjung. Karena sampahnya banyak yang masih dibuang sembarangan,” ujar Endang Pertiwi, koordinator aksi clean up dan penanaman pohon di Wisata Kali Bening Ngancar, Minggu (6/9).
Membeludaknya pengunjung imbas viralnya wisata itu memang membawa problem tersendiri. Tumpukan sampah dapat dengan mudah ditemui di kawasan itu.
Dan diakuinya, risiko sampah memang belum bisa dihindari dari pengelolaan wisata. Namun, hal itu tak bisa dinormalisasi. Pengelola wisata berbasis alam maupun pengunjung harus punya kesadaran untuk memprioritaskan pelestarian alam.
“Jadi, bagi pengunjung maupun masyarakat sekitar, ayo kita bantu bersama-sama membangun kesadaran untuk mengelola sampah sendiri dan mengurangi residu,” pesan perempuan yang juga ketua organisasi pegiat lingkungan Yayasan Hijau Daun itu. (fud)
Editor : Andhika Attar AninditaSumber : Radar Kediri