Cara Unik Koperasi Merah Putih Kelurahan Ngadirejo Kediri Ubah Stigma di Masyarakat

Ayu Ismawati • Dipublikasikan Selasa, 1 September 2026 | 18:44 WIB
Para pengurus Koperasi Merah Putih Kelurahan Ngadirejo. (Foto: Ayu Isma)
Para pengurus Koperasi Merah Putih Kelurahan Ngadirejo. (Foto: Ayu Isma)

 

Pikat Pembeli, Siapkan ‘Paylater’ hingga Sayur Serba Seribu

 

Koperasi Merah Putih yang lesu darah agaknya harus belajar dari Kelurahan Ngadirejo, Kota Kediri. Berkat inovasi dan trik marketing unik yang diterapkan, mereka berhasil meraup omzet puluhan juta dalam sebulan. Capaian itu sekaligus bisa mengubah stigma koperasi yang tak laku.

 

AYU ISMA, KOTA, JP Radar Kediri

 

Di antara riuh suasana khas pasar tradisional, sebuah gerai di Kelurahan Ngadirejo, Kota Kediri cukup menarik perhatian. Pengeras suara dipasang di dekat pintu masuknya. Atau, tepat di sebelah sayur mayur yang terpajang di rak dan meja panjang.

 

Mulai dari cabai, tomat, bawang putih dan bawang merah, labu, buncis, sawi, dan lain sebagainya. Semua ditata rapi di keranjang masing-masing di lapak yang bertuliskan ‘Lapak Sayur KKMP Ngadirejo Serba Rp 1.000’.

Baca Juga: Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) Kediri Mulai Beroperasi, Produk Sembako Murah Ramai Diminati Warga

 

“Mangga, bapak ibu sayurnya serba seribu,” seru salah satu pengurus Koperasi Kelurahan Merah Putih (KKMP) Ngadirejo melalui pengeras suara.

Obral sayur segar dengan harga serba seribu itu memang jadi salah satu inovasi yang baru-baru ini diterapkan KKMP tersebut. Teknik marketing tersebut juga sempat menjadi perbincangan karena viral di media sosial. Sebagai satu dari segelintir Koperasi Merah Putih yang sudah beroperasi di Kediri, koperasi satu ini termasuk yang berkembang cukup pesat.

 

“Untuk beberapa program sebenarnya sudah kami jalankan. Seperti kalau untuk anggota itu ada bayar belakangan atau tenor untuk barang yang ada koperasi ini,” ujar Lurah Ngadirejo Heru Sugiarto.

 

Dengan konsep itu, anggota koperasi yang jumlahnya sudah sekitar 270 orang itu bisa membeli barang meski baru membayar pekan berikutnya. Atau, semacam paylater di prinsip jual beli modern.

Baca Juga: SDN Tlogo 02 Terdampak Pembangunan KDMP, Sejumlah Fasilitas Sekolah Harus Disesuaikan

 

“Tapi itu harus berkelanjutan, jadi minggu depan waktu bayar, sekalian ngambil barang lagi,” sambungnya. 

 

Heru tak menampik peran anggota yang sangat penting dalam membangun ekosistem koperasi tersebut. Dengan kekompakan dan kreativitas anggota dan pengurus, Koperasi Merah Putih itu masih bisa bertahan. Meski gerainya sendiri berada di tengah kawasan pasar tradisional. 

 

“Komoditas utama di sini sembako. Tetapi kami tetap berupaya melayani semua kebutuhan masyarakat. Mintanya apa, dan yang bisa dijual dengan murah meriah ini apa. Dan alhamdulillah dari teman-teman manajemen ini juga kompak,” ungkapnya.

 

Untuk mengenalkan program dan menawarkan produknya, beberapa kali pengurus juga membuat konten-konten di media sosial. Langkah itu dilakukan tidak hanya untuk menjangkau segmen masyarakat yang lebih luas. Melainkan juga mengubah stigma masyarakat terhadap program pemerintah—dalam hal ini, Koperasi Merah Putih.

Baca Juga: Liputan Khusus: Merasakan Berbelanja di Gerai KDMP yang Sudah Beroperasi, Sepi Pembeli tapi Klaim Omzetnya Bisa Jutaan

 

Ketua Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Kelurahan (LPMK) Ngadirejo Nungki Manumayasa tak menepis anggapan masyarakat terhadap koperasi ini yang diwarnai sentimen negatif. Karena itu, melalui pendekatan yang lebih profesional, dia ingin mengubah cara pandang tersebut. 

 

“Kami mencoba—bukan mematahkan—tetapi bagaimana pendekatannya sebagai koperasi yang benar-benar beroperasi seperti halnya manajemen profesional. Supaya kita juga bisa bersaing dengan manajemen profesional seperti swalayan bahkan pasar,” tuturnya. 

 

Lokasi koperasi yang berada tepat di tengah pasar tradisional menurutnya tidak hanya menjadi tantangan. Melainkan juga peluang untuk meningkatkan daya saing lewat berbagai program yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat. 

Selain memasang harga yang kompetitif, kerja sama dalam bentuk keanggotaan juga dilakukan untuk menghimpun sejumlah pedagang pasar tersebut.

 

“Harus kami akui memang tidak mudah. Tetapi kami yakin karena ada grow up, ada pertumbuhan. Ini yang jadi modal semangat,” tandas Nungki.

Baca Juga: Melihat Keberlangsungan KDMP di Kediri Raya (2), Ini Kata Pengamat Yang Wajib Diperhatikan Agar Koperasi Berlangsung Lama!

 

Karena sama-sama bergerak di sektor komoditas, mampu bersaing menurutnya sudah menjadi keharusan. Namun terlepas dari itu, ada satu hal yang tetap membedakan koperasi ini dengan manajemen toko-toko modern maupun pasar tradisional sekalipun. 

 

“Kelebihannya di sini karena banyak anggota, manfaatnya juga bisa dirasakan orang banyak. Bukan seperti pengusaha yang masing-masing pribadi saja mendapatkan keuntungan,” ungkapnya. 

 

Dengan berbagai terobosan yang sudah dilakukan, menurutnya dampak bagi pertumbuhan koperasi sudah cukup signifikan. Sebut saja dari program serba seribu itu, di hari pertama pelaksanaan pada Sabtu (22/8) lalu berhasil mengumpulkan omzet hingga Rp 600 ribu dalam sehari. 

Baca Juga: Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) Kediri Mulai Beroperasi, Produk Sembako Murah Ramai Diminati Warga

 

Adapun secara umum, gerai yang juga menyalurkan beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) dari Perum Bulog itu diklaim sudah bisa meraup omzet hingga Rp 86 juta dalam sebulan. Atau, sekitar Rp 40 – 60 juta di luar beras SPHP. 

 

“Kalau distribusi SPHP lancar bahkan bisa Rp 100 juta lebih. Kami sebenarnya sudah sering koordinasi, tetapi terkadang penyaluran beras SPHP ini masih sering tersendat (tidak rutin mendapat penyaluran, Red),” sambung Ketua KKMP Ngadirejo Abu Nur Arifin, soal kendala yang dihadapi saat ini. (ut)

 

 

 

 

Editor : Ayu Ismawati
Sumber : Radar Kediri
KKMP Koperasi Merah Putih pasar tradisional kelurahan ngadirejo perekonomian