Kisah Ridha Anabil Islami, Gen-Z yang Jadi Jupel Cagar Budaya Termuda di Kediri

Diana Yunita Sari • Dipublikasikan Jumat, 21 Agustus 2026 | 16:00 WIB
Ridha menunjukkan situs Petirtaan Geneng tempat ia bertugas (Diana Yunita/JPRK)
Ridha menunjukkan situs Petirtaan Geneng tempat ia bertugas (Diana Yunita/JPRK)

JP Radar Kediri - Usianya baru 22 tahun, masih disibukkan dengan jadwal perkuliahan. Namun, dia juga membulatkan tekad menekuni pekerjaan yang jarang ditekuni remaja seusianya. Menjadi juru pelihara cagar budaya.

Kolam mirip pemandian itu dikelilingi persawahan. Jauh dari hiruk-pikuk. Itu yang menjadikan suasana siang itu terasa lengang. Hanya ada beberapa kendaraan melintas. Kebanyakan adalah petani yang pulang dari sawah, menuju rumah.

Meskipun demikian, tempat ini terlihat terawat. Lokasinya diberi cungkup atau atap penutup. Kemudian, ada dua gazebo atau gubuk, untuk berteduh pengunjung. 

Baca Juga: Kisah Inspiratif : Dari Bawang Goreng, Suryani yang Disabilitas Hidupi Anaknya yang Juga Disabilitas

Gazebo itu bertiang besi dan beratap galvalum. Di salah satu gazebo itulah gadis ini bercerita, didampingi sang ayah. 

“Awalnya gak suka sejarah, dan tidak tertarik. Pas jadi jupel lama-kelamaan tertarik juga. Kalau jadi jupel masa tidak ngerti?” kata-kata meluncur dari gadis bersweater putih yang dipadu celana jeans ini. 

Perempuan berjilbab warna senada dengan pakaiannya itu adalah Ridha Anabil Islami. Dia adalah juru pelihara (jupel) cagar budaya. Lokasi yang dijaganya itu adalah Patirtaan Geneng. Lokasinya di Desa Brumbung, Kecamatan Kepung.

Baca Juga: Berawal Gambar Gunung Masa Kecil, Sosok Dedi Sasmito Telurkan Banyak Buku Penelitian Kelud

Sebagai jupel, Ridha-demikian dia biasa disapa-di bawah naungan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kabupaten Kediri. Ridha bahkan tercatat sebagai jupel termuda saat ini.

Perjalanannya menjadi jupel dimulai pada 2022. Saat dia masih duduk di bangku SMA. Ayahnya, M. Sulthon, yang meminta. Sang ayah yang kepala dusun (kasun) memintanya mendaftar karena desanya mengajukan kebutuhan tenaga untuk menjaga situs dan berbagai peninggalan bersejarah.

Awalnya Ridha kaget. Namun dia tetap mendaftar, menuruti kemauan sang ayah. Rasa penasaran perlahan membuatnya menikmati pekerjaannya itu. Mulai melakukan riset kecil. Dari internet, buku-buku bacaan sejarah, serta buku panduan yang diberikan dinas. Belajar memahami sejarah Patirtaan Geneng. 

Baca Juga: Kisah Adam Putra Destiranda, Gen Z Kediri yang Berhasil Hidupkan Wayang dan Karawitan Lewat Sanggar Seni

Patirtaan Geneng ditemukan secara tidak sengaja pada 2020. Lokasinya berada di lahan milik ayah Ridha. Tanah tersebut sebelumnya jarang ditanami karena kondisinya kering, tidak subur dan banyak gundukan.

“Waktu itu ayah berencana membuat kolam pemancingan. Saat proses penggalian, ditemukan struktur batu bata,” ceritanya.

Pemkab Kediri kemudian melakukan pengerukan menggunakan alat berat. Hasilnya, ditemukan sumber air sekaligus struktur bangunan yang diduga berkaitan dengan peninggalan masa Kerajaan Kediri. Di sekitar lokasi tersebut sebelumnya sudah sering ditemukan benda-benda bernilai sejarah.

Di antaranya Prasasti Geneng 1 dan 2, arca Kala, arca Dewa Brahma, serta arca Dwarapala. Arca-arca itu dikumpulkan dan dirawat di balai desa. Ridha dan sang ayah juga rutin membersihkan arca serta prasasti itu. Baik yang berada di Petirtaan Geneng maupun Balai Desa Brumbung.

“Seminggu sekali biasanya kami bersihkan dari lumut dan lainnya agar kondisinya tetap bagus,” katanya.

Baca Juga: Bangkit dari Lumpuh: Kisah Sobirin Disabilitas Plosoklaten yang Kerajinannya Tembus ke Inggris

Menurut Ridha, memahami sejarah membuatnya mengerti cerita-cerita masa lampau dari wilayah yang ia tinggali saat ini. Prasasti Geneng 1 contohnya, yang berasal dari masa pemerintahan Bameswara dari Kerajaan Kediri pada 1128 Masehi. Isinya antara lain berkaitan dengan kawasan Geneng yang dulu setingkat kecamatan sebagai daerah perdikan atau wilayah dengan status khusus yang bebas dari kewajiban pajak.

Petirtaan Geneng hingga kini dimanfaatkan oleh warga setempat. Bahkan pengunjung dari luar daerah, terutama umat Hindu dan Buddha. Biasanya untuk kegiatan ritual. 

Sebagian pengunjung mengambil air dari petirtaan. Ada yang meyakini air tersebut memiliki khasiat tertentu. Seperti membuat awet muda hingga membantu menyembuhkan penyakit.

Pengunjung biasanya meningkat saat akhir pekan dan hari-hari keagamaan. Ridha kerap ikut menyambut sekaligus menjelaskan sejarah situs kepada mereka.

Baca Juga: Ecoprinter Kediri Ini Bisa Jual Produknya hingga ke Finlandia, Ini Ciri Khasnya yang Menarik Bule!

“Senang kalau ada pengunjung yang jadi paham dengan apa yang kita jelaskan,” akunya.

Menjadi jupel membuat Ridha harus membagi waktu dengan kuliah. Sebab, dia masih tercatat sebagai mahasiswa semester tujuh program studi Pendidikan Ilmu Pengetahuan Alam di Universitas Islam Negeri Syeh Wasil Kediri. Toh, dia tak merasa keteteran. Ketika ada jadwal kuliah tugas menjaga petirtaan dibantu ayahnya. Selain di petirtaan ia juga bertugas di Museum Sri Aji Jayabaya pada akhir pekan.

Meski kuliahnya di bidang Pendidikan IPA, Ridha justru semakin menikmati dunia sejarah. Di sela waktu senggang, dia kerap membaca berbagai cerita sejarah Kediri. Bahkan, jika suatu saat ayahnya pensiun, Ridha mengaku siap meneruskan tugas sebagai jupel Petirtaan Geneng.

“Ingin, ingin meneruskan jadi jupel tetap di sini,” pungkasnya.

 

 

Editor : Mahfud
Sumber : Radar Kediri
petirtaan geneng kabupaten kediri kecamatan kepung juru pelihara candi Gen Z