
Suryani dan Mariyanto bersama anak bungsunya di rumahnya yang berada di Kelurahan Pakunden, Kecamatan Pesantren, Kota Kediri. (Foto: Ayu Isma)
Ini bukan kisah tentang pengupas kulit bawang yang penghasilannya fantastis. Ini cerita tentang Suryani, penyandang disabilitas yang menekuni bisnis bawang goreng. Mempertahankan asap dapurnya tetap mengepul, tentu dengan segala suka dan dukanya.
Dapur itu tak luas. Hanya selebar dua meter. Itupun penuh dengan kompor dan perkakas.
Di dapur itulah aktivitas ekonomi keluarga ini berdenyut. Mengupas, mengiris tipis, dan menggoreng bawang merah. Hingga mengemasnya dalam berbagai ukuran dan wadah. Ada yang bertoples, ada pula yang dikemas dalam plastik berklip.
Seorang pria terlihat sangat sibuk. Memasukkan irisan bawang merah ke genangan minyak di wajan. Kemudian mengaduknya pelan. Dilakukannya beberapa kali secara periodik.
“Agar tidak gosong,” ucap lelaki bernama Mariyanto itu.
Kala sudah dirasa matang, irisan-irisan tipis itu diangkat. Dimasukkan ke toples plastik. Bukan sembarang toples, benda ini adalah peralatan rakitan yang digabung dengan mesin kipas angin. Menjadi spinner alias peniris minyak.
Baca Juga: Bangkit dari Lumpuh: Kisah Sobirin Disabilitas Plosoklaten yang Kerajinannya Tembus ke Inggris
“Saya belajarnya dari YouTube,” aku pria 44 tahun itu.
Spinner dari mesin kipas angin dan toples itu bukan satu-satunya hasil modifikasi suami Suryani ini. Ada mesin pengupas kulit bawang yang memanfaatkan mesin cuci. Juga pemotong bawang yang memanfaatkan dinamo bekas peralatan elektronik.
Pengalaman menjadi tukang servis barang elektronik memudahkannya melakukan hal itu. Menjadi peralatan penunjang produksi bawang merah rumahan. Bisnis yang dia geluti bersama sang istri.
“Asalkan ada kemauan, saya rasa pasti bisa meskipun hanya belajar dari internet,” sambung pria yang akrab disapa Manto itu.
Belum ada setahun pasangan ini memulai usaha itu. Berangkat dari dorongan ingin meningkatkan kesejahteraan, mereka memberanikan diri memproduksi bawang goreng sendiri.
Sebelumnya, Suryani hanya membantu mengemas kembali bawang goreng hasil kulakan.
“Suami akhirnya belajar sendiri otodidak. Sempat berkali-kali gagal juga sampai akhirnya bisa jadi seperti sekarang,” aku perempuan 32 tahun itu.
Baca Juga: Mahasiswa Disabilitas Rungu Unesa Raih Dua Prestasi Nasional, Usung Ekonomi Inklusif dan Budaya
Kondisi kaki membuat mobilitas Suryani tak sebebas orang lain. Setiap pagi, sang suami mengantarkannya berjualan bawang goreng di Pasar Pahing.
Saat itu, tugas merawat bungsunya—yang juga disabilitas—diambil alih suaminya. Menjelang siang, baru dia dijemput kembali untuk pulang.
“Kalau Rendy ini (anak bungsunya, Red) gangguan di tulang belakangnya. Jadi walaupun makannya melebihi orang dewasa, sulit gemuk. Tapi ini terus rutin terapi gerak. Jadi mulai bisa bergerak sendiri,” sambung Mariyanto.
Keputusan memulai usaha rumahan itu juga atas keberanian Mariyanto. Sebelumnya, dia menggantungkan hidup dengan memungut barang bekas. Hingga satu ketika, istrinya dijelek-jelekkan sesama karyawan di tempat produksi bawang merah tempatnya mengulak.
“Terus terang istri saya dihina, saya marah. Saya pun bilang ‘nggak kulakan di sana lagi nggak apa-apa’. Akhirnya saya ke pabrik lain, kulakan di sana dan mengamati cara pembuatan bawang goreng,” ungkapnya.
Dia kemudian semakin menekuni cara pembuatan bawang goreng. Termasuk merakit sendiri alat-alat produksi yang dibutuhkan. Keputusannya memulai usaha itu diawali dengan modal hasil utang sebesar Rp 300 ribu.
“Saya terus belajar sambil praktik dari lihat YouTube. Ada macam-macam tekniknya. Akhirnya saya coba semua sampai berhasil,” terang bapak dua anak itu.
Berkat kegigihannya, dia berhasil menemukan formula yang pas. Kini, dia sudah bisa konsisten memproduksi bawang merah goreng dengan jenis original maupun tepung tipis.
Usaha rumahannya pun mulai mengalami peningkatan. Dari yang sebelumnya hanya bisa memproduksi 5 kilogram bawang merah dalam seminggu, kini sudah bisa mencapai 40 kilogram bawang merah mentah yang diolah dalam seminggu.
“Semuanya saya lakukan sendiri dan otodidak. Tapi kalau produksinya banyak, terkadang dibantu tetangga untuk mengupasnya. Karena untuk jenis bawang goreng ori harus dikupas manual,” bebernya.
Selain menjual langsung di pasar, Suryani juga sudah mencoba memasarkan produknya melalui marketplace. Namun keuntungannya belum begitu signifikan bagi usaha kecilnya.
Di luar itu, beberapa kali dia mengikuti pameran yang diwadahi Dinas Sosial Kota Kediri untuk memasarkan produknya.
“Kalau hanya jualan di pasar, biasanya sehari bisa laku 6 sampai 10 kemasan,” ungkap Suryani.
Meski hanya usaha rumahan, namun pengemasan produknya sudah cukup rapi. Ada yang dikemas dalam plastik klip, ada punya yang dikemas di stoples berbagai ukuran. Semuanya dipasangi label ‘Suryani’ sebagai mereknya.
“Suryani sendiri kan artinya cahaya. Kami pengen mencerahkan yang sebelumnya gelap. Karena kalau di usaha ini, cukup banyak penjual yang bohong. Bawang goreng dicampuri ubi tapi bilangnya ori. Kalau kami murni bawang merah saja,” pungkas Mariyanto. (fud)
Editor : MahfudSumber : Radar Kediri