Hobi ‘Ngopinya’ Berbuah Prototipe Mitigasi Bencana
Selembar kertas bergambar dua gunung kembar yang dibuat Dedi Sasmito Utomo di masa kecilnya, pria asal Desa Gedangsewu Pare itu ‘jatuh cinta’ pada Gunung Kelud. Penelitiannya tidak hanya menghasilkan belasan buku. Melainkan juga karya tulis berstandar internasional.
ASAD M. S., Kabupaten, JP Radar Kediri
Membahas tentang Gunung Kelud, Dedi Sasmito Utomo yang semula kalem langsung berubah antusias.
Ditemui di SMAN 2 Pare, Senin (17/8) lalu, pria asal Desa Gedangsewu, Pare itu langsung membeber enam buku hasil karyanya yang semuanya tentang gunung. Lima di antaranya mengulik tentang Gunung Kelud.
Judul buku-buku itu memang beragam. Tapi, ada satu benang merah yang mengikatnya. Yakni tentang gunung dan kebencanaan.
Seperti buku berjudul Sejarah di Balik Terowongan Vulkanik; Kelud 1919: Blitar dalam Kepungan Lahar; Fisiografi Gunung Kelud. Ada pula Gunung Kelud: Harmoni Api dan Jejak Kehidupan Masyarakat Tradisional; serta Gunung Kelud: Sejarah Letusan dan Mitigasi Bencana Erupsi.
“Buku-buku ini sudah disetujui oleh BRIN (Badan Riset dan Inovasi Nasional). Namun, saat ini masih tahap review,” ungkap Dedi dengan senyum mengembang. Selain enam buku tentang gunung, total ada 12 buku yang sudah ditelurkannya.
Baca Juga: Sosok Amiruddin Sholeh Atlet Cerebral Palsy yang Menjuarai Berbagai Nomor Atletik
Bagi guru geografi itu, Gunung Kelud memang istimewa. Karenanya, dia rela menghabiskan waktu selama bertahun-tahun untuk menelitinya.
Perjalanannya tidak dimulai dari laboratorium, ruang penelitian, maupun tumpukan jurnal ilmiah.
Semuanya berawal dari selembar kertas gambar saat masih duduk di bangku sekolah dasar. Seperti kebanyakan anak sekolah, Dedi akrab dengan tugas menggambar pemandangan.
Dia pun menggambar gunung berdampingan. Lengkap dengan jalan yang membelah di tengahnya.
“Nggak tahu kenapa karena memang suka gunung sejak kecil,” lanjutnya.
Tak berhenti pada gambar, saat memasuki bangku kuliah, ketertarikannya kepada gunung seolah menemukan jalannya.
Dedi memilih jurusan Pendidikan Geografi di Universitas Negeri Malang di jenjang S1. Dia juga melanjutkan S2 dan S3 untuk bidang yang sama.
Baginya, gunung memang punta daya tarik yang berbeda. Selain panoramanya, gunung menyimpan proses geologi yang kompleks.
Sekaligus menjadi bagian penting dalam pembentukan bentang alam dan kehidupan manusia.
“Kalau bepergian ke alam bebas, saya lebih memilih gunung daripada pantai. Setelah belajar geografi, saya semakin paham bahwa gunung api itu prosesnya kompleks dan sangat dinamis,” ungkap pria berusia 43 tahun itu.
Ketertarikan tersebut kemudian berkembang menjadi kegemarannya mendaki.
Gunung yang semula hanya hadir dalam gambar perlahan jadi objek yang benar-benar dia datangi dan pelajari. Selanjutnya, perhatian Dedi mulai mengerucut kepada Gunung Kelud.
Bukan semata karena lokasinya dekat dengan Kediri. Melainkan karena dia menemukan banyak hal yang menurutnya menarik untuk dikaji.
“Kelud itu unik. Gunungnya tidak tinggi, tetapi daya ledaknya luar biasa. Sekali meletus dampaknya besar, sementara karakter letusannya juga relatif singkat. Tapi dampaknya juga sangat dahsyat” lanjutnya.
Dari sana, Dedi tidak hanya tertarik meneliti aspek fisik Kelud. Perhatiannya juga kepada masyarakat yang hidup berdampingan dengan gunung tersebut.
Terutama pengetahuan lokal dalam menghadapi ancaman erupsi. Dia melihat masyarakat di sekitar Kelud sebenarnya telah memiliki sistem mitigasi yang terbentuk dari pengalaman panjang.
Menurutnya, pengalaman masyarakat Kelud pada erupsi 2014 menjadi salah satu contoh penting.
Proses evakuasi berlangsung cepat dan masyarakat relatif siap menghadapi perubahan status gunung.
“Yang unik di Kelud adalah masyarakat sebenarnya sudah punya pengetahuan untuk memitigasi dirinya sendiri. Hanya saja, pengetahuan lokal itu belum terdokumentasi dan belum dijadikan satu sistem mitigasi yang bisa menjadi pedoman,” tuturnya.
Untuk membuktikannya, Dedi tidak cukup hanya membaca literas-literasi lintas generasi. Dia berkali-kali mendatangi kawasan Kelud.
Berbincang dengan warga, komunitas, hingga tokoh masyarakat.
Baca Juga: Dari Staf WO, Sosok Nur Karima Kini Jadi CEO untuk Bisnisnya Sendiri
Metodenya pun tidak selalu berlangsung secara formal. Dia memilih membaur.
Duduk di warung, membeli makanan, kemudian berbincang dengan warga.
Dari obrolan sederhana itulah, berbagai informasi dan cerita perlahan terkumpul.
“Dan itu saya lakukanbertahun-tahun,” terangnya tentang teknik pengumpulan data yang cukup lama itu.
Setiap kunjungan berubah jadi potongan informasi. Selanjutnya dia membandingkan dengan referensi sejarah, catatan ilmiah, hingga penelitian terdahulu.
“Ini bukan pekerjaan yang selesai dalam satu atau dua tahun. Setelah data terkumpul, masih harus membaca referensi, menyusun, menulis, lalu melewati proses review,” bebernya.
Kini, hasil dari perjalanan panjang itu mulai terlihat. Diawali dengan pembuatan disertasi, karya-karya ilmiah tentang gunung, juga Kelud.
Berikutnya, dia juga menelurkan buku-buku tentang Kelud yang menjadi jejak dari proses yang dimulai sejak kegemaran menggambar gunung saat kecil.
Bagi Dedi, buku-buku, paper, dan karya ilmiah tersebut bukan sekadar kumpulan tulisan.
Dia berharap pengetahuan tentang Kelud, terutama kearifan lokal masyarakat dalam menghadapi bencana, dapat menjadi pembelajaran. Bahkan contoh bagi daerah lain yang hidup berdampingan dengan gunung api.
Baca Juga: Dibalik Sosok Rodri Pemain Terbaik Piala Dunia 2026, Sosok Unik Sarjana Bisnis
Menurutnya masyarakat di sekitar gunung tidak hanya menjadi objek yang harus dievakuasi ketika bencana datang.
Namun, mereka juga memiliki pengetahuan yang terbentuk dari pengalaman panjang. Sehingga mereka bisa jadi bagian penting dalam sistem mitigasi.
“Harapannya, sistem mitigasi berbasis masyarakat di Kelud ini bisa menjadi prototype. Bukan hanya untuk Kelud, tetapi juga bisa menjadi contoh bagi gunung api lain,” tandasnya.
Karya-karya Dedi tentang kebencanaan juga tidak sedikit. Beberapa kali dia juga meraih prestasi membanggakan.
Misalnya, karya tulis Sejarah Bencana yang didapuk sebagai juara 2 oleh Badan Nasional Penanganan Bencana (BNPB) pada 2025 silam.
Kemudian, Dedi juga meraih juara 1 untuk lomba menulis artikel tentang pembelajaran kesiapsiagaan bencana pada 2019 lalu.
Dia juga mendapat penghargaan sebagai penulis buku terbaik kategori nonfiksi dalam GTK Creative Camp Jawa Timur
2021, dan banyak lainnya. Belum lagi, beberapa karya tulis yang ditulisnya juga mendapat reputasi Q1.
Alias artikel ilmiah buatannya berhasil diterbitkan dalam jurnal internasional kelas atas yang masuk kelompok 25 persen teratas.
Ada pula karya ilmiahnya yang masuk Sinta 2 atau diterbitkan pada jurnal nasional terakreditasi peringkat kedua tertinggi di sistem Science and Technology Index (Sinta).
Editor : Andhika Attar Anindita
Sumber : Radar Kediri