KEDIRI, JP Radar Kediri - Di ruang-ruang terbuka milik desa ini, gairah mendapatkan hiburan murah tersaji. Berpadu dengan gemerlap lampu warna-warni dan deretan lapak penjual makanan dan minuman. Sekadar viralitas sesaat ataukah mampu menjadi pendongkrak ekonomi rakyat
Namanya Taman Pinka. Lokasinya di Desa Susuhbango, Kecamatan Ringinrejo, Kabupaten Kediri. Berada di tepi persawahan yang juga mengalir sungai kecil yang memisahkannya dengan jalan desa. Dari kali atau sungai itulah nama Pinka lahir.
“Nama Taman Pinka diambil dari singkatan taman pinggir kali,” kata Kepala Desa (Kades) Susuhbango Siswanto, menceritakan asal mula taman itu bernama Taman Pinka.
Baca Juga: Liputan Khusus : Apa Kabar Mina Padi, Inovasi Pertanian Double Income yang Pernah Sukses di Kediri?
Sesuai namanya, Taman Pinka memang pas untuk nongki alias nongkrong. Trotoarnya luas dan dilengkapi dengan bangku-bangku tempat duduk serta ornament cantik. Sepintas mirip jalanan terkenal seperti Malioboro di Jogjakarta.
Taman Pinka semakin lengkap sebagai area nongki dengan deretan pedagang jajanan.
Belum lagi pemandangan area persawahan yang kian memikat di kala senja. Jadilah Taman Pinka menjadi magnet masyarakat sekitarnya. Menjadi jujukan ketika ingin melepas penat dengan nongkrong dan makan jajanan. Lebih-lebih, harga makanannya juga merakyat.
“Kalau lagi suntuk mainnya ke sini,” aku Erlina, perempuan 23 tahun yang rumahnya di Kecamatan Kras.
Erlina datang berombongan, dengan tiga temannya. Membeli makanan dan minuman. Kemudian dinikmati bersama sembari ngobrol. Kocek yang dirogoh juga tak terlalu dalam. Hanya senilai Rp 60 ribu.
Baca Juga: LIputan Khusus : Mina Padi Banyak Untungnya, Ini yang Akan Dilakukan Pemkab Kediri
”Recomended buat yang cari hiburan dan lokasinya tak mau jauh-jauh,” ucapnya disertai gelak tawa teman-temannya.
Soal harga yang ramah di kantong ini juga menjadi daya tarik Dwi, 30. Perempuan warga Desa Banjaranyar, Kecamatan Kras ini datang bersama suami dan anaknya. Membeli menu penyetan. Uang yang keluar pun tak lebih dari Rp 100 ribu.
“Itu sudah termasuk beli minum dan sewa permainan,” terangnya.
Beberapa kilometer ke arah barat daya, ada pula lokasi serupa. Namanya Pujasera Desa Badal. Tempatnya di lapangan Desa Badal.
Lapangan itupun dipermak jadi tempat nongki kekinian pula. Di salah satu sisinya ada area khusus untuk bercengkerama. Lengkap dengan tempat duduk dan hiasan lampu warna-warni. Kemudian deretan stan makanan di bagian paling barat, dekat jalan raya.
Baca Juga: Liputan Khusus Bumdes vs Kopdes, Bersanding atau Bertanding?
"Ramainya ya saat malam Minggu, ada electone-nya (live music dengan iringan elekton, Red). Kalau hari-hari biasa ya begini, sepi," kata Zulaekah, pedagang pecel.
Bergeser puluhan kilometer ke arah timur laut, ada Pasar Senja. Lokasinya di Desa Tulungrejo, Kecamatan Pare, masih di kawasan Kampung Inggris. Setiap hari tempat nongki kekinian ini didatangi ribuan orang. Bila weekend atau liburan bisa lebih banyak lagi. Maklum, tempat ini memang pusatnya para pendatang. Mereka yang tengah belajar bahasa di Kampung Inggris.
Pasar Senja muncul pada 2021. Bermula dari keinginan pemerintah desa menyulap lapangan menjadi tempat olahraga sekaligus belajar outdoor bagi siswa Kampung Inggris.
"Dulu saat malam (di lapangan, Red), identik dengan tempat negatif, tempat minum-minum (minuman memabukkan, Red). Jadi kami ingin branding ulang dengan tujuan utamanya sebagai tempat olahraga, juga wisata," terang Kades Tulungrejo, Nurkasan.
Baca Juga: Liputan Khusus Bumdes vs Kopdes, Bersanding atau Bertanding? (2)
Setelah itu, masyarakat mulai berdatangan. Makin hari semakin banyak. Banyak yang bilang, ke lapangan sambil lihat matahari terbenam.
“Dari situlah muncul nama Pasar Senja,” terang kades bertubung langsing ini.
Setelah semakin ramai, Pasar Senja pun ‘diatur’. Mulai parkir, pedagang, dan ketertiban lainnya.
Jumlah pedagang di Pasar Senja juga tak sedikit. Mencapai 100 lebih pedagang. Mereka adalah warga Desa Tulungrejo dan juga dari luar desa. “Awalnya diumumkan ke warga desa. Tapi kurang peminat. Akhirnya dibuka untuk umum,” terang Matnurkasan.
Yusuf Ardiansah, ketua pengelola Pasar Senja, menyebut ada iuran bagi pedagang. Nominalnya Rp 5 ribu per lapak. Rinciannya, Rp 3 ribu untuk kebersihan dan sisanya untuk listrik. Sedangkan parkir hanya bayar seikhlasnya.
"Jadi selama ini kami berjalan ya uang yang kami dapatkan ya sedikit kami bagikan ke teman-teman, sedikit untuk perbaikan-perbaikan, lalu juga ada buat kas dan lingkungan setempat," jelasnya.
Memang, keberadaan tempat-tempat nongki kekinian itu memunculkan lapangan kerja baru. Yaitu bagi mereka yang membuka lapak. Penghasilannya pun lumayan, terutama di akhir pekan atau hari libur.
“Bila malam Minggu bisa dapat Rp 500 ribu,” aku Zul, pedagang pecel di Pujasera Badal.
Lilik, pedagang minuman dan roti bakar di tempat yang sama bahkan pernah meraup Rp 1 juta semalam. Tapi, itu ketika awal Pujasera Badal beroperasi.
“Kalau sekarang dapat Rp 500 ribu saja abot (berat, Red),” akunya.
Baca Juga: Liputan Khusus! Ketika Kursi-Kursi Perangkat Desa di Kediri Banyak yang Kosong, Apa Penyebabnya? (1)
Bagaimanapun, keberadaan pujasera membantu menambah penghasilan. Apalagi biaya yang harus mereka keluarkan juga tak besar. Hanya Rp 3 ribu sampai Rp 4 ribu per hari.
“Saya dulu buruh tani. Sekarang jualan saja,” aku Lilik.
Tin, 39, warga Desa Susuhbango yang berjualan di Taman Pinka, tidak mengira lokasi berjualannya bisa seviral seperti sekarang ini. Karena itu dia merasa bersyukur menerima tawaran membuka stan di awal-awal dulu.
“Awal mau buka memang ditanya siapa saja yang mau berjualan. Karena rumah saya dekat dan pengen mencoba akhirnya mendaftar saja,” ujarnya.
Paling laku memang makanan kekinian, yang digemari generasi Z. Seperti dimsum, sosis, pop ice, dan lainnya.
“Kalau jualan ini kayaknya tetep laku. Karena pasarnya memang ada dan banyak peminatnya,” imbuh ibu dari satu anak itu.
Baca Juga: Liputan Khusus! Ketika Kursi-Kursi Perangkat Desa di Kediri Banyak yang Kosong, Apa Penyebabnya? (2)
Menurutnya, berjualan di lokasi ini memiliki penghasilan yang cukup menjanjikan. Sebab di saat viral-viralnya setiap hari bisa mengantongi uang sampai ratusan ribu. Yang apabila dikalkulasi dalam satu bulan bisa mencapai jutaan rupiah.
Tentu ini sangat membantu masyarakat kecil ditengah kondisi perekonomian yang tak pasti.
“Iya kan istilahnya seperti itu. Kami pedagang butuh uang, masyarakat desa butuh hiburan yang murah. Bertemunya di lokasi seperti ini,” tandasnya.
Hal serupa juga disampaikan Lis, 25, pedagang minuman. Dia menyebut jika viralnya lokasi ini selain harganya yang masih terjangkau, juga tempat yang ditawarkan cukup menarik perhatian. Masyarakat bisa menikmati makanan dan minuman di alam terbuka. Dengan berbagai hiburan yang ada.
“Ini solusi bagi warga desa yang ingin menikmati hiburan dengan harga murah alias ramah dikantong,” bebernya.
Warga Desa/Kecamatan Ringinrejo itu tak menampik tentang kondisi ekonomi yang saat ini yang sedang tidak baik-baik saja. Dia juga mengakui jika daya beli masyarakat menurun dan beberapa komoditas mengalami kenaikan.
Hanya saja dia melihat masyarakat tak pernah perhitungan ketika mengeluarkan uang untuk membeli makanan. “Kalau dilihat memang lokasi-lokasi seperti ini mulai bermunculan. Artinya yang menginginkannya juga ada,” tuturnya. (hilda nurmala risani/emilia susanti/fud)
Editor : Andhika Attar Anindita
Sumber : Radar Kediri