Siapa sih yang mau terlahir dengan kondisi kekurangan? Tapi, bagi pemuda ini, keterbatasan fisik itu bukan membuatnya berkecil hati. Sebaliknya dia mau bersusah payah, yang mengantarnya menjadi atlet disabilitas.
ASAD M.S., Kota, JP Radar Kediri
Bila memandang sepintas, seakan tak ada yang berbeda pada diri Amiruddin Sholeh.
Pemuda 25 tahun ini sama seperti sebayanya. Aktivitasnya, juga hampir serupa dengan orang lain.
Namun, bila diamati lebih seksama, ada sedikit perberdaan pada fisiknya. Tubuh bagian kanannya berbeda.
Tangannya kecil, sulit digerakkan. Begitu pula dengan bagian kaki.
Sejak lahir pada 25 April 2001, Amir didiagnosis cerebral palsy (CP). Membuat otot di tubuh sisi kanannya jauh lebih lemah dibanding sisi kiri.
Kaki kanannya lebih kecil, sementara tangan kanannya juga tidak sekuat tangan kiri.
“Kanan ini beda sama yang kiri. Kalau yang kiri ini ototnya besar semua, kanan lebih kecil,” terang laki-laki yang akrab disapa Amir itu.
Saat masih balita, kedua orang tuanya, Asrofi dan Kanti Mahmudah, berusaha berbagai cara agar putra ketiga dari empat bersaudara itu bisa tumbuh seperti anak-anak lainnya. Bermacam pengobatan hingga terapi dijalani.
Harapannya agar Amir bisa pulih. Namun, memasuki usia sekitar lima tahun, keluarga mulai menyadari bahwa kondisi tersebut akan menjadi bagian dari hidupnya.
Masa kecil Amir pun tidak mudah. Berjalan beberapa langkah saja sering berakhir dengan terjatuh.
Kaki kanannya yang sulit mencengkeram membuat sandal yang dikenakannya berkali-kali terlepas saat dipakai berjalan.
Agar tidak terus copot, orang tuanya sampai mengikat sandal itu dengan tali di bagian belakang. Cara sederhana itu menjadi teman Amir menjalani masa kecilnya.
“Cari sandal yang ada karetnya. Jadi yang kanan itu karetnya dipasang di kaki biar tidak lepas. Kalau yang kiri tidak,” jelasnya sembari tertawa lepas.
Kesulitan fisik ternyata bukan satu-satunya ujian. Saat mulai bersekolah di SDN Bandarkidul 3, Amir perlahan menyadari dirinya berbeda dari teman-teman lain. Ia beberapa kali menjadi sasaran ejekan.
“Cacat-cacat. Diolok-olok gitu,” kenang Amir saat ditemui di rumahnya di Kecamatan Mojoroto.
Sebutan itu sempat membuat mental anak kecil tersebut runtuh. Rasa minder muncul setiap kali bertemu orang baru.
Bahkan, ada masa ketika Amir lebih memilih menyendiri. Ia sering berjalan tanpa tujuan hanya untuk menenangkan pikirannya.
Sesekali ia mencari tempat yang sepi agar bisa mengurangi beban yang dipendam sendiri.
Yang paling membuatnya sedih bukan sekadar ejekan orang lain, melainkan perasaan belum mampu membantu kedua orang tuanya seperti anak-anak seusianya.
Waktu perlahan mengubah cara pandangnya. Setelah lulus dari SMK Muhammadiyah 2 Kediri, Amir memilih berhenti meratapi keadaan. Ia membantu ibunya menjaga toko kelontong.
Sekaligus mengantar pesanan susu sapi segar kepada pelanggan. Dari aktivitas sederhana itu, rasa percaya dirinya mulai tumbuh kembali.
Ia mulai menerima bahwa hidup bukan tentang apa yang hilang. Melainkan tentang apa yang masih bisa diperjuangkan.
Pandemi Covid-19 menjadi titik balik berikutnya. Untuk mengisi waktu luang, Amir rutin berolahraga setiap pagi.
Awalnya hanya berlari demi menjaga kebugaran dan tetap bermain futsal bersama teman-temannya.
Tanpa disangka, video dirinya saat berlari menarik perhatian pelatih atlet disabilitas Kota Kediri.
Sebuah pesan singkat mengubah arah hidupnya. Amir diajak bergabung menjadi atlet.
“Saat ada kegiatan fun run, saya ikut kan masuk vidio orang. Dilihat sama pelatih disabilitas, trus saya dihubungi diajak ikut,” terangnya.
Perjalanan sebagai atlet tidak langsung berjalan mulus. Ia sempat mengira akan masuk tim sepak bola disabilitas karena memang menyukai futsal. Namun, pelatih justru mengarahkannya ke cabang atletik.
Latihan demi latihan dijalani. Keseimbangan tubuh menjadi tantangan terbesar karena otot sisi kanannya jauh lebih lemah.
Setiap gerakan harus diulang berkali-kali agar tubuhnya mampu menyesuaikan.
“Jadi saat latihan itu kaki kanan hanya untuk tumpuan saja. Yang buat lari kaki kiri,” jelasnya mengenai cara dia berlatih.
Kerja keras itu akhirnya membuahkan hasil. Pada Kejuaraan Provinsi, Amir sukses meraih juara dua nomor lari 100 meter, juara tiga nomor lari 200 meter, serta juara dua lompat jauh.
Tiga medali tersebut menjadi jawaban atas semua keraguan yang pernah diarahkan kepadanya sejak kecil.
Tentu perolehan juara itu tidak mudah. Saat di nomor 200 meter, Amir sempat pesimistis.
Hal itu karena jalur lintasan yang dia lewati menikung. Padahal tidak pernah berlatih dengan lintasan seperti itu.
“Sempat sedih nangis selama 15 menit. Karena frustasi. Tapi bangkit lagi,” jelasnya.
Tekad kuat dan semangat ingin menunjukkan diri bahwa walau tidak sempurna juga bisa berprestasi yang membuatnya terus maju.
Kini, Amir masih terus berlatih untuk mengejar prestasi yang lebih tinggi. Tahun ini, dia juga akan kembali mengikuti paralimpik di bidang atletik.
“Kondisi tidak sempurna bukan penghalang untuk meraih prestasi dan menggapai mimpi,” tegasnya.
Editor : MahfudSumber : Radar Kediri