Kisah Adam Putra Destiranda, Gen Z Kediri yang Berhasil Hidupkan Wayang dan Karawitan Lewat Sanggar Seni

Diana Yunita Sari • Dipublikasikan Kamis, 6 Agustus 2026 | 22:14 WIB
LESTARIKAN BUDAYA: Dalang muda Adam Putra Destiranda menunjukkan kepiawaiannya dalam melakukan sabetan wayang kulit. (Dok. Adam Putra Destiranda untuk JPRK)
LESTARIKAN BUDAYA: Dalang muda Adam Putra Destiranda menunjukkan kepiawaiannya dalam melakukan sabetan wayang kulit. (Dok. Adam Putra Destiranda untuk JPRK)

JP Radar Kediri - Bagi pemuda ini wayang bukan sekadar tontonan. Melainkan penuh dengan nilai-nilai yang layak dipelajari. Tersimpan tata krama hingga pendidikan karakter yang tak lekang oleh zaman.

Sore di satu rumah di sudut Desa Pehwetan, Kecamatan Papar. Alunan suara gamelan bercampur-baur dengan canda tawa. Suasana yang nyaris selalu terjadi di setiap sore.

Riuh-rendah itu datang dari sekumpulan manusia. Mulai dari bocah hingga remaja. Kebanyakan dari mereka menghadapi perangkat gamelan. Memukul, menabuh, dan menggesek.

Di antara para penabuh gamelan itu, ada sosok yang mengawasi. Mencermati satu per satu lagu yang dimainkan.

Sosok itu adalah Adam Putra Destiranda. Usianya masih 25 tahun, seorang generasi Z. Namun, tak seperti kebanyakan remaja sepantaran, dia memilih tak berkutat dengan gawai dan media sosial. Melainkan menghabiskan waktu merawat budaya. Bergelut di dunia karawitan, pedalangan, dan kesenian tradisional Jawa lain.

Baca Juga: Ali Haidar, dari ‘Wong Ndesa’ ke Live Streamer Game Berpenghasilan Puluhan Juta Rupiah Sebulan, Ini Yang Wajib Kamu Tahu!

"Sejak kecil saya sudah suka wayang,” akunya, memberi alasan mengapa dia bergelut dengan kegiatan yang identik dengan orang-orang jadul itu.

“Dulu kalau mbah kakung latihan atau pentas wayang saya selalu ikut. Belajarnya ya dari situ. Melihat langsung, otodidak," lanjutnya.

Almarhum Sang kakek memang seorang pengrawit, sebutan untuk pemain karawitan, yang aktif mengiringi pertunjukan wayang. Dari sanalah Adam mengenal gamelan. Sebelum akhirnya mendalami dunia pedalangan.

Baginya, wayang bukan sekadar tontonan. Banyak hal yang bisa dipelajari.

Baca Juga: Bangkit dari Lumpuh: Kisah Sobirin Disabilitas Plosoklaten yang Kerajinannya Tembus ke Inggris

"Di wayang itu lengkap. Ada sastra, seni musik, seni rupa, sampai nilai kehidupan. Banyak sekali ilmu yang bisa dipelajari," tegas Adam.

Semasa sekolah, Adam juga bergabung di salah satu sanggar di Kecamatan Ngasem. Dua tahun menimba ilmu di tempat itu. Memunculkan keinginan baru, ingin menghadirkan ruang belajar seni yang lebih dekat dengan generasi muda seperti dirinya.

Keinginan itu baru terwujud 2022. Bersama beberapa teman Adam mendirikan sanggar. Namanya, Nawasena.

Upaya itu tergolong nekat. Mereka belum memiliki seperangkat gamelan maupun anak wayang. Latihan pun berpindah-pindah. Mencari tempat yang bersedia meminjamkan peralatan.

"Waktu itu modal kami cuma semangat. Ada gamelan di mana, kami latihan di sana," kenangnya sambil tersenyum kecil.

Baca Juga: Kisah Sosok Nur Atikah, Atlet Atletik Disabilitas Nasional dari Kediri: Kalahkan Takut yang Mengurung Hidup  

Sanggar itu hanya diawali sebelas murid. Seluruhnya perempuan yang belajar karawitan. Adam menjadi pelatih sekaligus penggerak.

Baginya, yang terpenting bukan banyaknya fasilitas. Melainkan konsistensi. "Yang sulit itu bukan memulai, tapi konsisten," kilahnya.

Kerja keras itu membuahkan hasil. Setahun, Sanggar Nawasena bisa membeli seperangkat gamelan. Tiga tahun berikutnya mampu memiliki koleksi anak wayang.

Kini murid sanggar menembus 100 orang lebih. Mayoritas anak-anak dan remaja. Bahkan Sanggar Nawasena telah membuka cabang di Blitar.

Menariknya, hampir seluruh pelatih juga berasal dari kalangan muda. Mereka dulu adalah murid, yang sudah mahir. Kemudian ganti mengajar adik-adiknya. Menurut Adam, pendekatan tersebut membuat suasana latihan lebih akrab.

Baca Juga: Beragam Kisah Diaspora Kediri Merawat Kenangan Tanah Kelahiran (4) Jualan Makanan ke Sesama Diaspora Jadi Obat Kangen

Pernah Adam menghadirkan pelatih dari kalangan akademisi seni. Namun, hasilnya justru kurang efektif.

"Anak-anak malah lebih nyaman belajar dengan kakak-kakaknya sendiri," katanya.

Uniknya, meski fokus di dunia seni, Adam sama sekali tidak memiliki latar belakang pendidikan seni. Ia merupakan lulusan jurusan multimedia di SMK Pawyatan Dhaha. Pun, ketika berkuliah, dia mengambil jurusan pariwisata. Kampusnya adalah Universitas Terbuka.

Sebenarnya ia pernah diterima di Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta. Namun keinginannya kandas karena orang tua yang belum merestui.

"Dulu orang tua berpikir kalau masuk seni nanti jadi apa," katanya.

Kini pandangan itu berubah. Melihat perkembangan sanggar dan berbagai prestasi yang diraih, keluarga justru menjadi pendukung.

Baca Juga: Enam Mahasiswa UNP Kediri Ciptakan Mesin Pembuat Keju Mozarella, Terinspirasi dari Kesulitan UMKM di Pare

Sanggar tersebut juga mendapat perhatian dari pemerintah daerah. Belum lama ini Sanggar Nawasena dipercaya tampil di Keraton Jogjakarta dalam peringatan Hari Anak Nasional. Mereka juga beberapa kali tampil di Surabaya. Termasuk dalam agenda kesenian di Universitas Negeri Surabaya serta Gedung Cak Durasim. Para murid Nawasena juga rutin mengisi hiburan pernikahan melalui pertunjukan karawitan dan campursari.

Namun bagi Adam, pencapaian terbesar bukanlah banyaknya panggung yang didatangi. Ia justru ingin mengubah cara pandang generasi muda terhadap budaya.

"Anak-anak sekarang sering menganggap seni itu kuno. Padahal kita lahir di Jawa. Harusnya budaya sendiri jangan sampai kita tinggalkan," tegasnya.

Menurutnya, seni bukan sekadar hiburan. Di dalam karawitan maupun pedalangan tersimpan nilai sopan santun, tata krama, hingga pendidikan karakter yang relevan sepanjang zaman.

Ia berharap suatu hari nanti anak-anak Indonesia tidak lagi malu memainkan gamelan atau belajar wayang. Sebab ketika bangsa sendiri mampu mencintai budayanya, warisan leluhur akan tetap hidup di tengah perubahan zaman.

Editor : Andhika Attar Anindita
Sumber : Radar Kediri
sosok inspiratif dari kediri kabupaten kediri Gen Z budaya jawa pelestarian budaya