Kepala MTsN 1 Kota Kediri Anwar Fauzi Bawa Madrasah Bangkit dari Bencana menuju Madrasah Digital

Ayu Ismawati • Dipublikasikan Selasa, 4 Agustus 2026 | 12:31 WIB
GAGAS DIGITALISASI: Kepala MTsN 1 Kota Kediri Anwar Fauzi bersiap menerapkan digitalisasi di madrasah yang dipimpinnya. (Foto: Ayu Isma)
GAGAS DIGITALISASI: Kepala MTsN 1 Kota Kediri Anwar Fauzi bersiap menerapkan digitalisasi di madrasah yang dipimpinnya. (Foto: Ayu Isma)

Kepemimpinannya yang baru seumur jagung mendapat ujian. Sekolahnya terbakar, membuat banyak dokumen yang hilang. Hebatnya, hal itu justru jadi momentum madrasahnya bertransformasi menuju digitalisasi.

 

AYU ISMA, Kota, JP Radar Kediri

 

Bagi Anwar Fauzi, kebakaran yang melanda MTsN 1 Kota Kediri pertengahan Juni silam adalah pukulan berat. Saat itu, baru sebulanan dia memimpin madrasah di Jalan Raung, Kelurahan Bandarkidul, Kecamatan Mojoroto itu. Sementara, kerugian yang ditimbulkan tak main-main.

Kebakaran itu melahap beberapa ruang. Termasuk ruangan kerjanya. Paling fatal, dokumen fisik penting berubah jadi arang hanya dalam semalam.

“Semua dokumen fisik hangus. Termasuk surat-surat yang sudah distempel. Selesai sudah, hanya tersisa sebagian kecil saja,” ungkap Anwar.

Baca Juga: Gedung Terbakar, MTsN 1 Kota Kediri Rugi Miliaran, Ini Dugaan Penyebab Munculnya Api!

Alih-alih berkecil hati Anwar justru berusaha mengambil pelajaran. Pria yang sebelumnya menjabat wakil kepala (waka) Bidang Sarana dan Prasarana MAN 1 Kota Kediri itu menjadikan titik terendah itu sebagai momentum bangkit.

Bahkan, membawa madrasahnya bertransformasi menuju digitalisasi. 

“Kalau seandainya semua pembelajaran, surat-menyurat, dan berkas-berkas lainnya sudah digital dan terjamin karena sudah ter-backup, dampak dari kejadian seperti ini pasti bisa diminimalisasi,” dalihnya.

Dari situ, Anwar menggagas konsep transformasi menuju madrasah digital. Beruntung, ada banyak potensi dari guru dan tenaga kependidikan MTsN 1 Kota Kediri yang bisa membantu mengaktualisasikan gagasan itu.

“Dari kejadian ini, kami ke depan memang harus berubah. Melakukan perubahan dalam konsep berpikir dulu. Kami ingin ada perubahan dari manual menuju digital,” sambungnya.

Baca Juga: Wawali Gus Qowim Tinjau Kebakaran MTsN 1 Kota Kediri, Pastikan KBM Akan Tetap Berjalan

Dan, belum sampai 100 hari masa kepemimpinannya, atau tepatnya 23 Juli 2026 lalu, program Transformasi MTsN 1 Kota Kediri Menuju Madrasah Digital itu diluncurkan.

Sekaligus diresmikan Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama RI Prof Dr Suyitno.

Anwar menjelaskan, transformasi itu mencakup beberapa terobosan. Umumnya mendorong pembelajaran dan layanan pendidikan yang lebih efisien dan efektif dengan teknologi digital.

Beberapa program yang juga diluncurkan adalah Masansa Eduspace, Masansa Card, Masansa Smart Office, antologi puisi karya siswa, hingga mars MTsN 1 Kota Kediri sebagai simbol pengobar semangat transformasi itu. 

“Seperti melalui Masansa Eduspace ini, kami membangun ruang belajar digital bagi siswa dan guru. Kami ingin mengubah mindset bahwa belajar itu harus di ruang kelas. Tapi juga bisa kontekstual di luar sekolah. Bahkan, misal ada guru yang sedang ada penugasan di luar kota, dia tetap bisa mengajar lewat sistem digital yang terintegrasi ini,” bebernya.

Melalui eduspace itu, orang tua juga bisa memantau perkembangan anak di sekolah setiap saat. Meski mengintegrasikan teknologi digital di setiap pembelajaran dan layanan madrasah, pendidikan karakter tetap diutamakan.

Baca Juga: Siswa MTsN 1 Kediri Antusias Ikuti Paparan Kompetisi Kompetensi Akademik, Sosialisasi Tryout TKA

Salah satunya melalui konsep Panca Cinta dan etika digital yang tetap diterapkan. 

Ada juga Masansa Card. Kartu identitas digital untuk siswa ini punya banyak fungsi. Selain sebagai media presensi, juga menjadi alat pembayaran di kantin madrasah. Sehingga akses terhadap layanan madrasah bisa lebih aman, praktis, dan terpercaya.

Sedangkan untuk Masansa Smart Office dirancang sebagai sistem manajemen berbasis digital. Melalui sistem ini, pelayanan akan semakin cepat dan transparan.

“Jadi, misal ada tamu yang datang di PTSP, dengan mengakses sistem ini, akan langsung link dengan semua guru, waka, dan kepala madrasah. Sehingga akan lebih cepat juga responsnya,” terang Anwar.

Transformasi digital itu tidak bisa sekadar menghadirkan dan menerapkan teknologi. Lebih kompleks dari itu, mindset seluruh warga sekolah harus diubah.

Baca Juga: AXIS School Fest Ajak Siswa Ciptakan Konten Inspiratif, Komitmen Tingkatkan Literasi Digital Generasi Muda

Semua siswa dan guru harus terbiasa dengan ekosistem digital.

“Sejak awal, kami membuat aplikasi ini dengan tools yang sederhana. Para guru mudah mengakses, manfaatnya dapat dirasakan,” terangnya.

Pada dasarnya, sistem digital dibangun untuk mempermudah pembelajaran. Misalnya, guru bisa memberikan modul atau kuis setiap saat melalui aplikasi itu.

Selain itu, koreksi hasil pekerjaan siswa juga tak lagi harus manual. Bisa dipercepat dan dipermudah dengan bantuan fitur di aplikasi.

Tentu butuh penyesuaian dengan perubahan cara kerja itu. Karena itulah di awal penerapannya madrasah gencar memberi bimbingan teknis (bimtek). Puluhan guru rutin mengikuti setiap Sabtu siang.

“Guru tidak mau melakukan itu karena beberapa alasan. Mulai dari tidak tahu fungsinya, nggak familiar dengan aplikasinya, tools-nya terlalu banyak sehingga nggak paham. Atau karena memang nggak mau berubah. Nah, saya tidak ingin seperti itu,” tandasnya.

Baca Juga: Ratusan Siswa SMKN 1 Gondang Antusias Ikuti AXIS School Fest, Bekali Generasi Muda Jadi Kreator Konten Digital

Pemikiran itu yang mendorongnya membuat aplikasi yang mudah, murah, dan ringan. Untuk membangun budaya digital bermoral itu, dia memilih mengedepankan komunikasi dengan para guru dan siswa.

Melalui pendekatan itu, Anwar optimistis transformasi menuju madrasah berbasis digital itu bisa segera terwujud di MTsN 1 Kota Kediri.(fud)

           

 

Editor : Ayu Ismawati
Sumber : Radar Kediri
MTsN 1 Kota Kediri madrasah kemenag kota kediri transformasi digital Kemenag