Lipsus Hari ASI Sedunia (2) : Sibuk Kerja, Motivasi Beri ASI Ekslusif Rendah, Ini Alasannya!

Hilda Nurmala Risani • Dipublikasikan Sabtu, 1 Agustus 2026 | 06:30 WIB

 

 

Ilustrasi busui mencari ruang laktasi. (Arfrizal Syaiful M/JPRK)
Ilustrasi busui mencari ruang laktasi. (Arfrizal Syaiful M/JPRK)

 

KEDIRI, JP Radar Kediri - Persoalan ASI tidak berhenti di ruang laktasi yang masih belum merata. Juga belum tingginya motivasi sang ibu memberikan air susu ibu (ASI) eklusif, selama 6 bulan.

“Tahun 2025 ASI eksklusif berada di angka 70,3 persen. Sedangkan triwulan kedua tahun 2026 berada di angka 78,3 persen,” ujar dr Hamida, SpP.

Angkanya naik memang, namun seharusnya bisa mencapai 100 persen. Mengingat manfaatnya yang lebih banyak untuk tumbuh kembang sang buah hati.

Baca Juga: Ruang Laktasi Standar Dinkes, Plastik Bekas Jadi Hiasan

Menurutnya, ada beberapa alasan mengapa harus memberikan ASI ekslusif selama 6 bulan. Pertama, untuk memberikan nutrisi yang sempurna. Karena ASI mengandung komposisi gizi lengkap seperti protein, lemak, vitamin, dan karbohidrat pertumbuhan bayi.

Kedua, pencernaan bayi belum matang. Usus bayi di bawah 6 bulan belum kuat mencerna makanan atau minuman selain ASI.

“ASI juga dapat membentuk antibodi alami yang melindungi dapat melindungi bayi,” imbuhnya.

Baca Juga: Uang Hadiah untuk Lengkapi Sarpras Ruang Laktasi

Tak hanya itu, pemberian ASI eksklusif juga dapat membantu mengoptimalkan pertumbuhan fisik dan perkembangan otak.

“Tetapi belum semua ibu memiliki motivasi untuk memberikan ASI. Dengan berbagai alasan. Mayoritas karena sibuk bekerja,” papar dokter spesialis paru itu.

Ibu yang memiliki motivasi tinggi cenderung punya kelebihan. Yaitu lebih tenang, tidak mudah stres, dan lebih mampu mengatasi berbagai kendala teknis yang dihadapi. Baik itu di tempat kerja maupun di ruang publik.

“Kondisi psikologis dan support system dari lingkungan sekitar juga memegang peranan krusial dalam produksi ASI,” tandasnya.

Baca Juga: Dirikan Rumah Pemberdayaan hingga Pojok Laktasi

Oleh karenanya, apabila ruang laktasi dapat tersedia secara merata dan motivasi ibu bertumbuh maka target capaian ASI eksklusif ini akan lebih mudah dicapai. Tak lupa support system dari lingkungan baik keluarga maupun teman bekerja.

“Selain menyediakan tempat, juga perlu diberikan waktu untuk melakukan pumping. Karena idealnya mereka yang menyusui setiap 2 jam sekali biasanya harus memompa agar ASI keluar,” bebernya.

Ita, 30, warga Kelurahan/Kecamatan Pesantren membenarkan hal itu. Kesibukan bekerja terkadang membuatnya tidak maksimal dalam memberikan ASI eksklusif kepada anaknya.

“Terkadang saya kalau kerja dan stres dengan tugasnya memang berdampak pada ASI yang sulit keluar,” ungkap ibu dari satu anak itu.

Baca Juga: Jumlah Dapur MBG di kita Kediri akan Bertambah Kembali, Prioritaskan Sasaran Ibu Hamil, Ibu Menyusui, dan Balita

Tak ayal, dia lebih memilih memberi susu formula kepada anaknya. Tentu dengan kandungan yang sesuai kebutuhan.

“Kan meski pakai susu formula tetap pilih yang berkualitas. Baik dari segi kandungan maupun harganya,” dalihnya.

Hal serupa juga disampaikan oleh Agustin, 30, warga Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri. Kesehariannya menjadi pegawai bank membuatnya terpaksa memberi susu formula kepada bayi dibandingkan ASI eksklusif.

Baca Juga: Bantal Menyusui dan Alas Tidur yang Nyaman. Dua Hal yang Harus Dipersiapkan Menyambut Kelahiran Bayi

“Dari awal memang merasa kurang sanggup jika harus ASI eksklusif. Karena pekerjaan dibagian pelayanan membuat harus selalu standby,” ujarnya. Meskipun sebenarnya bergantung pada kemauan diri sendiri dan fasilitas pendukung di sekitarnya.

Diakuinya jika tempatnya bekerja masih minim fasilitas dan dukungan dalam pemberian ASI eksklusif itu. “Ada tempatnya tetapi waktunya yang tidak ada. Itu dilema yang kami rasakan sebagai ibu-ibu pekerja,” pungkasnya.

Pada akhirnya fasilitas ruang laktasi dan motivasi ibu merupakan dua elemen yang idealnya berjalan beriringan untuk menciptakan lingkungan yang ramah anak. Walaupun ruang laktasi memberikan kenyamanan tambahan, pada akhirnya keteguhan dan cinta kasih sang ibu lah yang menjadi kunci utama keberhasilan menyusui. 

 

Editor : Andhika Attar Anindita
Sumber : Radar Kediri
ruang laktasi asi eksklusif jumlahnya minim dinkes kota kediri kota kediri