Lipsus Hari ASI Sedunia (1) : Melihat Ruang Laktasi di Kota Kediri saat Hari ASI Sedunia, Jumlahnya Sedikit, Tak Terawat Pula!

Hilda Nurmala Risani • Dipublikasikan Sabtu, 1 Agustus 2026 | 06:00 WIB
Ilustrasi busui mencari ruang laktasi. (Arfrizal Syaiful M/JPRK)
Ilustrasi busui mencari ruang laktasi. (Arfrizal Syaiful M/JPRK)

 

KEDIRI, JP Radar Kediri - Hari ini, 1 Agustus, adalah peringatan Hari ASI Sedunia. Banyak hal yang bisa dibahas. Salah satunya, soal pemenuhan ruang ruang laktasi di fasilitas-fasilitas umum. 

“Sepertinya belum semua tempat publik ada ya?” jawab Ahmanda Lusia, wanita yang beralamat di Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri. Pernyataannya itu menjawab pertanyaan apakah ruang laktasi-tempat para ibu menyusui bayinya-sudah cukup tersedia di Kota Kediri.

“Soalnya, saya terkadang kesulitan mencari,” lanjutnya, memberikan penguat pada jawabannya.

Baca Juga: Ruang Laktasi Standar Dinkes, Plastik Bekas Jadi Hiasan

Harus diakui, keberadaan ruang laktasi di Kota Kediri masih minim. Terutama di ruang publik atau pusat keramaian. Bayangkan saja, jika satu mal hanya ada 1 atau 2 ruang laktasi, tentu sangat tidak sebanding dengan jumlah ibu menyusui yang berkunjung di tempat tersebut.

“Satu hari bisa lebih dari 20 busui (ibu menyusui, Red) yang datang untuk belanja atau jalan-jalan. Kalau cuma ada dua berarti kami harus bergantian setiap 15 sampai 30 menit sekali,” papar Lusia.

Artinya ketika ada busui sudah akan mengeluarkan ASI maka harus rela mencari tempat lain. Terkadang harus rela menggunakan apron menyusui atau nursing cover di tempat umum. Baik saat makan maupun berbelanja.

Baca Juga: Uang Hadiah untuk Lengkapi Sarpras Ruang Laktasi

“Malu tidak malu ya. Namanya juga busui. Meskipun terkadang juga diliatin orang seperti aneh,” beber ibu dari satu anak itu.

Tak hanya jumlahnya yang sedikit itu yang dia sorot. Kondisi ruang laktasi yang kurang terawat pun bikin masalah. Menjadikan busui merasa tak nyaman.

“Kalau tempatnya kurang nyaman kami pun juga tidak bisa maksimal mengeluarkannya,” keluhnya.

Puspitasari, warga Kecamatan Pesantren, Kota Kediri, mengatakan hal sama. Keberadaan ruang laktasi di area publik belum sebanding dengan jumlah ibu menyusui.

Baca Juga: Uang Hadiah untuk Lengkapi Sarpras Ruang Laktasi

Dia mencontohkan ketika berada di salah satu taman. Seharusnya meskipun di tempat terbuka tetap disediakan ruangan untuk melakukan laktasi.

“Kadang kami juga bingung ketika berada di taman yang tidak ada ruang tertutupnya. Pilihannya kembali ke mobil dulu atau mungkin nyari musala dan pakai kain penutup dulu,” terangnya.

Ibu dari dua anak itu menyayangkan ketika fasilitas dasar seperti itu kurang diperhatikan. Padahal pemberian ASI eksklusif ini sangat penting.

Dia sangat berharap pembangunan ruang publik ke depan mulai memperhatikan keberadaan ruang laktasi. Agar lebih memudahkan busui yang tengah beraktivitas di luar rumah.

“Kadang saya malas keluar ya karena salah satu faktor itu. Bingung cari tempat buat menyusui anak,” keluh perempuan 28 tahun itu.

 Baca Juga: Dirikan Rumah Pemberdayaan hingga Pojok Laktasi

Tak hanya tempat umum berskala besar, area publik yang kapasitasnya kecil seperti kafe  pun masih minim fasilitas itu. Padahal yang berkunjung ke sana juga ibu-ibu muda,” tutur Ayu, 29, warga Kecamatan Kota, Kota Kediri.

Menurutnya, seharusnya semua kafe maupun tempat makan harus menyediakan ruang laktasi yang memadai. Sebab, sekarang banyak ibu-ibu yang nongkrong di kafe membawa anak.

“Kalau ada ruang laktasi rasanya akan lebih enak dan nyaman. Hiburan tetap dapat, kasih sayang ke anak juga tetap jalan,” sarannya, sambil melempar senyum.

Memang, berdasarkan pantauan Jawa Pos Radar Kediri, beberapa fasilitas umum di Kota Kediri masih minim ruang laktasi. Baik ruang terbuka hijau (RTH) maupun instansi milik swasta dan pemerintah.

Baca Juga: Bantal Menyusui dan Alas Tidur yang Nyaman. Dua Hal yang Harus Dipersiapkan Menyambut Kelahiran Bayi

Selain karena tak ada ruangan yang memadai, terkadang juga tidak ada anggaran. Sehingga belum bisa menyediakan fasilitas tersebut.

“Ruangan dan anggarannya yang belum ada. Jadi kami belum bisa menyediakan ruang laktasi,” ujar salah satu pengelola kafe yang ada di Jalan Diponegoro, Kota Kediri.

Pria 29 tahun itu menyebut jika usaha kafe yang dirintisnya masih sederhana. Belum sampai memikirkan fasilitas pendukung yang lengkap.

Namun, dia tak menampik jika keberadaan ruang laktasi sangat dibutuhkan. Sebab, beberapa pengunjungnya juga ibu-ibu muda.

Ke depan mungkin bisa saya adakan kalau memang budget sudah ada,” tuturnya.

Baca Juga: 5 Olahan Daun Katuk yang Lezat dan Bergizi, Agar Ibu Menyusui Tidak Bosan Mengonsumsinya.

Soal ini juga dibenarkan oleh pihak Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Kediri. Mereka menyebut keberadaan ruang laktasi baru 53 persen dari kebutuhan.

Itu data monev (monitoring dan evaluasi, Red) pada 2024 lalu. Update terbaru masih dalam proses pendataan,” ujar Plt Kepala Dinkes dr Hamida, SpP.

Soal kondisi, menurut Hamida, masih standar. Di dalamnya ada wastafel untuk cuci tangan, meja, kursi, dan kulkas penyimpanan asi.

Baca Juga: Dicurhati Ibu Hamil, Cawali Kota Kediri Fren Janjikan Konselor Menyusui  

Adanya pun baru di beberapa tempat pelayanan dan fasilitas umum. Seperti mal, taman, dan beberapa instansi pemerintah yang bergerak di bidang pelayanan.

“Kami sudah melakukan pengecekan di mall ada, beberapa instansi pemerintah dan swasta juga ada,” pungkasnya. 

 

Editor : Andhika Attar Anindita
Sumber : Radar Kediri
ruang laktasi jumlahnya sedikit dinkes kota kediri Tak Terawat kota kediri