Bangkit dari Lumpuh: Kisah Sobirin Disabilitas Plosoklaten yang Kerajinannya Tembus ke Inggris

Diana Yunita Sari • Dipublikasikan Kamis, 30 Juli 2026 | 17:26 WIB
KREATIF: Moh. Sobirin menunjukkan aneka kerajinan bambu buatannya yang laku dijual hingga ke Inggris. (Diana Yunita/JPRK)
KREATIF: Moh. Sobirin menunjukkan aneka kerajinan bambu buatannya yang laku dijual hingga ke Inggris. (Diana Yunita/JPRK)

JP Radar Kediri - Kondisi kaki yang lumpuh tak menghalangi Moh. Sobirin untuk berkreasi. Mengolah bambu menjadi berbagai jenis kerajinan, karya pria asal Pranggang, Plosoklaten itu laku dijual hingga ke Inggris. 

Sore itu (26/7), Moh. Sobirin tampak sibuk melayani pengunjung di stan UMKM kawasan Taman Hijau Simpang Lima Gumul (SLG). Di hadapannya berjajar berbagai kerajinan berbahan bambu. Mulai miniatur kapal pinisi, keranjang buah, lampu hias, hingga furnitur.

Tak banyak yang tahu, di balik karya-karya tersebut tersimpan kisah perjuangan panjang seorang penyandang disabilitas yang pernah divonis lumpuh total selama bertahun-tahun. Bukan hal mudah bagi pria yang akrab disapa Sobirin itu untuk bangkit dan mulai bergulat dengan bambu.

Jauh sebelum menekuni pembuatan kerajinan, Sobirin bekerja di bengkel. Dia juga pernah bekerja sebagai kuli bangunan. Selebihnya, pria berusia 40 tahun itu mencari rumput untuk hewan ternaknya.

Baca Juga: Kisah Sosok Nur Atikah, Atlet Atletik Disabilitas Nasional dari Kediri: Kalahkan Takut yang Mengurung Hidup  

Adalah kecelakaan pada 2012 silam yang mengubah aktivitasnya. Sobirin yang kala itu berusia 26 tahun terjatuh dari pohon nangka. Inisiden tersebut tulang ekor dan tulang panggulnya retak. Jika semula dia bisa beraktivitas dengan normal, dia mengalami lumpuh total selama sekitar dua setengah tahun.

“Waktu itu saya benar-benar tidak bisa bangun. Jangankan berjalan, duduk saja tidak bisa,” kenang Sobirin.

Berbagai upaya pengobatan pun dilakukan oleh keluarganya. Perlahan kondisinya juga mulai membaik. Sobirin mulai bisa duduk dan berjalan dengan bantuan dua tongkat penyangga. Namun kehidupannya tak lagi sama.

Pada 2014 Sobirin sempat mendapat tawaran mengikuti program pelatihan bagi penyandang disabilitas di Solo. Saat itu ia menolak karena masih fokus menjalani pengobatan di rumah. Namun, beberapa tahun kemudian, ketika kondisi ekonomi semakin sulit, ia memutuskan menerima kesempatan tersebut.

Baca Juga: Gisella Margaretha, Penyandang Disabilitas Netra yang Punya Suara Emas: Kali Pertama Ikutan Lomba Langsung Juara

Melalui bantuan Dinas Sosial, Sobirin berangkat ke Solo dan mengikuti pendidikan keterampilan selama setahun di lembaga disabilitas. Ia mengambil jurusan otomotif, bidang yang memang sudah dikenalnya sejak lama.

Sepulang dari Solo pada 2018 lalu, Sobirin mulai memikirkan pekerjaan yang aman dengan kondisi fisiknya. Namun, dia menyadari dunia otomotif memiliki risiko tinggi bagi penyandang disabilitas.

“Kalau di bengkel kan sering kena oli, lantainya licin. Saya takut jatuh lagi. Akhirnya mencari usaha lain yang lebih aman,” ujarnya.

Pilihannya jatuh pada bambu. Awalnya Sobirin hanya mencoba-coba membuat kerajinan sederhana. Berbekal kemauan belajar dan video tutorial di YouTube, keterampilannya terus berkembang.

Dari sekadar anyaman sederhana, ia mulai membuat miniatur kapal pinisi, lampu hias, keranjang buah, hingga berbagai furnitur berbahan bambu. “Semua belajar sendiri. Yang penting ada kemauan dan niat. Kalau tertarik, lama-lama pasti bisa,” katanya.

Baca Juga: Sosok Agung Prio Apriliano, dari PlayStation ke Juara Nasional Downhill: Balapan Pertama, Bannya Bocor di Lintasan

Usaha yang dirintis sejak 2019 itu perlahan mulai dikenal. Produk-produknya dipasarkan dari mulut ke mulut, mengikuti pameran UMKM, hingga memanfaatkan media digital. Ia juga mengikuti pelatihan pemasaran daring dan membuat akun Google Business untuk memperluas jangkauan pasar.

Usaha tak menghianati hasil. Kerajinannya banyak dipesan hingga luar Jawa seperti Jakarta, Lampung, Kalimantan, Sulawesi, Jawa Tengah, Malang, hingga Jember. Bahkan, miniatur kapal pinisi buatannya pernah dikirim hingga Inggris. Pesanan itu datang dari seorang pelanggan asal Bogor yang sedang mengikuti program di negara tersebut. “Yang sampai Inggris itu miniatur kapal pinisi. Awalnya pelanggan pesan dari sini, lalu dibawa ke sana,” kenangnya.

Harga kerajinan bambu buatan Sobirin bervariasi. Miniatur kapal pinisi ukuran kecil dibanderol sekitar Rp 300 ribu hingga Rp 400 ribu. Jika dilengkapi kotak akrilik, harganya bisa mencapai Rp 700-800 ribu. Sementara furnitur seperti meja atau kursi bambu bisa mencapai Rp 2,5 juta hingga Rp 3 juta. Tergantung model dan tingkat kesulitan.

Untuk bahan baku, Sobirin menggunakan beberapa jenis bambu. Namun, menurutnya bambu apus menjadi pilihan terbaik karena lebih lentur dan mudah dibentuk untuk berbagai kerajinan.

Baca Juga: Lewat Pengajian, Anggota Polisi Ini Berdayakan UMKM hingga Pengamen. Keberhasilan adalah Amanah, Harus Dibagi dengan Sesama!

Semakin banyaknya pesanan membuat rumah Sobirin menjadi bengkel kerajinan tangan. Bersanding dengan bengkel untuk melayani servis ringan seperti ganti oli dan tambal ban di bagian depan.

Dibantu seorang pekerja, kerajinan bambu itu kini jadi sumber penghidupannya. Saat pesanan sedang ramai, dia bisa menambah lima hingga delapan pekerja tambahan.

Bagi Sobirin, kini bambu bukan sekadar bahan kerajinan. Melainkan jadi jalan yang membawanya bangkit dari keterpurukan. Keterbatasan fisik yang dialaminya tak lagi menjadi penghalang untuk berkarya.

Dari sebuah desa di kaki perbukitan Kediri, karya-karya tangannya kini telah menembus berbagai daerah, bahkan sampai ke luar negeri. “Yang penting jangan menyerah. Selama masih ada kemauan, pasti ada jalan,” tandasnya. 

Editor : Andhika Attar Anindita
Sumber : Radar Kediri
kerajinan bambu kabupaten kediri kisah inspiratif kecamatan plosoklaten disabilitas