KEDIRI, JP Radar Kediri - Sebenarnya niat pemberi kebijakan untuk meningkatkan kesejahteraan tukang becak serta upaya transisi menuju transportasi yang ramah lingkungan sudah bagus. Hanya saja secara regulasi masih belum dipersiapkan dengan matang. Sehingga pelaksanaanya terkesan dipaksakan. Setidaknya, poin itulah yang bisa dibaca dari pendapat pengamat kebijakan public.
“Untuk becak listrik ini sebenarnya sudah dipertimbangkan ya. Apa positifnya. Misalkan lebih ramah lingkungan,” ujar pengamat sosial dan kebijakan public Dr Taufik Alamin, MSi.
Menurutnya secara konsep kebijakan itu sudah bagus. Hanya saja regulasinya perlu dievaluasi terlebih dahulu. Banyak hal perlu untuk diperbaiki agar lebih matang pelaksanaanya.
Baca Juga: Peluang Genjot Kediri City Tourism, Dorong Becak Listrik Jadi Daya Tarik Pariwisata
Pertama, harus dipetakan terlebih dahulu. Itu berkaitan dengan persaingan antara ojek online dengan armada lain di dalam sebuah kawasan atau daerah.
“Sehingga dengan adanya regulasi yang mengatur tentang bagaimana persaingan itu. Salah satunya tidak akan merasa tersingkirkan,” imbuhnya.
Kedua, tentu perlu pelatihan. Agar ketika menemukan masalah tahu bagaimana cara penyelesaiannya. Termasuk menyediakan fasilitas yang dibutuhkan oleh pengguna becak listrik tersebut. Yaitu lokasi charging dan bengkelnya.
“Seharusnya ada semacam subsidi untuk cas listriknya. Juga bengkel yang dituju ketika terjadi kerusakan. Paling tidak ada pendampingan selama tiga bulan atau setengah tahun,” tandasnya.
Baca Juga: Wali Kota Kediri Vinanda Siapkan SPLU untuk Menunjang Becak Listrik Bantuan Presiden Prabowo
Selain mematangkan teknis, Taufik menyebut juga perlu dibentuk sebuah paguyuban. Selain sebagai tempat untuk berkumpul juga tempat mencari solusi ketika ditemui permasalahan di lapangan.
Misalnya dalam paguyuban tersebut punya banyak anggota dan ada iuran wajib per bulannya. Tentu tidak akan kesulitan jika salah satu nantinya mengalami permasalahan. Karena sudah ada tempat berkeluh kesah dan meminjam uang untuk biaya perbaikan. Bebannya tidak sepenuhnya ditanggung sendiri.
Sayangnya dalam realita pelaksanaan, ekosistem tersebut belum diciptakan. Tak heran ketika ada yang mengalami permasalahan mereka cenderung pasrah dan memilih membiarkannya. Ujungnya becak listrik itu mangkrak.
“Nah itu yang saya maksud memang tidak disiapkan ekosistemnya terlebih dahulu. Jadi ekosistem dari sebuah terobosan armada baru itu sangat perlu untuk dikonsep dengan melibatkan masyarakat yang langsung bersinggungan,” tandas Wakil Rektor 1 UIN Syekh Wasil Kediri ini.
Maka jangan disalahkan karena tidak diarahkan, dilokalisasi, dibuat regulasinya, dan dilindungi, ujungnya mereka banyak yang memilih memarkirkan kendaraan becak listriknya alias mangkrak.
Meski demikian, dia mengakui jika jangka panjangnya becak listrik ini sangat berguna. Sebab dapat mengurangi penggunaan bahan bakar minyak (BBM) dan polusi udara.
“Intinya tidak cukup hanya kebijakan tapi juga infrastruktur pendamping,” paparnya.
Baca Juga: Tukang Becak Curhat saat Buka Puasa Bersama Wali Kota Kediri Vinanda di Balai Kota
Pada akhirnya apabila ekosistem ini sudah terbentuk dengan baik maka kebijakan atau tujuan bisa tercapai. Yaitu untuk meningkatkan kesejahteraan tukang becak serta upaya transisi menuju transportasi yang ramah lingkungan dapat tercapai.
“Paling tidak setengah tahun atau satu tahun itu baru bisa dilihat polanya dan hasilnya,” pungkasnya.
Editor : Andhika Attar AninditaSumber : Radar Kediri