KEDIRI, JP Radar Kediri - Tujuannya sih bagus, agar kesejahteraan para pengayuh becak terangkat. Sayang, kenyataan di lapangan tak semulus di isi kepala pemberi kebijakan. Mayoritas penerima bantuan becak listrik jarang menggunakannya dengan alasan ribet.
“Kalau disuruh milih, sepertinya tetap (menggunakan) becak kayuh saja,” jawab Jarno, tukang becak yang ditemui saat mangkal area sekitar Kediri Mall, di Jalan Hayam Wuruk Kota Kediri.
Warga Kelurahan Mojoroto, Kecamatan Mojoroto itu punya alasan. Jarak tempuh becak listrik (belis)-nya pendek. “Hanya empat kilometer saja kurang lebih,” lanjut pria berusia kepala lima ini.
Baca Juga: Peluang Genjot Kediri City Tourism, Dorong Becak Listrik Jadi Daya Tarik Pariwisata
Kondisi itu membuatnya kesulitan untuk mencari nafkah. Dia harus berulang kali mencari tempat untuk mengisi daya. Sebelum becaknya bisa digunakan mengangkut penumpang lagi.
Imbasnya, sehari paling Jarno hanya bisa menarik dua sampai lima kali penumpang saja. Bila jarak yang diminta penumpangnya jauh, lebih dari dua kilometer, ya hanya dua orang. Kalau pendek-pendek bisa lima penumpang.
“Kalau tujuannya ke barat sungai ya paling dua kali PP (pulang pergi, Red) becak sudah harus diisi daya,” jelasnya.
Masih sedikitnya stasiun pengisian kendaraan listrik umum (SPKLU) di Kediri makin mempersulit Jarno. Lokasinya terbatas. Dia pun harus meminta tolong sang anak untuk menge-charge becak listriknya. Nah, bila anaknya bekerja atau sedang bepergian, dia pun tak bisa apa-apa ketika dayanya habis.
Baca Juga: Wali Kota Kediri Vinanda Siapkan SPLU untuk Menunjang Becak Listrik Bantuan Presiden Prabowo
Ketika diberi bantuan becak listrik, Jarno berpikir baterainya tahan lama. Bisa menempuh jarak 50 kilometer lebih sekali isi. Tapi, itu tak terjadi. Padahal, ketika harus dikayuh karena baterai habis, bebannya sangat berat.
Dia pun menilai, harga becak listrik yang katanya puluhan juta tak sesuai dengan manfaatnya. Namun, dia tetap memanfaatkan sebisanya. Menghindari mangkrak di rumah.
“Soalnya kalau rusak biaya perbaikannya mahal. Rugi kalau sampai mangkrak,” tandasnya.
Beda lagi dengan Ded, tukang becak asal Kelurahan Dandangan, Kecamatan Kota, Kota Kediri. Pria ini jarang menggunakan untuk menarik penumpang. Memilih becak motor (bemot) yang lebih dulu dimiliki.
Baca Juga: Usai Tegak Minuman Keras, Tukang Becak Lansia di Makassar Meninggal Dunia
“Ada becak listrik di rumah. Tapi karena lebih ribet jadi jarang dipakai,” dalih pria 48 tahun ini.
Ded menyebut menggunakan becak listrik lebih ribet. Jarak tempuhnya pun terbatas. Sedangkan SPKLU juga belum banyak. Sangat merepotkan bila mengangkut penumpang jauh dari lokasi pengisian daya.
“Saya awal-awal coba pakai. Tapi setelah dievaluasi sepertinya tetap enak pakai becak motor. Lebih praktis,” kilahnya.
Rebo, 70, tukang becak asal Kecamatan Pagu, Kabupaten Kediri, sebelumnya adalah pengemudi bemot. Setelah dapat bantuan belis dari Presiden Prabowo, dia masih menggunakan bemotnya. Sedangkan belis hanya terbatas melayani pelanggan yang sudah menghubungi lebih dulu.
Masalahnya adalah kapasitas baterai. “Kalau untuk jarak dekat masih bisa. Tapi kalau jauh takut baterainya habis di jalan. Kalau dikayuh berat,” dalihnya.
Keluhan juga diucapkan Sapari, 63, tukang becak asal Kecamatan Gurah, Kabupaten Kediri. Daya tahan baterai menjadi persoalan yang dikeluhkan. Juga sulitnya diperbaiki bila rusak.
“Saya dengar dari teman-teman kalau rusak agak sulit diperbaiki,” ujarnya.
Itulah mengapa Sapari lebih sering menggunakan becak lamanya untuk bekerja. Belis hanya dipakai sesekali pada kondisi tertentu.
Baca Juga: Puluhan Tukang Becak di Kota Kediri Bukber dengan Wali Kota Vinanda, Ini Keluhan yang Disampaikan
Bantuan becak listrik adalah program dari Presiden Prabowo. Penyalurannya oleh Yayasan Gerakan Solidaritas Nasional (GSN). Bantuan kepada para tukang becak berlangsung enam bulan lalu.
Tujuannya, tak hanya untuk peningkatan kesejahteraan pengayuh becak. Juga bagian dari transisi menuju transportasi yang ramah lingkungan.
Lalu, apakah kesejahteraan para penarik becak terangkat dengan bantuan ini? Mayoritas tukang becak yang ditanya menggelengkan kepala ketika ditanya.
“Kalau dari segi pendapatan tetap masih banyak saat menggunakan becak kayuh dulu. Sehari saya bisa dapat Rp 80 ribu sampai Rp 100 ribu saat sedang ramai,” tutur Jk, 45, warga Kecamatan Kota.
Sedangkan ketika menggunakan belis ‘Prabowo’, rata-rata sehari hanya dapat Rp 50 ribu. Sebab jarak tempuhnya lebih terbatas. Juga kerap memarkirkan kendaraan.
“Kalau memang seharga sepeda motor sepertinya lebih baik dibelikan motor saja. Lebih berguna. Saya bisa ngojek dan perawatannya lebih mudah,” sebutnya sembari menjelaskan baterai becaknya ikut panas bila terkena terik matahari.
Mar, 50, warga Kelurahan/Kecamatan Pesantren juga mengatakan hal sama.Penggunaan becak listrik yang digadang-gadang mampu meningkatkan kesejahteraan pengayuh becak belum terealisasi.
“Sejahtera belum. Setiap hari masih susah mencari penumpang dan perawatan serta penggunaannya sangat ekstra. Kalau rusak biaya perbaikannya mahal,” keluhnya.
Becak listriknya pernah rusak dan dibawa ke bengkel. Biayanya sampai ratusan ribu rupiah. Nilai yang relatif mahal bagi dirinya.
Baca Juga: Wali Kota Kediri Vinanda Siapkan SPLU untuk Menunjang Becak Listrik Bantuan Presiden Prabowo
“Sejak saat itu saya hati-hati memakainya. Kalau tidak pas kepepet ya tetap pakai becak kayuh,” tandas bapak dua anak itu.
Belum lagi, tak banyak montir yang bisa memperbaiki. Keahlian membetulkan kendaraan listrik masih sedikit dimiliki bengkel. Beda dengan sepeda motor yang di mana-mana tersedia montirnya.
Rebo juga menganggap belis belum membawa perubahan signifikan pada pekerjaannya. Pendapatan yang diperoleh relatif sama dengan saat menggunakan bemot.
Editor : Andhika Attar Anindita
Sumber : Radar Kediri