Kisah Sosok Nur Atikah, Atlet Atletik Disabilitas Nasional dari Kediri: Kalahkan Takut yang Mengurung Hidup  

Muhamad Asad Muhamiyus Sidqi • Dipublikasikan Jumat, 24 Juli 2026 | 09:30 WIB
Sosok Nur Atikah
Sosok Nur Atikah Atlet Atletik Disabilitas Nasional dari Kediri.

 

Kehidupan tak pernah mudah bagi Nur Atikah. Sejak lahir harus hidup dengan kondisi low vision atau gangguan penglihatan. Namun siapa sangka, di balik kondisinya itu, dia bisa menjadi atlet lari dan lompat jauh nasional.

ASAD M.S., JP Radar Kediri 

"Walau kondisi seperti ini, harus buktikan bahwa bisa berprestasi. Apalagi banyak yang justru lebih parah namun prestasinya banyak," tegas Nur Atikah. Ucapan yang menggambarkan seperti apa motivasinya agar bisa terus maju.

Ya, perempuan yang akrab disapa Tika itu merupakan penyandang tuna netra.

Dia mengidap low vision. Pandangannya tidak bisa berfungsi seratus persen.

Saat masih kecil, Atika belum benar-benar memahami kondisi matanya. Ia hanya merasa sering menabrak tembok dan barang-barang lainnya saat berjalan.

Karena  kesulitan memfokuskan pandangan, dia juga sering jatuh.

"Pas jalan gitu tiba-tiba nabrak. Kalau tidak gitu jatuh," kenangnya. Ada tawa ketika dia menceritakan hal itu. Seakan membuat satir dari kisah hidupnya sendiri.

Ketika duduk di bangku kelas lima SD, ia mulai sadar ada yang berbeda. Tatapannya tak bisa lurus.

Benda-benda di kejauhan terlihat kecil dan samar. Sementara aktivitas sehari-hari menjadi jauh lebih sulit dibanding teman-temannya.

Kesadaran itu membuatnya terpukul. Apalagi guru pernah menyarankan agar ia menjalani operasi mata.

Sayangnya, kondisi ekonomi keluarga yang hanya mengandalkan pekerjaan serabutan membuat harapan itu harus dipendam. Operasi bukan pilihan yang bisa diwujudkan.

"Karena ekonomi pas-pasan, jadi ya tidak biaa operasi," ujar perempuan kelahiran Banyuwani itu.

Baca Juga: Sosok Rachma Nurpradita, Bhayangkari Kreatif Geluti Face Painting: Bahagia Lihat Customer Senang

Kondisi tersebut sempat membuat Tika kehilangan semangat. Ia lebih sering mengurung diri di rumah.

Sepulang sekolah, waktunya hanya dihabiskan untuk tidur. Di benaknya, muncul pertanyaan mengapa ia harus dilahirkan dengan kondisi seperti itu.

"Kenapa kok aku dilahirkan seperti ini. Kok nerbeda dari yang lain," kenang wanita yang tinggal di Kelurahan Dandangan, Kota Kediri ini.

Namun, justru dari dunia seni Tika menemukan alasan untuk bangkit. Dia gemar mengikuti lomba menyanyi dan menari.

Meski penglihatannya terbatas, guru-gurunya dengan sabar membimbing setiap gerakan melalui sentuhan. Perlahan ia mulai mengoleksi piala demi piala.

Lomba itu pula yang mempertemukannya dengan penyandang disabilitas lain. Menjadikan cara pandangnya berubah. Melihat banyak teman yang kondisinya jauh lebih berat. Bahkan mengalami kebutaan total tapi bisa berprestasi.

Semua itu menjadi titik balik hidupnya. Ia berhenti mengasihani diri. Berbalik menanamkan tekad maju. Jika orang lain mampu dengan keterbatasan yang lebih berat, mengapa dia menyerah?

Dukungan keluarga juga jadi penyemangat.  orang tuanya tak pernah melarang apa pun yang ingin dicobanya.

Selama hal itu positif, mereka selalu memberi restu. Dukungan sederhana yang membuat Tika percaya diri mengejar mimpi.

Takdir kemudian  membawanya ke Surabaya, bekerja. Kemudian pindah ke Kediri. Di kota inilah dia bertemu Mikro Divani Irawan. Pria yang juga pengidap low vision dan kemudian menjadi suaminya.

Baca Juga: Sosok Agung Prio Apriliano, dari PlayStation ke Juara Nasional Downhill: Balapan Pertama, Bannya Bocor di Lintasan

Titik itulah yang mengubahnya menjadi olahragawan. Awalnya sang suami yang menjadi atlet. Turun di cabang atletik nomor lempar cakram. Sayang, cedera membuatnya harus berhenti dini.

Sang suami itu kemudian meminta istrinya mencoba nomor lari. Sebab, dia melihat atlet disabilitas lari di Kediri sangat sedikit.

Awalnya, ajakan itu diterima dengan ragu. Kendala teknis membuatnya Tika takut saat berlatih pertama kali. Dia tak seirama dengan guide yang menggandengnya ketika berlari.

Ayunan kaki mereka tak seirama. Berujung pada kaki tersandung batu, terjatuh, dan kepala membentur tanah. 

"Badan babras semua, kepala juga tidak bisa dipegang saking sakitnya," ceritanya.

Calon atlet ini pun sempat trauma. Takut terus menjadi pelari. Untungnya, sang suami menyemangati. Menyakinkan sang istri bahwa setiap atlet pasti terjatuh sebelum mampu podium.

Kata-kata itulah yang mengikis rasa takutnya. Dia kembali berlatih. Mendapat guide baru, Abyan Farrel Pramudita Wicaksana, yang lebih cocok dengan ritme langkahnya.

Keduanya mampu membangun komunikasi sejak latihan. Hubungan itu menjadi kunci agar keduanya mampu bergerak sebagai satu kesatuan.

Hasilnya? Manis. Tika menjadi runner up lari 100 meter dalam Paralimpik Jatim.

Kemudian, medali emas untuk lompat jauh. Nomor yang awalnya tidak terlalu ia minati.

Kini Tika sedang beristirahat dari lintasan. Menanti kelahiran buah hatinya. Meski begitu, semangatnya tak pernah padam.

Ia bertekad kembali berlatih setelah kondisinya pulih. Mencoba mengejar prestasi yang lebih tinggi.

Baca Juga: Sosok Anisa Aulia, Atlet Tuna Daksa Andalan Paralimpik Kota Kediri: Keterbatasan Tak Menghalanginya Meraih Mimpi

Baginya, kemenangan bukan sekadar medali. Kemenangan sesungguhnya adalah saat ia berhasil mengalahkan rasa takut yang pernah mengurung hidupnya.

Dari seorang anak yang sering menabrak karena tak mampu melihat jelas, menjelma menjadi pelari yang berani berlari kencang meski matanya tertutup.

Ia memang tidak bisa melihat dunia dengan sempurna. Tetapi keberanian, tekad, dan harapan membuatnya mampu menunjukkan bahwa mimpi tak pernah membutuhkan penglihatan yang sempurna, melainkan hati yang tak pernah berhenti percaya.

"Kondisi bukan penghalang. Asal punya tekat kuat, apapun bisa diraih," ujarnya.

 

Editor : Andhika Attar Anindita
Sumber : Radar Kediri
paralimpik low vision nasional tuna netra