KEDIRI, JP Radar Kediri - Ecoprint bukan semata hobi bagi wanita ini, hanya digeluti kala libur dari rutinitas keseharian. Melainkan ladang cuan yang menggemerincingkan koin-koin penghasilan. Karyanya pun dikenal hingga manca negara.
HILDA NURMALA RISANI, Kota, JP Radar Kediri
Nurul Sa’diyah menata lembaran-lembaran pakaian. Ada outer, ada kaus, ada pula yang masih berupa kain. Barang-barang itu dia gantungkan pada hanger pakaian. Kemudian digantungkan di gondola portable.
Sementara, beberapa sepatu dengan motif aneka rupa juga ikut dipajang. Tentu tidak digantung seperti barang lain. Melainkan ditempatkan di permukaan meja yang berukuran dua kali satu setengah meter.
Baca Juga: Bisnis Ecoprint Pensiunan Guru SD Ini Terjual hingga Negeri Kanguru, Ini Awal Mulanya!
Sang suami ikut membantu. Menata beberapa barang lain. Semuanya tertata rapi di lapak yang lokasinya di jalanan dekat Hotel Grand Surya itu. Di arena Car Free Day (CFD) yang berlangsung setiap Minggu pagi di Jalan Dhoho.
“Seperti ini rutinitias kami di Minggu pagi,” ucap perempuan yang sehari-hari berprofesi sebagai arsiparis di salah satu perguruan tinggi swasta di Kediri ini.
Barang yang dijual di arena CFD itu juga ‘agak laen’. Semuanya memiliki warna pastel, teduh dan enak dilihat. Menjadi daya tarik tersendiri bagi yang melintas. Menghentikan langkah, melihat-lihat, kemudian bertanya-tanya. Tak sedikit yang mengakhirinya dengan transaksi.
Baca Juga: Kisah Inspiratif Sri Ayuni : Memadukan Bisnis dan Peduli Lingkungan dengan Batik Ecoprint
Semua jualan itu merupakan produk ecoprint. Teknik menghias dan memberi warna menggunakan bahan-bahan alami. Bisa dari daun, bunga, atau yang lain.
“Saya mengenal ecoprint pada 2018. Ada program dari pemerintah kota untuk nge-eco bareng dengan ibu-ibu seluruh Kota Kediri,” cerita perempuan yang punya nick-name Nurul ini.
Sejak saat itu, dia berkenalan dengan ecoprinter dari berbagai wilayah. Mulai membaca peluang. Kemudian, membuat karya ecoprint dan menjualnya. Meskipun saat itu masih sulit. Karena banyak yang belum tahu dan paham.
Saat pandemi Covid-19 silam, dia justru sering mengikuti pelatihan. Pematerinya ecoprinter-ecoprinter tenar. Seperti pemilik Inen Signature, pelopor fashion berkelanjutan dan ecoprinter terkemuka Indonesia.
“Nah habis itu saya semakin dikenal. Saya juga masuk di grupnya ecoprinter seluruh Indonesia. Mulai mengenal beberapa ecoprinter di Indonesia,” bebernya.
Semakin mendalami dunia ecoprint, membuatnya kian penasaran. Apalagi, dia punya waktu berkarya yang terbatas. Hanya di hari libur, seperti Sabtu dan Minggu. Kesibukannya sebagai arsiparis menjadi sebabnya. Belum lagi perannya sebagai ibu rumah tangga.
“Karya ecoprint saya mulai dijual di CFD. Saat itu setelah Covid-19 sempat booming. Karena juga berbarengan dengan adanya ajakan untuk kembali ke alam,” imbuh perempuan 51 tahun itu.
Lapaknya di depan hotel besar di Kediri Raya itu menarik perhatian pengunjung. Termasuk bule-bule yang datang. Kefasihannya dalam berbahasa Inggris ikut menunjang upayanya memasarkan produk ke mereka. Turis-turis manca itu akhirnya sering membeli produknya.
“Ada yang dari Finlandia, tertarik dengan kain ecoprint saya,” ceritanya bangga.
Sejak itu dia kian menggencarkan pemasaran. Tak lagi hanya menjual di arena CFD. Pemasaran online pun dia pilih. Platform-platform media sosial jadi jalannya meluaskan jangkauan khalayak.
Tak heran, ketika sedang ramai-ramainya, omset yang diperoleh bisa mencapai jutaan rupiah dalam satu bulan. Pemesannya tak hanya dari Kediri Raya saja, tetapi juga luar kota bahkan luar negeri.
Tentu saja, cerita suka bukan satu-satunya yang dia dapat. Beberapa kali adalah kisah duka. “Seperti sekarang ini yang (harga) bahan baku naik. Terutama kain dan kulit sebagai dasar ecoprint,” akunya.
Hal itu membuatnya selektif dalam berkarya. Membuat produk bila ada pesanan. Jika tidak, yang dia pasarkan adalah yang ada saja. Tidak lagi berambisi membuat produk anyar.
Hal itu sebenarnya bisa jadi sesuatu yang kontra-produktif. Sebab, ecoprint karya Nurul punya ciri khas yang sulit didapat dari karya lain. Yaitu ada satu jenis daun yang dia gunakan. Namanya daun Afrika.
“Daun Afrika ini tidak ada di Kediri. Kebanyakan di Jawa Tengah. Saya menanam di pekarangan rumah,” sebutnya.
Daun dari pohon bernama latin Vernonia amygdalina itu memang punya ciri khas. Kokoh dan tidak mudah luntur. Warna yang dihasilkan pun kuat dan menyala.
Tak hanya daun Afrika yang jadi andalan. Nurul selalu mencari daun lain ketika bepergian. Membuatnya kerap menemukan warna yang sebelumnya belum ditemui.
“Ketika berpergian saya tidak tertarik sama jalan. Yang saya lihat tumbuhan-tumbuhannya. Daun-daun saya liatin. Kadang tuh saya ngeramban (istilah mencari dedaunan untuk pakan ternak, Red),” beber perempuan berdomisili di Setonogedong, Kecamatan Kota itu.
Baca Juga: Sentra Batik Ecoprint Desa Putren, Kecamatan Sukomoro
Baginya, ecoprint tak hanya melestarikan alam. Juga mensyukuri ciptaan Tuhan. Memanfaatkan daun yang dianggap sampah jadi mesin uang.
“Meski prosesnya tidak mudah, hitungannya produk yang saya jual masih murah. Pouch make up kecil Rp 10 ribu. Termahal ada tas ransel Rp 350 ribu,” terangnya, sembari menata barang-barang yang dia pajang. Membuatnya lebih atraktif agar menarik mata pengunjung CFD.
Editor : Andhika Attar Anindita
Sumber : Radar Kediri