Tak bisa melihat sejak lahir bukan halangan bagi gadis ini berprestasi. Memanfaatkan suara emasnya, dia mampu mengoleksi banyak piala. Dari berbagai kompetisi tarik suara yang dia ikuti.
EMILIA SUSANTI, Kabupaten, JP Radar Kediri
Gadis itu diam beberapa detik. Mengambil nafas panjang. Gestur tubuhnya menandakan dia tengah memusatkan konsentrasi.
Sepenggal waktu kemudian bibirnya terbuka. Keluar sepenggal lirik lagu nasional karya komposer Ismail Marzuki. Judulnya, Rayuan Pulau Kelapa.
“Melambai-lambai, nyiur di pantai. Berbisik-bisik, raja kelana. Memuja pulau, nan indah permai. Tanah airku, Indonesia.”
Baca Juga: Sosok Rachma Nurpradita, Bhayangkari Kreatif Geluti Face Painting: Bahagia Lihat Customer Senang
Suaranya merdu, juga lembut. Sangat elok didengar. Remaja berusia 18 tahun itu menyanyikan lagu tersebut tanpa sumbang.
Tak heran bila banyak piala berjajar menghiasi lemari kaca di sudut ruang tamu rumahnya. Piala-piala itu kemudian diturunkan. Tertulis di bagian bawahnya dari mana piala itu berasal. Hampir semuanya dari kompetisi bernyanyi. Mulai tingkat kabupaten hingga Jawa Timur.
“Terakhir tingkat provinsi, juara tiga. (Menyanyikan) dua lagu. Hilang tanpa Bilang dari Meiska sama lagu Jaranan,” cerita gadis bernama lengkap Gisella Margaretha Laurin ini.
Gisel-panggilan sehari-harinya-tak sendirian. Di ruang tamu rumahnya, di Dusun Duluran, Desa Gedangsewu, Kecamatan Pare, Rini Prasetyo Winarsih, ibunya menemani. Di rumah itu Gisel tinggal bersama orang tuanya dan seorang adik perempuan.
"Waktu kecil itu awalnya cuman dari piano mainan. Di situ anaknya ya bisa-bisa gitu. Akhirnya saya belikan keyboard," ingat Rini, mengenang awal dirinya mengenal bakat sang anak.
Saat itu, usia Gisel masih sekitar tujuh tahun. Melihat potensi dalam bidang menyanyi itu dia dan suaminya tak mau tinggal diam. Sang anak diikutkan kursus menyanyi.
Perlahan tapi pasti, kemampuannya dalam tarik suara kian terasah. Hingga rajin mengikuti lomba menyanyi di tingkat sekolah. Misalnya Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N).
"Pertamakali ikut lomba itu langsung juara satu di tingkat kabupaten. Lalu naik ke provinsi dapat juara harapan dua," jelasnya.
Saat itu keluarga ini belum tinggal di Kediri. Masih berdomisili di Kecamatan Pacet, Mojokerto.
Setelah itu Gisel semakin aktif mengikuti berbagai ajang menyanyi. Semangat yang tak luntur meski dia harus pindah ke Kediri.
"Setelah tinggal di Kediri, Gisel ini sekolah di Jombang. Karena guru yang mengajari menyanyi di Mojokerto itu kebetulan dipindah ke Jombang. Jadi kami sekolahkan di Jombang," beber Rini.
Perjuangan yang dilalui tentu tidak mudah. Demi mengasah kemampuan menyanyi dengan guru kesayangannya, Gisel harus pulang pergi Jombang-Kediri. Itu dilakukan tiga tahun lamanya.
Menurutnya, Gisel memang sudah cocok dengan sang guru tersebut. Sudah dianggap seperti keluarga sendiri.
" Yang bisa ngerti Gisel ya Pak Agung itu, jadi kami ngalahi sekolah di Jombang," ceritanya Rini.
Saat masuk sekolah menengah atas (SMA), Gisel akhirnya bersekolah di Kediri. Di SMA Dharmawanita 1 Pare. Juga masih aktif mengikuti berbagai ajang lomba di Kabupaten Kediri. Kerap pula diundang dalam berbagai kegiatan di Bumi Panjalu.
"Sering dari dinas sosial itu. Lalu kadang dari PKK mana gitu. Lucunya lagi kalau di sini banyak yang request dangdut, kadang udah selesai acaranya masih minta nambah lagu," ungkapnya.
Gisel tak pernah mengeluh dengan berbagai permintaan itu. Pun tak pernah merasa keberatan saat mengikuti lomba menyanyi. Bahkan, saat tak mendapat juara pun, Gisel tak pernah menyerah.
"Kalau nggak juara ya dicoba lagi tahun depan," kata Rini sembari menyebut Gisel selalu minta doa di setiap akan naik ke panggung.
Uniknya lagi, Gisel tak pernah merasa grogi saat mengikuti lomba. Dia mengaku selalu bersemangat saat di panggung. Padahal, rasa nervous merupakan situasi umum yang dialami seorang penyanyi.
"Nggak grogi," tegasnya, sambil duduk lesehan di samping ibunya.(fud)
Editor : Andhika Attar Anindita