KEDIRI, JP Radar Kediri - Dia membangun bisnis dengan modal nekat, dengan uang utangan. Merasakan jatuh bangun dalam merintis usaha, termasuk ditipu rekan bisnis. Kini, setelah mapan dia pun berusaha ‘membaginya’ untuk memberdayakan UMKM hingga pengamen.
HILDA NURMALA RISANI, Kota, JP Radar Kediri
Alamat rumah ini di Jalan Tambora. Secara administratif masuk wilayah Kelurahan Bandarlor, Kecamatan Mojoroto. Diapit persawahan yang membentang di barat, timur, maupun selatannya.
Baca Juga: Dibalik Sosok Rodri Pemain Terbaik Piala Dunia 2026, Sosok Unik Sarjana Bisnis
Untuk mendatanginya harus melalui gang yang tak terlalu lebar. Hanya cukup untuk satu mobil melintas. Namun suasananya menenangkan. Jauh dari bising deru kendaraan.
Di rumah inilah Firman Wahyu Pratama tinggal. Seorang anggota polisi berpangkat ajun inspektur satu alias aiptu.
Sebagai anggota polisi, bertugas di propam Polres Kediri Kota, tentu kesehariannya penuh kesibukan. Namun, sang polisi ternyata masih sempat meluangkan waktu. Menggelar pengajian di halaman rumahnya yang luas itu.
“Saya hanya menyediakan tempat. Mempertemukan Jemaah dengan guru yang kompeten. Yang menyampaikan ilmu tentu sang pengasuh,” terang pria 42 tahun ini.
Pengajian yang digelar di rumahnya tak hanya satu, melainkan dua. Pertama, Jaringan Ngaji Keluarga yang berjalan empat tahun. Jumlah jemaahnya 100 orang. Pengasuhnya datang dari Pondok Pesantren Al-Falah Ploso.
Kedua, Halaqah Semesta Muhammad. Pengajian ini baru berjalan empat bulanan. Jemaahnya masih 20-an orang. Pengasuhnya adalah Kiai Ahmad Junaidi Shiddiq, pengasuh pondok pesantren Bumi Dzikrullah, yayasan As-Shiddiqi.
Dua forum pengajian itu menjadi jalan Firman untuk berbagi dan memberdayakan sesama. Memberdayakan pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) hingga pengamen.
“Saya hanya ingin mewadahi (masyarakat). Sebagai anggota Polri, ini cara saya berkontribusi kepada masyarakat,” kilahnya merendah.
Firman memang punya cara untuk melakukan pemberdayaan UMKM hingga pengamen itu melalui pengajian. Setiap kali menggelar pengajian kebutuhan konsumsi pasti tinggi. Nah, penyuplai makanan dan minuman itulah yang dia dapatkan dari para pelaku UMKM.
Pemberdayaan UMKM juga dia lakukan setiap Jumat. Dia rutin menggelar Jumat Berkah. Mencari tempat makan, kemudian membayari agar pembeli yang datang bisa makan gratis.
Baca Juga: Dari Pecinta Alam, Sosok Imam Sobirin Kini Bergelut dengan Reklamasi Tambang di Kalimantan
Lalu, memberdayakan pengamen? “Mereka saya ajak ikut pengajian lebih dulu. Setelah itu pelan-pelan, kalau mereka ingin, saya ajari untuk berusaha,” jelasnya.
Mengapa Firman melakukan hal-hal seperti itu? Semuanya tak terlepas dari perjalanan hidupnya yang berliku. Mulai dari hidup pas-pasan hingga memiliki bisnis di luar profesinya sebagai penegak hukum.
“Tahun 2012 saya membawa istri mutasi dari Lampung ke Kediri. Tanpa memiliki modal dan rumah. Kami menyewa kos satu petak di daerah Balowerti,” kenangnya.
Saat itu gajinya pas-pasan. Habis untuk kebutuhan sehari-hari. Anaknya pun harus dia titipkan ke orang tua.
Saat itulah dia berpikir untuk nyambi bisnis. Kemudian melihat peluang. Yang tergambar adalah jual beli batu granit.
“Dulu waktu dinas di Lampung saya sering main ke rumah tetangga yang kebetulan sama-sama dari Trenggalek. Mereka bisnis granit dan saya kepikiran untuk mencoba di sini (Kota Kediri, Red),” terangnya.
Jadilah pada 2013 dia terjun ke bisnis itu. Modalnya, utang pada teman sesama polisi sebanyak Rp 8 juta. Juga dengan nol pengalaman. Tak tahu cara baca meteran, mencari importir granit, mencari pelanggan, memahami karakter material, hingga menjalin relasi.
“Tapi saya nekat mencoba. Pada dasarnya hanya ada dua pilihan. Berhasil atau gagal,” bebernya.
Pelan tapi pasti bisnisnya mulai jalan. Pemesan pertamanya adalah tetangganya. Sejak itu pintu-pintu rezeki mulai terbuka. Pelangganya terus berdatangan. Masyarakat biasa hingga tokoh penting. Tak hanya dari Kediri, juga luar daerah.
“Kalau sekarang alhamdulillah pelanggannya sudah menyebar. Untuk provinsi Jawa Timur ada dari Kediri, Surabaya, Malang, Probolinggo, dan Banyuwangi. Kalau luar provinsi pernah dari Yogyakarta, Jakarta, Sulawesi, Kalimantan hingga Ambon,” terangnya memerinci asal customer-nya.
Tapi, sejatinya, jalan tak semulus itu. Dia dan istrinya, Candra Puput Hapsari, pernah ditipu rekan bisnis. Membuatnya sempat gulung tikar. Karena tak mampu menutup utang-utangnya.
Untungnya, dia yakin semua bisa dilewati. Hasilnya, benar juga. Kini dia tak hanya menggeluti penjualan granit. Juga merambah interior dan furnitur.
Baca Juga: Sosok Indri Wahyuni, Juri Lomba Cerdas Cermat LCC 4 Pilar Kalbar yang Viral Komentari 'Artikulasi'
“Dari perjalanan tersebut, saya menyadari bahwa setiap keberhasilan merupakan amanah yang harus dibagikan kepada orang lain,” terang bapak dari dua anak itu.
Alasan itulah yang memutuskan untuk berbagi. Mencoba membagi kepada sesama, kepada masyarakat di sekitar yang membutuhkan.
“Selama bertahun-tahun rumah menjadi tempat berkumpul berbagai kalangan. Mulai dari warga yang menghadapi persoalan hukum, pelaku usaha yang kesulitan mengembangkan bisnis, anggota perguruan pencak silat, dan masyarakat dari berbagai latar belakang,” paparnya.
Dia kemudian berpikir, penyelesaian masalah saja tidak cukup. Dibutuhkan pembinaan mental dan spiritual agar seseorang memiliki arah hidup yang lebih baik. Maka, dibuatlah forum pengajian. Jemaahnya datang dari kalangan remaja, pengamen, guru, ASN, pensiunan, hingga pengusaha. Juga tak hanya dari Kediri. Ada yang dari Tulungagung, Sidoarjo, dan daerah lain.
Baca Juga: Sosok Jumhur Hidayat, Tokoh Buruh yang Dilantik Presiden Prabowo jadi Menteri Lingkungan Hidup
Firman juga membantu pelaku usaha yang butuh pendampingan. Jika ada persoalan yang tidak bisa ditanganinya, dia menghubungkan mereka dengan komunitas maupun mentor yang lebih kompeten. Seperti komunitas Tangan di Atas (TDA) dan Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI).
Menariknya, kegiatan tersebut terbuka bagi siapa saja tanpa memandang latar belakang agama. Beberapa non-muslim bahkan pernah mengikuti. Merasakan manfaat dari suasana kebersamaan yang dibangun.
Editor : Andhika Attar AninditaSumber : Radar Kediri