Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Nila Yusia, Jupel Candi Dorok dengan Segala Obsesinya: Ogah Itu Berbelok Jadi Antusias Angkat Kearifan Lokal

Emilia Susanti • Selasa, 14 Juli 2026 | 23:13 WIB
PENGABDIAN: Nila Yusia, jupel Candi Dorok berpose di latar salah sudut bangunan bersejarah di Desa Manggis, Kecamatan Puncu. (FOTO: Emilia Susanti/JPRK)
PENGABDIAN: Nila Yusia, jupel Candi Dorok berpose di latar salah sudut bangunan bersejarah di Desa Manggis, Kecamatan Puncu. (FOTO: Emilia Susanti/JPRK)

Tak semua tempat ‘diberi’ candi. Pemahaman itulah yang membelokkan semangat wanita ini menjadi juru pelihara Candi Dorok. Dulu sempat ogah-ogahan, kini bersemangat dengan segudang rencana di benaknya. 

EMILIA SUSANTI, Kabupaten, JP Radar Kediri

Wanita itu berpakaian serba hitam. Menjadi salah satu yang sibuk di acara Kirab Agung Budaya Dorok, Minggu (12/7). Riwa-riwi, hilir  mudik, di antara kerumunan massa. Di antara tamu undangan yang hadir.

Handphone-nya bergelantungan di leher. Terikat dengan kalung yang melingkar. Tindakan yang sengaja agar memudahkan komunikasi di sela banyaknya hal yang harus dia lakukan.

Perempuan itu adalah Nila Yusia. Seorang sosok penting dalam pelestarian Candi Dorok, candi yang berada di Dusun Dorok, Desa Manggis, Kecamatan Puncu. Sebab, sehari-hari tugasnya adalah sebagai juru pelihara (jupel) candi.

Baca Juga: Temuan Dwarapala di Blabak Kediri Beri Sinyal Keberadaan Candi, Disparbud Simpan Fragmen di Museum Airlangga

Statusnya sebagai jupel berdasar penunjukan dari Balai Pelestarian Kebudayaan Jawa Timur. Sudah dia emban selama enam tahun. Meskipun surat keputusan (SK) sebagai pegawai pemerintah dengan perjanjian kerja (PPPK) baru didapatnya tahun lalu.

"Saya di sini karena menjadi generasi kedua. Yang pertama (jadi jupel) adalah bapak saya. Karena sudah sepuh akhirnya saya yang menggantikan," terang Nila, menceritakan riwayat mengapa dia ditunjuk mengisi pekerjaan itu.

Memang, rasanya sulit percaya ada wanita muda, masih berusia 34 tahun, yang mau mengabdikan diri sebagai jupel untuk sebuah cagar budaya. Kebanyakan jupel adalah orang yang sudah tua. Pun, kebanyakan lelaki.

Nila mengangguk ketika disodori premis seperti itu. Sebab, dia mengaku memang sempat ogah-ogahan ketika diminta menjadi jupel. Namun, bungsu dari lima bersaudara itu tak mau membahas hal itu terlalu dalam. Hanya menyebut bahwa proses menerima amanah sebagai jupel bukan sesuatu yang mudah.

"Tentu ada penolakan dan ngeyel-nya ya. Karena saya dulu itu memang nggak ngerti. Saya nggak suka sama sejarah sama sekali. Bahkan cerita masa lalu nggak suka sama sekali. Kayak ini apa sih? Saya juga nggak suka sama cerita-cerita kerajaan," jelenterehnya. Nada bercanda jelas terucap dari semua penjelasannya itu.

Apa yang disampaikan itu tak tercermin dari sikapnya saat itu. Antusiasnya di acara kirab budaya tersebut sangat menonjol. Energinya selalu penuh saat berinteraksi dengan setiap orang yang menyapanya.

Riasan wajahnya rasanya berkata demikian. Eyeshadow berwarna pink ditambah eyeliner yang membuatnya matanya terlihat segar. Padahal, setelah mengobrol banyak, dia mengaku hanya tidak memiliki waktu tidur yang cukup.

"Saya itu mempersiapkan ini cuman tidur satu setengah jam," katanya. Saat mengatakan itu jemarinya menunjuk dekor panggung kecil di dekatnya. Panggung yang digunakan dalam prosesi peletakan batu kemuncak candi.

Yang pasti, Nila saat ini tengah menikmati perannya sebagai jupel. Tak hanya soal kegiatan membersihkan candi sebagai bentuk perawatan. Juga kegiatan-kegiatan kebudayaan yang berlangsung di Candi Dorok. Membuatnya kian antusias mengangkat Candi Dorok setelah bertemu komunitas pegiat budaya.

Baca Juga: Peletakan Batu Kemuncak Jadi Wujud Penghormatan Leluhur, Kirab Agung Candi Dorok Dimeriahkan Delapan Tumpeng

"Saya akhirnya belajar bahwa kita punya candi itu nggak semua wilayah bisa punya. Saya cukup berbangga hati punya acara seperti ini (kirab budaya, Red) karena kami bisa mengangkat nilai-nilai yang ada, potensi yang ada di di sini itu menjadi suatu ikon. Ketika di wilayah lain kita melihat hanya sebatas candi, kami di sini punya candi, sanggar, nilai budaya, yang bisa kami pamerkan," jelasnya panjang.

Tidak cukup dengan menggelar kirab budaya saja. Nilai juga aktif mempromosikan Candi Dorok melalui media sosial. Bekerjasama dengan salah satu tempat kursus di Kampung Inggris Pare untuk perjalanan paket wisata di wilayah Dusun Dorok. Tentu dalam paket wisata itu terselip kunjungan ke Candi Dorok.

"Saya punya program inter cultural. Itu saya bekerjasama dengan BEC untuk memperkenalkan potensi yang ada di Dorok. Saya sudah dua kali kedatangan mahasiswa dari California dan Virginia. Jadi mereka ke sini, kami ajak untuk field trip, kunjungan budaya juga," terang wanita berambut hitam panjang ini.

Kendati getol dalam promosi, Nila tetap tak melupakan tugasnya untuk memelihara candi tersebut. Setiap harinya, dia tetap membersihkan kawasan candi yang dilindungi pagar teralis itu. Tak jarang tugasnya itu membutuhkan perjuangan ekstra saat hujan melanda. Tanah di bagian sisi timur candi itu masih rawan longsor saat hujan deras melanda.

"Saat ini kami membuat saluran genangan air. Terus karena habis longsor jadi ya sangat terbatas upaya yang kami lakukan untuk mencegah kerusakan lebih. Kami sangat berharap ini segera diperbaiki dan untuk perbaikan memang harus ada prosedurnya," bebernya.

Nila merasa tugasnya sebagai jupel bukan beban. Sebaliknya, dia merasa senang bisa menjadi bagian penting dalam merawat karya leluhur.

"Mungkin bisa kayak orang-rang mulo gitu ya, ketika anak-anak muda nongkrongnya di kafe tetapi kami ngurusi batu. Tapi itu unik, menyenangkan, bukan sebatas batu, tapi bagaimana karya leluhur itu kita tampakkan. Saya yakin karya leluhur itu tak sebatas kebetulan," ujarnya.

Di samping itu, Tumidi, sang penemu candi, yang merupakan ayah dari Nila juga punya pesan untuknya. "Bapak itu bilang orang yang bisa mempunyai candi itu tidak sembarangan. Jika ini bisa ditemukan oleh sembarangan orang, kenapa di tanahnya orang enggak. Kami juga meyakini bahwa ini adalah suatu berkat, akhirnya sebisa mungkin kami rawat," tandasnya, sambil mengakhiri obrolan panjang.(fud)

 

Editor : Andhika Attar Anindita
candi dorok juru pelihara candi dorok penemu candi dorok jupel candi dorok nila yusia kirab budaya candi dorok