Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Dwi Nur Halimah, Atlet Muaythai Berprestasi Asal Kabupaten Kediri: Awalnya Coba-Coba, Akhirnya Jatuh Cinta  

Emilia Susanti • Sabtu, 11 Juli 2026 | 08:00 WIB
Dwi Nur Halimah saat menerima bonus.
Dwi Nur Halimah saat menerima bonus.

 

Dwi Nur Halimah menjadi salah satu atlet andalan Kabupaten Kediri. Dalam dua ajang Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) ke belakang, atlet muaythai ini rutin menyumbang medali.

Perak di porprov 2023. Lalu, emas di 2025. Prestasi itulah yang mengantarkannya ke Pemusatan Latihan Daerah (Puslatda).

Gadis asal Ringinrejo ini menjadi salah satu atlet yang dipanggil Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kabupaten Kediri menjalani tes paramater. Bersama atlet lainnya, dia tampak bersungguh-sungguh menjalani serangkaian tes. Mulai dari daya tahan, keseimbangan, hingga kecepatan.

Untuk porprov tahun depan, Dwi memang masih menjadi atlet yang diandalkan untuk meraih medali.

Mengingat usianya masih memenuhi syarat. “Saya masih 17 tahun, bulan depan 18 tahun,” kata bungsu dari dua bersaudara itu.

Baca Juga: Liputan Khusus : Sudah Terdaftar di KONI, Mengapa Cabor-Cabor Ini Masih Tak Aktif? Ternyata Ini Masalahnya

Sejatinya, menemui Dwi secara langsung bukanlah hal yang mudah. Pasalnya, hari-harinya dihabiskan di Surabaya. Di sana dia harus berlatih muaythai dengan keras.

Pasalnya dara muda ini telah ditarik oleh KONI Jatim untuk mengikuti Pemusatan Latihan Daerah (Puslatda).

“Kemungkinan nanti malam atau besok saya kembali (ke Surabaya untuk puslatda, Red),” ceritanya saat ditemui seusai tes paramater pada Kamis (10/11) di Lapangan Tenis Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kediri.

Bisa dibilang, Dwi memang sudah jatuh cinta dengan olahraga beladiri ini. Sampai-sampai, dia rela meninggalkan aktivitas dalam kelas demi mengikuti puslatda.

Imbasnya, dia pun harus mengerjakan seluruh tugasnya secara mandiri di sela-sela latihan yang padat.

“Saya kerjainnya saat libur latihan,” ceritanya sembari menyebut dirinya biasa mengerjakan tugas di hari Sabtu dan Minggu.

Perkenalan Dwi dengan muaythai ternyata bermula dari ketidaksengajaan. Dia mengatakan, kakaknya lah yang terlebih dulu turun di dunia bela diri. Yaitu pencak silat.

Awalnya, dia hanya iseng mengikuti sang kakak latihan. Namun, pelatih sang kakak tiba-tiba menawarinya untuk ikut muaythai. 

“Sama pelatih disuruh ikut jalur atlet, siapa tau (jadi atlet, Red). Itu awalnya ya iseng-iseng aja,” ceritanya malu-malu sembari menyebut latihan muaythai itu berlangsung di Ponggok, Kabupaten Blitar.

Baca Juga: Olahraga Domino Bakal Masuk KONI Kota Kediri, Calon Pengurus Segera Adakan Musyawarah

Sejak saat itu, Dwi hanya ikut latihan rutin bersama atlet lainnya. Tak disangka, saat mengikuti kejuaraan di Blitar, dia mulai jatuh cinta. Alasannya sederhana. Seru.

Namun, hal yang membuatnya terus ketagihan adalah saat mendapatkan medali. Usai mendapat medali, dia merasa ingin meraih medali lagi.

“Kalau tanding dapat sesuai yang diinginkan (medali) itu puas,” aku gadis yang meraih medali emas di Kejurnas Muaythai 2025 di Mataram ini.

Bisa dibilang, karir Dwi di dunia bela diri masih panjang. Dia sendiri mengaku masih bersemangat untuk menjalani setiap prosesnya.

Meskipun diakuinya melelahkan. Ke depan, Dwi punya harapan tinggi untuk turun di ajang lebih bergengsi lagi.

Bukan lagi di tingkat nasional. Melainkan ke level Asia. “Harapannya ingin PON, kalau bisa SEA Games,” harapnya malu-malu. (em/tar)

Editor : Andhika Attar Anindita
#Dwi Nur Halimah #muaythai kabupaten kediri #porprov #atlet berprestasi #KONI Kabupaten Kediri