Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Sosok Anisa Aulia, Atlet Tuna Daksa Andalan Paralimpik Kota Kediri: Keterbatasan Tak Menghalanginya Meraih Mimpi

Muhamad Asad Muhamiyus Sidqi • Jumat, 10 Juli 2026 | 07:30 WIB
Sosok Anisa Aulia, Atlet Tuna Daksa Andalan Paralimpik Kota Kediri. (Foto dokumen Anisa)
Sosok Anisa Aulia, Atlet Tuna Daksa Andalan Paralimpik Kota Kediri. (Foto dokumen Anisa)

Ada kisah panjang menyertai pencapaian gadis yang satu kakinya tak berfungsi normal ini di lintasan atletik. Cerita rasa minder karena menjadi sasaran ejekan dan cemoohan. Cerita tentang bangkitnya semangat hingga menjadi atlet andalan paralimpik Kota Kediri.

ASAD M.S., Kota Radar Kediri

Masiya sampean (walaupun kamu, Red) punya kekurangan, sampean tunjukkan bahwa bisa punya prestasi. Jangan sampai kalah dengan orang lain yang normal.”

Itu adalah kata-kata Nita Anggraini, sang ibunda, ketika melihat Anisa Aulia tengah down mentalnya.

Kata-kata itulah yang tertanam di benaknya. Menjadi motivasi hidup. Membuatnya bisa mencapai banyak prestasi seperti saat ini.

Ya, Anisa Aulia adalah penyandang tuna daksa. Terlahir dengan tidak punya kaki kiri. Kondisi yang, tentu saja, bukan pilihannya sendiri. Melainkan sudah kehendak Sang Pencipta.

Tak penyakit yang membuat remaja kelahiran Kediri, 14 Mei 2011 ini seperti itu. Sejak pertama membuka mata di dunia, fisiknya berbeda dengan anak lain.

“Sejak lahir seperti ini,” ujarnya.

Kondisi itu membuat Anisa kecil mengalami perkembangan yang tak seperti sebayanya. Baru belajar berpindah dari satu tempat ketika usia taman kanak-kanak (TK). Melompak menggunakan satu kaki.

Baca Juga: Sosok Inspiratif Mubarok Ainul, Orang Kediri Pertama yang Raih Gelar Doktor Ushul Fikih dari Ummul Qura Makkah

Masa itulah yang menjadi fase yang relatif menyenangkan. Teman-temannya belum memahami perbedaan. Sehingga tidak pernah mempermasalahkan kondisi fisiknya.

Semuanya berubah ketika masuk sekolah dasar. Anisa mulai merasakan tatapan berbeda. Beberapa teman mengejek kondisi kakinya. Ada yang memanggilnya dengan sebutan yang membuat hatinya terluka.

Di usia yang masih sangat belia, ia mulai bertanya dalam hati. Mengapa dirinya tidak sama seperti anak-anak lain?

“Aku sempat minder. Malu berteman karena merasa berbeda,” kenang putri pasangan Sunarto-Nita Anggraini itu.

Perasaan itu membuatnya lebih banyak diam. Ia menerima ejekan tersebut tanpa mampu membalas.

Muncul rasa sedih karena merasa tidak bisa menjadi seperti anak-anak lain yang dapat berlari bebas menggunakan dua kaki.

Beruntung, kondisi itu tidak berlangsung selamanya. Memasuki kelas 2 SD, teman-temannya mulai mengenalnya lebih dekat.

Perlahan mereka menerima Anisa apa adanya. Lingkaran pertemanannya pun semakin luas. Dari situlah rasa percaya dirinya mulai tumbuh.

“Ternyata masih banyak teman yang mau berteman dan tidak membedakan saya,” ujarnya.

Baca Juga: Sosok Alvina Mahajaya Putri, Model dan Beauty Pageant Muda Asal Kediri: Tak Hanya Pengalaman, Lawan Juga Guru Terbaik

Meski mulai berdamai dengan keadaan, perjalanan Anisa masih jauh dari kata mudah. Hingga kelas 5 SD, ia belum pernah membayangkan akan menjadi seorang atlet.

Semuanya bermula dari pertemuan yang tidak disengaja di sebuah taman di Kecamatan Ngadiluwih. Saat berjalan-jalan bersama orang tuanya, Anisa bertemu seorang anak penyandang disabilitas yang aktif berlatih renang di komunitas disabilitas.

Dari obrolan singkat itulah, orang tuanya mengetahui keberadaan komunitas atlet disabilitas APCI Kota Kediri. Mereka lalu mengajak Anisa datang melihat latihan.

Awalnya bukan soal olahraga yang membuatnya tertarik. Melainkan karena untuk pertama kalinya ia melihat banyak orang dengan kondisi serupa.

“Rasanya seperti punya keluarga baru. Banyak yang sama-sama disabilitas, jadi saya merasa diterima,” tuturnya.

Hari berikutnya, ia mulai mengikuti latihan. Pelatih kala itu mencoba berbagai nomor atletik, mulai lari, lompat jauh hingga tolak peluru.

Meski begitu, proses adaptasi bukan perkara mudah. Saat pertama berlatih lari, Anisa harus bersaing dengan atlet-atlet lain yang memiliki kecepatan lebih baik.

Dengan menggunakan tongkat penyangga, ia berusaha mengejar ritme latihan yang sudah lebih dahulu dikuasai teman-temannya.

“Saya sempat kesulitan mengejar kecepatan mereka,” kenang gadis 15 tahun itu.

Baca Juga: Dari Pecinta Alam, Sosok Imam Sobirin Kini Bergelut dengan Reklamasi Tambang di Kalimantan

Setiap hari ia mengulang latihan yang sama. Mengayunkan tangan, mengatur langkah, menjaga keseimbangan, hingga memperkuat kaki yang menjadi tumpuan utama.

Ada masa ketika rasa lelah membuat semangatnya turun. Sepulang sekolah, tubuhnya sudah kehabisan tenaga.

Ditambah hasil latihan yang belum menunjukkan perkembangan berarti. Dia sempat ragu apakah olahraga memang jalan hidupnya.

“Pernah kepikiran berhenti. Rasanya capek dan enggak semangat,” ujarnya.

Di titik itulah peran keluarga menjadi penyangga utama. kedua orang tuanya tidak pernah membiarkan Anisa tenggelam dalam rasa minder.

Terus meyakinkan putri sulungnya bahwa keterbatasan bukan alasan berhenti bermimpi.

Kalimat sederhana yang berulang kali disampaikan sang ibu masih diingat Anisa hingga kini. “Tunjukkan kalau kamu juga bisa berprestasi.

Jangan kalah sama yang fisiknya normal,” ucap Nita, mengulang perkataan yang selalu dilontarkan sang ibu agar dia tidak patah semangat.

Motivasi itu tidak berhenti pada kata-kata. Orang tuanya juga memperlihatkan sosok atlet-atlet senior disabilitas yang telah menembus level internasional.

Mereka ingin Anisa percaya bahwa keterbatasan fisik bukan penghalang untuk berdiri di podium juara. Semangat tersebut perlahan mengubah cara pandangnya.

Ia tidak lagi berlatih untuk membuktikan kepada orang yang pernah mengejeknya. Ia berlatih untuk membuktikan kepada dirinya sendiri bahwa ia mampu.

Baca Juga: Sosok Fathimah Azzahra, Wakil Ketua BEM UI yang Lantang Kritik Program MBG

Enam bulan berlatih, kesempatan pertama mengikuti Pekan Paralimpik Pelajar Daerah (Peparpeda) 2022 datang. Anisa langsung membawa pulang tiga medali sekaligus.

Juara ketiga lari 100 meter putri, juara pertama lompat jauh, dan juara kedua tolak peluru. 

Prestasi demi prestasi berdatangan. Pada Peparpeda 2024 ia kembali meraih medali perak lompat jauh. Di Peparpenas XI, sukses menjadi juara tolak peluru F57 putri.

Di 2025 menjadi salah satu musim terbaiknya. Pada Kejuaraan Paralimpik Provinsi Jawa Timur, ia membawa pulang tiga medali sekaligus.

Yakni emas tolak peluru F57 putri, emas lempar lembing F57 putri, dan perunggu lempar cakram F57 putri.

Kini, siswi SMPN 5 Kediri itu menjalani hari-harinya dengan rutinitas sederhana. Pagi bersekolah, sore berlatih.

Olahraga telah menjadi bagian dari hidupnya. Anisa tidak lagi melihat kaki kirinya sebagai kekurangan. Justru dari keterbatasan itulah lahir tekad yang mengantarkannya menjadi atlet berprestasi.

“Keterbatasan fisik bukan penghalang untuk meraih mimpi,” ujarnya dengan penuh semangat. 

 

Editor : Andhika Attar Anindita
#tuna daksa #lari #sosok inspiratif #atletik #APCI