AYU ISMA, Kota, JP Radar Kediri
Dari panggung di halaman Balai Kota Kediri itu mengalun lagu-lagu pop ballad. Bertempo lambat tapi mampu menggugah perasaan yang mendengarkan.
Beberapa lagu di antaranya sudah banyak dihafal kuping, seperti Heal the World-nya penyanyi legendaris Michael Jackson.
Ada juga lagu yang masih asing di telinga. Yang memantik rasa penasaran para pengunjung bazar memeringati Hari Jadi Kota Kediri, Sabtu (4/7) di sepanjang jalan depan Balai Kota Kediri.
Grup musik itu adalah Santaro Band. Siang itu mereka yang menguasai panggung di tengah lapangan rumput itu. Hebatnya, mereka bukanlah kelompok musik ‘biasa’. Semua personelnya adalah penyandang disabilitas.
Baca Juga: Jalan Panjang Sulistiono, Seniman Otodidak Plosoklaten, hingga Karyanya Tembus Pasar Luar Negeri
“Band ini dulu awalnya terbentuk dari peringatan Hari Disabilitas Internasional 2019 lalu. Kami memang sejak dulu menginginkan ada grup band atau seni apapun yang bisa mewadahi teman-teman disabilitas,” ujar Zillus Kurniadi.
Pria itu adalah pendamping Santaro Band. Sedangkan personelnya ada lima orang.
Pandu, pembetot bass yang tuna netra. Kemudian, juga tuna netra, ada Aan yang bermain gitar. Satu lagi dengan disabilitas yang sama adalah Ridas, si penggebuk drum.
Vokal cantik yang muncul dalam setiap penampilan mereka datang dari Silvy. Dia penyandang disabilitas low vision. Kemudian, satu personel lagi adalah Aroon, keybordist yang merupakan penyandang tuna grahita.
Sejak dibentuk, band ini mampu menjadi wadah pengembangan potensi bermusik para penyandang disabilitas tersebut. Menjadi ajang pembuktian bahwa para disabilitas mampu berdaya. Bisa berkembang dan berkarya, termasuk di musik sekalipun.
Mengapa namanya Santaro? Zillus tersenyum kecil. Nama itu diambil dari akronim tiga kecamatan yang ada di Kota Kediri.
“Gabungan tiga nama kecamatan. Pesantren, Kota, dan Mojoroto,” ungkapnya.
Karya-karya musik orisinil mereka juga cenderung mengangkat isu sosial. Di antaranya pesan soal kesetaraan hingga lagu yang mereka ciptakan sebagai dedikasi atas kerja para relawan sosial.
Sempat melewati pergantian personel tak menyurutkan semangat mereka. Hingga kini, Santaro masih konsisten berkarya sekaligus menggaungkan pesan sosial kepada masyarakat.
Baca Juga: Prigel Pangayu, Sinden Gen-Z Kediri yang Lahir dari Keluarga Seniman
“Lagu pertama kami itu judulnya Masih Punya Mimpi. Itu menceritakan tentang masih adanya harapan. Jadi meskipun teman-teman ada kendala, tapi masih punya harapan untuk meraih masa depan,” bebernya.
Pandu pun nimbrung dalam obrolan. Pria dengan nama lengkap Pandu Permadi Laksono ini menyebut mereka berkumpul dari ketidaksengajaan.
Dari unggahan di YouTube, beberapa masyarakat mulai menginformasikan adanya penyandang disabilitas di sekitarnya yang punya bakat di bidang musik.
Bakat-bakat itu selama ini tersembunyi di balik profesi tukang pijat yang memang jadi pekerjaan utama mayoritas personel band.
“Dari getok tular itu akhirnya ketemu orang-orang yang berbakat. Itu yang dewasa saja (yang akhirnya terhimpun di Santaro Band, Red). Belum anak-anak kecilnya,” ungkap pria berusia 33 tahun itu.
Baca Juga: Embran Nawawi, Seniman Wastra Berdarah Betawi tapi Berhati Kediri
Menurutnya, bakat-bakat terpendam itu memang banyak ditemui dari para penyandang disabilitas. Dia pun prihatin karena belum banyak wadah pengembangan yang bisa mengakomodasi.
Melalui kelompok musik inilah, mereka bisa menyalurkan ide-idenya. Berekspresi dalam wadah yang inklusif.
“Teman-teman ini kan walaupun punya keterbatasan tapi sebenarnya punya keinginan, punya mimpi. Dimulai dari menulis syair, dilempar ke saya, akhirnya tercipta karya. Sehingga dari hasil pemberdayaan ini, teman-teman juga bisa punya karya,” terang Pandu.
Proses pembuatan lagu pun dilakukan dengan melewati tahapan brainstorming bersama. Mereka rutin meluangkan waktu di sela kesibukan masing-masing.
Proses latihan atau pembuatan lagu itu biasanya mereka lakukan di studio atau di rumah salah satu personel. Terkadang juga meminjam kantor Dinas Sosial Kota Kediri.
“Semua personel punya rutinitas masing-masing. Mayoritas buka jasa pijat. Jadi kalau latihannya ya kami cari waktu dan tempat yang kira-kira semuanya bisa menyempatkan hadir,” sambung Zillus lagi.
Diakui Pandu, band ini terbentuk dari personel-personel yang beragam dengan ide-ide yang juga sangat luas. Misalnya, genre musik yang digeluti masing-masing personelnya pun berbeda.
Namun itu yang justru jadi kekuatan Santaro Band. Bahwa perbedaan dari banyak sisi itu bisa tetap didamaikan dan disatukan.
“Menggabungkan orang-orang normal dengan pemikirannya masing-masing saja sulit. Apalagi ini yang punya keterbatasan. Tapi dari tantangan itu, pokoknya ditampung saja semuanya (ide-idenya, Red). Setelah itu saya simpulkan dan dibahas lagi dengan teman-teman. Alhamdulillah kok banyak cocoknya,” ujar Pandu, menyebut tantangan dalam menjalankan band ini.
Hingga saat ini, Santaro Band sudah menelurkan tiga lagu orisinil. Lagu-lagu itu pula yang biasa mereka bawakan setiap manggung di berbagai acara.
Baca Juga: Mengenal Sujito, dari Guru Olahraga ke Seniman Topeng Serbuk Kayu
Selain itu, mereka juga mahir membawakan lagu-lagu populer lainnya. Seperti saat mereka tampil di rangkaian Hari Jadi Kota Kediri di balai kota beberapa hari lalu.
Dengan membawakan empat lagu, penonton ikut larut dalam alunan musik yang mereka bawakan secara live.
“Kami ingin menjadikan band ini sebagai ruang ekspresi teman-teman. Termasuk juga sarana rekreatif biar teman-teman nggak capek kegiatan mijet saja. Selain itu, ini juga bentuk social promote bahwa ini, loh, ada teman-teman disabilitas yang juga punya kemampuan setara dan bisa bergerak di bidang seni musik meskipun tetap ada tantangannya,” pungkas Zillus. (fud)
Editor : Andhika Attar Anindita