Masa remaja memang identik dengan pencarian jati diri. Begitu pula yang dialami Alvina Mahajaya Putri, model sekaligus beauty pageant muda asal Kediri.
Sebelum menekuni dunia yang membesarkan namanya, dia lebih dulu melalui proses panjang untuk menemukan bakat yang benar-benar sesuai dengan dirinya.
Baginya, proses itu tidak mudah. Remaja 15 tahun itu sempat mencoba berbagai kegiatan, mulai olahraga hingga musik.
Hingga saat dia duduk di bangku kelas 6 SD, remaja asal Pare itu mulai dikenalkan pada dunia modelling. Di bidang itulah, dia merasa menemukan tempat yang tepat untuk berkembang.
Alvina memulai perjalanannya itu dengan mengikuti lomba foto model. Waktu itu, diakuinya dia ikut karena diminta mencoba.
Sejak saat itu, dia mulai mengikuti kompetisi yang digelar di wilayah Kediri. Seiring waktu, ketertarikannya justru semakin besar setelah melihat berbagai penampilan model runway di media sosial.
Rasa penasaran itu mendorongnya mencari tempat belajar modelling.
Dukungan penuh dari sang ibu membuat Alvina akhirnya bergabung dengan sekolah modelling di Kecamatan Kandangan.
Selama sebulan menjalani latihan intensif, dia mulai rutin mengikuti berbagai perlombaan. Hasilnya pun cukup menggembirakan.
Baca Juga: Dari Pecinta Alam, Sosok Imam Sobirin Kini Bergelut dengan Reklamasi Tambang di Kalimantan
Hampir setiap kompetisi modeling yang diikuti berhasil membawanya naik podium.
“Awalnya saya masih bingung sebenarnya bakat saya di mana. Saya sempat ikut olahraga, musik, tapi belum merasa cocok. Setelah mencoba modeling, saya merasa ini memang dunia yang paling sesuai dengan saya,” ujarnya.
Kemampuan catwalk yang dimiliki membuat Alvina beberapa kali dipercaya menjadi model busana desainer di Kediri.
Namun, dia merasa dunia modeling saja belum cukup. Baginya, tantangan baru justru ada di dunia beauty pageant.
Di sana, peserta dituntut tidak hanya piawai berjalan di atas runway, tetapi juga memiliki wawasan, kemampuan berbicara, hingga kepercayaan diri.
Hal itulah yang membuatnya terdorong mengikuti ajang beauty pageant pertamanya saat duduk di kelas 7 SMP.
Berbekal kemampuan catwalk, Alvina mengikuti perlombaan beauty pageant pertamanya. Sayang, debutnya itu belum membuahkan hasil.
Dia gagal meraih gelar utama karena belum memahami konsep penilaian pageant. Meski demikian, kegagalan itu tidak membuatnya berhenti.
Justru dari ajang tersebut dia memperoleh penghargaan Best Catwalk. Dia juga banyak belajar dari peserta lain yang lebih berpengalaman.
Alih-alih melihat lawan itu sebagai alasan untuk berkecil hati.
Baca Juga: Sosok Fathimah Azzahra, Wakil Ketua BEM UI yang Lantang Kritik Program MBG
“Saya tidak minder. Justru saya lihat mereka sebagai inspirasi. Saya belajar cara mereka berbicara, cara berjalan, sampai bagaimana mereka membawa diri di atas panggung,” tutur gadis kelahiran 16 Desember 2010 itu.
Dia pun semakin rajin mengikuti berbagai ajang kompetisi. Dia tetap konsisten belajar meski kerap gagal.
Baginya, setiap kompetisi adalah ruang untuk menambah pengalaman, bukan sekadar mengejar kemenangan.
Perlahan kerja keras tersebut mulai membuahkan hasil. Prestasi demi prestasi berhasil diraih. Di antaranya menjuarai Junior Miss Beauty Jawa Timur 2024 dan Miss Unity Indonesia 2025.
Penghargaan itu menjadi bukti bahwa proses panjang yang dijalani tidak sia-sia. Alumnus SMP Negeri 2 Pare itu juga tidak pernah menjadikan materi sebagai tujuan utama ketika menerima tawaran menjadi model atau muse.
Menurutnya, pengalaman jauh lebih berharga dibanding honor yang diterima.
“Kadang memang dapat bayaran, kadang juga tidak. Tapi saya lebih mementingkan pengalaman karena pengalaman itu yang membuat saya berkembang,” akunya.
Di luar dunia modelling, dia tetap aktif mengembangkan diri. Setiap hari dia belajar di Kampung Inggris, Pare.
Juga mengikuti les musik, les menari, latihan modeling, hingga rutin mengikuti berbagai event model dan beauty pageant.
Dia percaya kemampuan seseorang tidak cukup dibangun hanya dari satu bidang. Ke depan, Alvina ingin terus melangkah lebih jauh di dunia beauty pageant.
Mimpi terbesarnya adalah berkompetisi di ajang Puteri Indonesia.
Baginya, ajang tersebut bukan hanya tentang penampilan, tetapi juga kesempatan untuk terus belajar, memperluas wawasan, sekaligus membawa nama baik Kabupaten Kediri di tingkat nasional.
“Kalau modeling melatih catwalk. Tapi pageant mengajarkan saya untuk terus belajar, berpikir, dan menambah ilmu. Itu yang membuat saya semakin tertarik. Saya ingin suatu saat bisa menjadi Puteri Indonesia,” pungkasnya.
Editor : Andhika Attar Anindita