Wanita ini tak membiarkan keterbatasan fisiknya jadi alasan rendah diri. Sebaliknya, kondisi tersebut memacunya terus berkarya. Membangun usaha kue kering hingga dikenal di berbagai toko buah tangan di Kediri.
Postur tubuhnya mungil. Suaranya juga mirip anak kecil, melengking mirip dengan suara nada tinggi.
“Menurut orang-orang saya imut,” terang si pemilik tubuh sambil tersenyum.
Perempuan itu adalah Septa Widyastutik. Pemilik brand ‘Kuker Imoet’. Produk makanan ringan yang kini tersebar di berbagai toko buah tangan alias oleh-oleh.
Nama Kuker Imoet terinspirasi dari postur tubuhnya yang mungil. Juga dengan suaranya yang cempreng melengking, mirip nada beroktaf tinggi.
“Awalnya mau pakai nama Widya Snack. Pas didaftarkan mereknya ternyata pasaran banget. Jadi saya ganti menjadi Kuker Imoet,” ungkap ibu dua anak tersebut.
Hebatnnya, wanita ini sejak lahir dikaruniai keterbatasan. Menjadi penyandang tuna daksa. Berjalan menggunakan kruk. Bila bepergian jauh harus diantar oleh suami, atau keponakan. Kekurangan yang tak menghalanginya menjadi pribadi yang produktif.
Bakat membuat kue diwarisi dari sang ibu. Dulu, ibunya memiliki bisnis katering dan kantin proyek. Kebetulan sang ayah bekerja di bidang pengairan pada proyek pembuatan bendungan di Bondowoso.
Baca Juga: Bisnis Ecoprint Pensiunan Guru SD Ini Terjual hingga Negeri Kanguru, Ini Awal Mulanya!
Tapi, jalan hidupnya tak langsung bertemu dengan dunia kuliner. Awalnya Septa, demikian dia biasa disapa, justru menekuni pembuatan suvenir. Bentuk pelampiasannya karena kecewa tak boleh kuliah di Kota Malang.
Aneka kerajinan dia buat. Mulai kipas tangan, tasbih, hingga manik-manik yang dijadikan gelang. Pemasarannya, ke teman-temannya yang orang tuanya sedang punya hajat mantu.
"Dulu yang beli ya teman-teman bapak dan ibu saya. Kalau ada yang punya hajatan, pesan souvenir ke saya," kenang perempuan 40 tahun ini.
Bisnis kue baru dirintis saat ia di Kediri. Tepatnya saat pandemi Covid-19 2020 silam. Awalnya hanya membuat camilan untuk keluarga. Tak disangka banyak yang menyukai. Kemudian, mulailah muncul pesanan.
Dari sanalah usaha kecil tersebut menjadi bertumbuh. Tentu saja dengan perlahan. Hingga produknya mampu menembus toko-toko kue dan pusat oleh-oleh.
Baca Juga: Jalan Panjang Sulistiono, Seniman Otodidak Plosoklaten, hingga Karyanya Tembus Pasar Luar Negeri
Saat ini dia juga memliki produk best seller. Yaitu stik bawang dan pastel kering isi abon sapi maupun abon lele. Harga kemasan pouch 70 gram stik bawang dibanderol Rp 12 ribu. Biasanya dimanfaatkan untuk isian hampers. Sekali kirim bisa 200 hingga 500 pak, tergantung pesanan.
Dalam menjalankan bisnisnya itu Septa dibantu empat orang karyawan. Produksi dilakukan berdasarkan pesanan sehingga kualitas produk tetap terjaga. Saat musim Lebaran dan Natal, permintaan melonjak drastis hingga ia sering kewalahan memenuhi pesanan.
"Kalau hari raya pernah sampai menghabiskan 100 kilogram tepung. Itu kuenya bisa jadi 200 kilogram. Kadang sampai nolak-nolak" katanya.
Perjalanan usahanya semakin berkembang setelah bergabung dengan komunitas disabilitas di Kabupaten Kediri. Melalui berbagai pelatihan dari pemerintah, ia belajar memperbaiki kualitas produk, kemasan, hingga strategi pemasaran. Ia juga mendapatkan banyak relasi baru yang membuka peluang pasar lebih luas. Omzet yang ia dapat juga naik hingga Rp 2-4 juta per bulan.
Namun, manfaat terbesar yang dirasakan bukan sekadar peningkatan omzet. Bergabung dengan komunitas membuatnya mengenal banyak penyandang disabilitas lain. Berbeda dengan dirinya yang sejak dulu tumbuh di sekolah normal, rata-rata teman disabilitas yang dia temui sudah terbiasa tinggal di asrama dan sekolah luar biasa (SLB) sejak kecil. Di Kediri inilah Septa baru pertama kali berkumpul dan mengenal perjuangan mereka.
"Dulu saya pernah merasa terpuruk. Tapi setelah bertemu teman-teman yang kondisinya lebih berat dan tetap kuat menjalani hidup, saya jadi malu sendiri," ungkapnya.
Kini, Septa dan rekan-rekan sesama disabilitas telah memiliki wadah penjualan mandiri. Namanya Toko dan Galeri DIKTA Suar yang berlokasi di Desa Kranggan, Kecamatan Gurah. Toko yang diresmikan dan didukung oleh pemerintah ini menjadi etalase bagi produk-produk karya penyandang disabilitas.
Baca Juga: Kisah Nanang Maarif Edukator Reptil dari Kampung Madu, Tolak Tawaran TV karena Kasihan pada Hewan
Bahkan, istri Bupati Kediri Haninditho Himawan Pramana, yang akrab disapa Mbak Cica juga menginstruksikan para ASN untuk wajib berbelanja di sana setiap tanggal cantik. Alhasil, tamu Toko Diktasuar kerap dipadati oleh kunjungan kedinasan hingga kalangan universitas yang mulai melirik produk mereka.
Di tengah kesibukannya mengembangkan usaha, Septa memiliki pesan sederhana bagi sesama penyandang disabilitas maupun masyarakat umum. "Jangan hanya menunggu bantuan. Sekarang banyak pelatihan dan kesempatan dari pemerintah. Memang tidak mudah, usaha itu butuh modal, kerja keras, dan ada risikonya. Tapi kalau yakin dan optimis, insya Allah selalu ada jalan," pesannya.
Editor : Andhika Attar Anindita