Mereka kumpulan para barber. Berkelompok bukan sekadar silaturahmi, juga untuk gerakan sosial. Salah satunya ingin menggelorakan semangat literasi di kalangan anak-anak.
ASAD M.S., Kabupaten, JP Radar Kediri
Rambut gondrongnya digelung. Kedua tangannya juga penuh tato yang gambarnya sangar. Dua daun telinganya juga bertindik besar.
Orang yang ada di dekatnya tak jauh beda. Bahkan dagunya lebat, dipenuhi jenggot panjang. Kumis di bawah hidung juga tebal.
Sudut tepinya ditata spiral. Mirip tokoh Pak Raden di salah satu film boneka televisi yang terkenal era 1980-an, Si Unyil.
Tapi jangan salah, tampang memang sangar tapi mereka bukan penjahat. Justru, bila tahu sepak terjang mereka, boleh disebut berhati mulia.
Ya, keduanya adalah bagian dari Syndicate Barber Indonesia (SBI). Komunitas barber yang banyak berkecimpung di bidang sosial. Telah menggelar banyak kegiatan sosial.
Salah satunya cukur gratis bagi anak-anak. Syaratnya, wajib baca buku!
“Jadi mendatangi lokasi tertentu, menggelar cukur gratis untuk anak-anak. Syaratnya adalah baca buku sebelum cukur,” jelas Ranggi Samudra, salah satu pria gondrong yang merupakan ketua SBI, ditemui di barber shop-nya, di Jl Semeru Kelurahan Tamanan, Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri.
Lelaki kelahiran Kediri, 10 Juli 1995 ini mengatakan, gagasan itu lahir dari pemikiran sederhana. Muncul dari kegelisahan diri melihat fenomena yang memprihatinkan.
Suatu hari, Ranggi mendengar cerita masih ada anak sekolah dasar yang belum mampu membaca dengan lancar. Ada yang sudah duduk di kelas lima namun kesulitan mengenali bacaan.
“Masih ada anak SD yang belum bisa baca. Itu yang bikin saya kepikiran,” ujarnya.
Dari kegelisahan itulah muncul ide yang terdengar tidak biasa. Bagaimana jika kegiatan mencukur rambut dipadukan dengan membaca buku?
Anak-anak boleh mencukur rambut secara gratis. Namun mereka harus membaca buku terlebih dahulu.
Kebetulan teman-teman barber di Kecamatan Pare sedang ingin membentuk komunitas. Dari situlah ada keinginan untuk memadukan tujuan sosial itu.
Program itu kini menjadi salah satu gerakan sosial yang dijalankan SBI. Namun perjalanan menuju titik tersebut sudah dimulai jauh sebelum komunitas itu berdiri.
Ranggi sudah akrab dengan dunia cukur rambut sejak duduk di bangku sekolah dasar.
Putra pasangan almarhum Tedjo Hermawan dan Dian Marhaeni itu tumbuh di lingkungan yang tidak jauh dari dunia tata rambut.
Sang ibu memiliki salon. Saat masih kelas lima atau enam SD, rasa penasaran membuatnya mulai mengambil gunting dan sisir yang ada di rumah. Teman-temannya menjadi korban percobaan pertama.
“Setiap hari lihat orang nyukur, ya penasaran. Akhirnya coba sendiri,” kenangnya.
Hasilnya, tentu saja, jauh dari sempurna. Potongan rambut temannya sering kali tidak rata. Bahkan beberapa kali harus dibawa pulang untuk diperbaiki sang ibu.
Namun justru dari situlah proses belajar dimulai. Saat ibunya membetulkan hasil potongan tersebut, Ranggi memperhatikan dengan seksama.
Mengingat-ingat setiap gerakan tangan dan teknik yang digunakan.
“Pas dibenerin itu saya lihat caranya. Besok saya coba lagi ke teman yang lain,” katanya.
Lama-kelamaan kemampuannya mulai berkembang. Saat menjelang masuk SMP, Ranggi bahkan sudah mulai menerima pelanggan dari teman-temannya sendiri.
Tarifnya murah. Hanya Rp 1.000 sekali potong. Jauh lebih murah dibandingkan tukang cukur pada masa itu yang rata-rata mematok Rp 3 ribu hingga Rp 4 ribu.
“Mangkanya banyak teman yang datang,” kenangya berurai tawa.
Saat itu ia masih menggunakan gunting dan sisir. Mesin cukur baru digunakan ketika duduk di bangku SMA.
Sebenarnya, jadi barber bukan cita-cita utama yang dibayangkannya saat kecil. Dia bahkan berkuliah di Jurusan Seni Rupa Universitas Negeri Malang selepas lulus dari SMAN 1 Pare.
Namun, di kampus ia justru menemukan jalan hidup yang dia tekuni saat ini, menjadi barber profesional. Awalnya ia bimbang. Antara menjadi seniman, tato artist, atau barber.
“Yang paling masuk akal ya barber. Kalau tato artist, saya kurang telaten diam fokus lama di satu pekerjaan. Kalau seniman, di Indonesia gak ada uangnya,” jelasnya menyebut alasan.
Baginya, dunia barber dekat dengan dirinya. Ilmu seni rupa yang dipelajari di bangku kuliah sangat berkaitan dengan teknik mencukur rambut.
Konsep gradasi, keseimbangan, tekstur, kontras, hingga komposisi yang diajarkan dalam seni rupa semuanya digunakan dalam dunia barber.
Kesadaran itulah yang membuatnya semakin serius mendalami profesi tersebut. Pada 2015, ia mempelajari teknik barber secara lebih mendalam.
ia juga membuka jasa panggilan ke kos-kosan. Lulus kuliah, pada 2017, Ranggi memutuskan membuka barbershop.
Tempatnya di Pare, di Jalan Soekarno Hatta Nomor 18, Bendo. Kemudian membuka cabang di Mojoroto, Kota Kediri. Dan kini, ada 40 tempat hanya di Pare saja.
Agustus 2025, beberapa barber mengajak Ranggi membentuk komunitas. Ajakan itu direalisasikan, dan dia dipercaya menjadi ketua.
Sejak awal, Ranggi memiliki pandangan berbeda. Komunitas barber tidak harus selalu berbicara soal teknik cukur, bisnis, perlengkapan, atau workshop.
Ia ingin memberi dampak langsung ke masyarakat.
“Saya pengin barber ini bisa jadi movement,” tegasnya.
Hasilnya, 70 persen aktivitas komunitas diarahkan ke kegiatan sosial. Sisanya baru yang berkaitan dengan dunia barber.
Pergerakan pertama mengusung konsep sederhana. Potong rambut di kawasan Tulungrejo, Kampung Inggirs, itu bayar seikhlasnya. Seluruh hasilnya didonasikan ke jaringan Gusdurian.
“Enggak ada yang masuk ke barber, semua didonasikan,” imbuh Arif Agus Amertani, pria yang berkumis ‘Pak Raden’.
Berikutnya mereka menggandeng komunitas lain. Ada komunitas kopi, rumah makan, hingga tato artist. Kegiatan berpusat di halaman Masjid An-Nur Pare.
Selain membuka layanan cukur, juga menggalang donasi. Menyalurkannya ke Sumatra. Dari semua kegiatan, program cukur berbayar baca buku jadi yang paling berkesan.
Konsepnya sederhana, mereka membawa buku ke kampung tujuan. Mereka yang antre cukur harus membaca buku. Ongkos cukurnya gratis. Bagi yang belum bisa, diajari.
“Yang penting baca buku,” kata Ranggi.
Dukungan pun mengalir. Ada yang menyumbang tas, ada yang memberi kaus. Ada pula yang menyediakan makanan dan minuman.
“Kalau mau bantu ya harus barang (jangan uang tunai) yang bisa langsung dirasakan manfaatnya,” kata Sri.
Ke depan, Syndicate Barber Indonesia berencana memperluas gerakan. Menyiapkan workshop barber gratis di ruang-ruang public.
Agar barber muda yang masih berjuang bisa mendapatkan akses ilmu. Tanpa harus mengeluarkan biaya besar.
Editor : Andhika Attar Anindita