KEDIRI, JP Radar Kediri - Bagi perempuan ini menjalankan bisnis ecoprint di usianya yang sudah senja bukanlah hal yang sulit. Termasuk dalam bereksperimen menentukan motif dan warna. Karena semuanya sudah dipersiapkan sebelum memasuki masa pensiun.
HILDA NURMALA RISANI, Kabupaten, JP Radar Kediri.
Di ruangan berukuran 1,5 meter, baik panjang dan lebarnya itu, Sri Winarti men-display dagangannya. Berdempetan dengan stan-stan yang luasnya serupa. Di acara Festival Kuno Kini di Simpang Lima Gumul beberapa waktu lalu.
Situasi seperti itu tak mengurangi daya tarik stannya. Pengunjung pameran kerap berhenti di depan stan. Kemudian masuk untuk melihat-lihat. Banyak pula yang mengakhiri dengan transaksi.
Baca Juga: Unik! Warga Desa Doko Ngasem Kediri Ini Wadahi Perajin Tas Anyaman dengan Petasan
Di stan itu yang terpajang semua adalah hasil karyanya. Ecoprint yang dikreasikan dalam berbagai produk. Kain, pakaian, dompet, hingga tas.
“Saya mulai menggeluti ecoprint terhitung 10 tahun sebelum memasuki masa pensiun,” Sri Winarti memulai ceritanya.
“Memilih ini karena tidak menganggu aktivitas sehari-hari sebagai istri, guru, maupun ibu,” sambung pensiunan guru sekolah dasar (SD) ini.
Sri, demikian dia biasa disapa, tak memiliki dasar keahlian ecoprint. Semua dia dapat secara otodidak. Belajar yang dia persiapkan untuk masa-masa pensiun seperti sekarang.
Baca Juga: Pria Asal Kediri Ini Adalah Satu dari Tiga Perajin Seruling Kayu di Indonesia
Satu hal yang sangat menopang upayanya belajar adalah statusnya sebagai guru SD. Dia selalu dituntut serba bisa. Baik dalam menciptakan ide maupun merealisasikan.
“Namanya guru SD kami kan harus memilik beragam keterampilan. Seringkali kami belajar secara mandiri di internet dan mencobanya agar bisa diajarkan kepada siswa. Latar belakang itulah yang juga mendasari saya punya keahlian di bidang ecoprint ini,” terangnya.
Kebiasaannya belajar itulah yang membuatnya terlatih searching di Google. Atau, melihat-lihat video tutorial di YouTube. Mencoba mencari referensi, sebelum benar-benar terjun di dunia ecoprint.
Bila sudah menemukan apa yang diinginkan, Sri akan melanjutkan dengan eksperimen. Mencoba menentukan apa motif dan bagaimana pewarnaannya.
Baca Juga: Perajin Asal Desa Banjarejo, Plemahan, Kediri Ini Mampu Ekspor Limbah Batok Kelapa hingga Eropa
Mengapa ecoprint menjadi pilihannya? Sri tak tahu pasti. Namun dia sudah jatuh cinta sejak awal dengan dunia ini. Menilainya sebagai sesuatu yang unik. Memiliki nilai seni yang lebih dominan.
“Kami sebagai ecoprinter bisa menyalurkan apa yang dirasakan di selembar kain. Dengan keunikan yang tiada duanya, limited edition. Misalnya, karya daun jati. Meskipun sama-sama daun jati hasilnya tidak akan pernah sama,” terang perempuan berusia 63 tahun itu.
Meskipun sudah berusia senja tak menyurutkan semangatnya untuk terus berkarya. Selalu mencoba menaklukkan tantangan yang ada di depan mata. Menganggap tantangan baru sebagai batu loncatan meraih sukses.
Pun, ketika gagal, dia tak pernah menyerah. Mencoba lagi dan lagi, hingga kegagalan tersebut yang menyerah kalah.
“Kebetulan saya juga hobi corat-coret. Juga memiliki rasa ingin tahu yang tinggi tentang ilmu yang belum saya dapatkan. Jadi ketika tertarik di ecoprint maka saya akan menekuni untuk mencari ilmu dan praktiknya,” bebernya.
Ada yang selalu diingat dan dikenali pelanggan Sri selama ini. Yaitu motif daun cemara serta kenikir. Dua halitu memang menjadi ciri khasnya dalam setiap karya.
Termasuk pula dalam hal pewarnaan. Akan selalu ada pembeda dari karya orang lain. Dari hasil eksperimen tersebut ada resep-resep khusus yang diterapkan. Yang tidak semua orang tahu dan menerapkannya.
“Makanya saya sering cari referensi di internet. Kemudian mencoba memadupadankan resep. Bahan-bahannya berapa persen untuk menghasilkan suatu karya yang diinginkan. Agar hasilnya lebih maksimal dan beda dengan yang lain,” tandasnya.
Baca Juga: Pria Asal Grogol Kediri Ini Bangkit dari Trauma Kecelakaan dengan Menjadi Perajin Batok Kelapa
Kini, 13 tahun lamanya dia menerjuni dunia ecoprint. Menghasilkan pengalaman yang tak terkira. Suka maupun duka banyak diecapnya. Kian membuatnya ingin terus berkarya. Tak peduli kendala yang dihadapi, dia percaya akan selalu ada solusi.
Karyanya pun, dari tahun ke tahun, berkembang mengikuti tren. Salah satunya adalah membuat kain ecoprint menjadi sebuah vest yang banyak dikenakan anak muda.
“Justru customer saya kebanyakan anak muda. Mereka mencari vest dengan motif yang unik,” bebernya.
Dia juga tak bisa lagi bekerja sendiri. Merekrut orang menjadi tim. Teman diskusi dalam mencari ide maupun eksekusi. Sebagai antisipasi perkembangan zaman. Termasuk berubah-ubahnya model pakaian secara cepat.
Baca Juga: Dollar Naik, Perajin Tahu Pusing Tujuh Keliling Karena Ini!
Hebatnya, karya ecoprint-nya ini tak hanya menarik pelanggan dalam negeri. Juga membuat terpesona orang luar negeri. Karyanya sudah terjual hingga ke Negeri Kanguru, Australia.
“Biasanya customer saya ada di Bandung, Jakarta, Surabaya, Malang. Kalau luar negeri juga pernah ke Australia,” ungkap perempuan yang berdomisili di Desa Pagu, Kecamatan Pagu, Kabupaten Kediri ini.
Tak keliru bila dia menyebut wirausaha ecoprint masih menjanjikan. Omzet Rp 5 juta per bulan bisa mudah didapat. Terutama bila sedang ramai-ramainya pesanan.
Baca Juga: Kisah Inspiratif Sri Ayuni : Memadukan Bisnis dan Peduli Lingkungan dengan Batik Ecoprint
“Untuk anak muda saya berpesan jangan takut mencoba. Percaya bahwa setiap tantangan pasti bisa diselesaikan dengan baik. Sedangkan untuk mereka yang sudah berusia senja tidak perlu takut ketika baru akan terjun di dunia ecoprint. Sebab namanya belajar tidak ada kata terlambat,” Sri memungkasi percakapan, menyelipinya dengan dorongan agar mereka yang ingin berwira usaha tak gamang memulai.
Editor : Andhika Attar Anindita