Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Jalan Panjang Sulistiono, Seniman Otodidak Plosoklaten, hingga Karyanya Tembus Pasar Luar Negeri

Diana Yunita Sari • Jumat, 12 Juni 2026 | 12:00 WIB
Sulistiono mengamati lukisannya di pameran gedung Universitas Pawyatan Daha (Diana Yunita/JPRK)
Sulistiono mengamati lukisannya di pameran gedung Universitas Pawyatan Daha (Diana Yunita/JPRK)

JP Radar Kediri - Bagi Sulistiono, keterbatasan ekonomi bukan penghalang untuk terus berkarya. Terpenting adalah konsisten dan tekun membuka peluang. Meskipun tanpa latar pendidikan formal, karyanya bisa melintasi samudera, menembus pasar internasional.

Namanya Sulistiono. Panggilannya pendek saja, Nois. Pria ini hanyalah lulusan sekolah menengah pertama. Tanpa pernah menginjakkan kaki di bangku sekolah lanjutan di atasnya.

Mengapa? Ada niat tulus yang menyebabkan dia memilih berhenti hanya di jenjang SMP. Demi memberi kesempatan kepada adik perempuannya merasakan pendidikan yang lebih layak.

"Waktu itu daftar ulang repot (biaya). Kasihan orang tua karena kami bukan dari keluarga berada,” aku pria yang kini menapak usia 51 tahun ini.

Baca Juga: Kisah Nanang Maarif Edukator Reptil dari Kampung Madu, Tolak Tawaran TV karena Kasihan pada Hewan

“Pikir saya, lebih baik berhenti agar adik bisa sekolah. Kalau laki-laki kerja kasar pun tidak masalah," lanjutnya, menegaskan pilihan yang dia ambil saat itu.

Meskipun berhenti sekolah bukan berarti Nois larut dalam keputusasaan. Sebaliknya, motivasi tinggi menyembul dari dalam dadanya. Seakan meronta-ronta ingin membelokkan jalan nasib yang selama ini kurang menguntungkan secara ekonomi. 

Untungnya, Tuhan memberi satu jalan yang membuka ruang. Warga Desa Jarak, Kecamatan Plosoklaten ini memiliki bakat menggambar sejak kecil. Kebisaan inilah yang dia rawat. Dia asah hingga mampu menjadi keahlian yang menguntungkan.

Baca Juga: Kisah Inspiratif Danang Ki Asmoro, Modifikator Vespa Kediri Beromzet Puluhan Juta

Sebelum era spanduk digital berbahan vinil seperti yang sekarang ramai terjadi, ia kerap bekerja membuat baliho dari triplek di wilayah Plosoklaten. Mulai dari keperluan panggung orkes, kompetisi bola kasti, turnamen voli, hingga ajang child track. Semua gambar baliho itu ia kerjakan secara manual.

Selain melukis di media datar, Nois juga merambah pekerjaan lain. Membuat relief taman, ornamen batuan tebing lengkap dengan air mancur, hingga menerima pesanan mural di truk, bangunan TK, dan rumah pribadi.

Perjalanan Nois untuk masuk ke dunia pameran baru dimulai sekitar tahun 2000-an. Kehadiran internet dan media sosial mempermudah langkahnya untuk berkembang. Melalui platform seperti Facebook, YouTube, dan Google, ia mulai menemukan komunitas seniman dan belajar secara mandiri.

Baca Juga: Dyah Pornawati, Perempuan Pelukis yang Hadir dengan Karya-Karya Idealis, Coretan Pensilnya Jadi Pelampiasan Keresahan

Nois memilih aliran realisme. Aliran yang menuntut hasil lukisan mendekati objek aslinya. 

"Tantangannya di situ, lukisan harus terkesan hidup. Pemandangan yang ada di imajinasi harus dituangkan ke kanvas agar terlihat nyata. Bahkan tanpa contoh sekalipun," jelasnya.

Melalui komunitas yang terbentuk di internet, Nois mulai aktif mengikuti berbagai pameran di wilayah Tulungagung, Kediri, Blitar, Malang, hingga Surabaya. Dia jarang ikut pameran ke wilayah yang jauh seperti Jogjakarta karena pertimbangan ongkos. Sebagai pekerja serabutan, biaya operasional menjadi kendala tersendiri.

"Seringkali hanya lukisannya yang berangkat ke sana lewat komunitas, saya sendiri tidak ikut," tuturnya.

Nois mengakui, menjual karya seni di wilayah pedesaan memiliki tantangan tersendiri karena pasarnya yang terbatas. Karena itu, ia memanfaatkan Instagram dan TikTok untuk memajang karya-karyanya. Strategi ini rupanya efektif mendatangkan pesanan.

Untuk lukisan kanvas, pesanan yang paling sering diterima adalah gambar sembilan ikan koi, yang sering dicari karena filosofi keberuntungannya. Lukisan kanvas tersebut biasanya dihargai sekitar Rp 3 juta.

Baca Juga: Rifqi Nadhim, Pelukis Remaja dari Kediri yang Karyanya Bakal Mejeng di Kantor Kementerian Agama

Namun, pesanan yang paling rutin datang justru adalah sketsa wajah hitam putih di atas kertas ukuran A3. Pesanan ini kerap dikirim hingga ke Hongkong.

"Ada langganan di sana (Hongkong, Red) yang merupakan WNI. Dia punya banyak teman. Jadi setiap ada temannya yang ulang tahun atau punya acara, hadiahnya memesan lukisan dari saya," cerita Nois.

Satu lembar sketsa A3 dibanderol dengan harga Rp 250 ribu. Sekali kirim, Nois biasanya mengemas enam hingga delapan lembar. Jika sedang fokus, ia bisa menyelesaikan tiga hingga empat sketsa dalam sehari. 

Untuk pengiriman ke luar negeri, Nois menggunakan teknik khusus agar kertas tidak rusak. Lembaran sketsa digulung lalu dimasukkan ke dalam pipa paralon. Cara ini menjaga sketsa tetap aman meskipun tertumpuk dengan barang lain di ekspedisi.

Baca Juga: Kisah Nadhim, Pelukis Cilik Kediri yang Sendiri Berusaha Temui Bupati Dhito demi Serahkan Lukisan secara Langsung

Selain ke Hongkong, ia juga kerap menerima pesanan dari luar Jawa. Bila yang ini medianya lebih bervariasi. Bisa melukis di piring atau yang lainnya.

Dalam mencari referensi gambar, Nois biasa menggunakan aplikasi Pinterest. Namun, ia memastikan tidak menjiplak karya orang lain secara mentah-mentah. Hal ini untuk menghindari masalah hak cipta.

"Kami ambil posenya saja, lalu dimodifikasi lagi. Warnanya diganti atau background-nya diubah, jadi tidak sama persis," terangnya.

Saat ini, Nois sebenarnya menerima banyak masukan untuk mendirikan sanggar seni sendiri. Namun, rencana itu belum bisa terwujud karena keterbatasan ruang di rumahnya.

Meski belum memiliki sanggar pribadi, Nois tetap meluangkan waktu untuk berbagi ilmu. Di waktu senggang, ia kerap membantu di Sanggar Lukis Ruslan yang berada di Kecamatan Ringinrejo untuk mengajar anak-anak setempat secara sukarela.

Apapun, apa yang dilakukan Nois ini membuktikan satu hal. Bahwa bakat seni yang ditekuni secara konsisten bisa membuka peluang. Tanpa latar belakang pendidikan formal di bidang seni dia mampu mensejajarkan diri dengan seniman lain. 

 

Editor : Andhika Attar Anindita
#kabupaten kediri #kisah inspiratif #pelukis kediri #kecamatan plosoklaten #seniman kediri