Bocah ini memunculkan prestasi istimewa di tengah rata-rata nilai TKA di Kota Kediri yang kurang memuaskan. Dua mapel yang diujikan dia capai dengan nilai sempurna, 100. Hasil yang dicapai melalui cara belajar unik.
Namanya Moses Sabatian Wicaksono. Siswa SD Kristen Petra Kediri ini dalam waktu dekat akan memasuki jenjang SMP.
Dan, agaknya dia akan beranjak dari fase sekolah dasar itu dengan rasa bangga yang melebihi siapapun. Moses—panggilan akrabnya—mendapat titel sebagai peraih rata-rata nilai TKA tertinggi se-Kota Kediri!
Bocah berusia 12 tahun ini masih malu-malu menceritakan pencapaian hebatnya itu. Padahal, putra pasangan Nyoto Priyo Yuwono dan Kristiana itu mendapat nilai sempurna 100 pada dua mata pelajaran yang diujikan, matematika dan bahasa Indonesia.
“Awalnya nggak terlalu menyangka dapat nilai 100. Pas pertama kali lihat gambarnya, saya kira nilai saya yang bawahnya. Nilainya itu 93 sama 83,” ungkapnya.
Rupanya, dia salah melihat pengumuman. Yang awalnya dikira nilainya, ternyata merupakan nilai anak lain.
Pencarian nilainya itupun dia lanjutkan dengan mengurutkan hingga ke barisan di bawahnya. Namun tetap tak membuahkan hasil.
“Ternyata nama saya justru di paling atas. Awalnya tidak kelihatan karena atasnya itu agak kepotong. Makanya saya kira nama saya ada di bawah,” katanya dengan polos.
Moses memang tergolong anak yang cerdas. Di sekolahnya, pelajar asal Lingkungan Ngadisimo, Kelurahan Ngadirejo itu termasuk unggul di berbagai bidang.
Selain matematika dan bahasa Indonesia, dia juga cerdas di mata pelajaran ilmu pengetahuan sosial (IPS). Hingga pernah mewakili sekolah dan Kota Kediri di ajang Olimpiade Sains Nasional (OSN) di mata pelajaran tersebut.
Baca Juga: Ribuan Siswa di Kediri Ikuti TKA Susulan, Imbas Terkendala Login dan Jaringan saat Pelaksanaan Utama
Namun, sewajarnya anak seusianya, dia tetap punya hobi yang dijalani di luar bidang akademik. Di waktu luangnya, kegemarannya adalah menonton YouTube dan bermain alat musik tradisional karawitan.
“Sejak kelas 5 ikut ekstra karawitan di sekolah. Karena teman-teman juga banyak yang ikut,” sambungnya.
Baginya, nilai 100 itu bukan sekadar angka di atas kertas. Itu adalah buah kerja kerasnya mempersiapkan diri.
Tak cukup dengan pembelajaran intensif dan latihan soal yang digelar sekolah, dia tetap belajar dengan tekun secara sendiri.
Istimewanya, di usianya yang masih sangat muda, dia mampu belajar mandiri di rumah. Tanpa bimbingan belajar tambahan di luar sekolah seperti yang banyak dilakukan anak lainnya.
“Belajarnya cuma dari sekolah sama belajar sendiri,” ungkapnya.
Baca Juga: Siswa SD Kota Kediri Ikut TKA Hari Pertama, Soal Matematika Dianggap Lebih Mudah dari Try Out
Sebelum menghadapi TKA, dia rutin belajar mandiri di rumah mulai pukul 17.00 hingga 20.00. Meski mendapat nilai sempurna, bukan berarti tak ada hambatan selama mengerjakan tes skala nasional itu.
Beberapa kali dia sempat kebingungan mengerjakan soal, khususnya matematika.
“Yang agak sulit itu di soal penalaran. Kemarin saya sempat bingung mengerjakannya. Akhirnya baru terselesaikan di menit-menit terakhir,” kenang bocah kelahiran 17 Agustus itu.
Nyoto Priyo Yuwono, 48, ayah Moses mengatakan, dia tak pernah menuntut putra bungsunya itu untuk mendapatkan nilai sempurna. Namun, dengan uang Rp 100 ribu, dia memotivasi sang putra untuk mengupayakan yang terbaik di ujian tersebut.
“Saya memang kasih janji, kalau dapat nilai 100, saya kasih Rp 100 ribu,” ujar Nyoto.
Dengan hadiah uang Rp 200 ribu itu, Moses memilih menabungnya. Ditanya soal akan digunakan untuk apa uang itu, jawabannya pun sederhana.
“Masih ditabung dulu. Mungkin nanti mau untuk beli HP (handphone, Red)” katanya sambil tersenyum.
Di balik prestasi itu, rupanya dia punya metode belajar yang cukup unik. Nyoto mengungkapkan setiap belajar di rumah, putranya itu harus sambil menonton TV dan YouTube.
Suasana belajar itupun terasa jauh dari kesan hening seperti anak pada umumnya.
“Kalau Moses itu belajarnya (yang dilakukan pertama, Red) nyalakan TV, nyalakan HP, lalu buku itu disebar (dibuka semua secara berjejer, Red). Jadi biasanya kalau belajar itu kan harus hening, ini tidak. Malah ruame,” ungkap Nyoto, yang juga heran dengan tingkah sang putra.
Uniknya lagi, setiap belajar hafalan, Moses harus melakukannya sembari berjalan mondar-mandir. Termasuk saat membaca buku pun selalu dia lakukan sembari berjalan kesana-kemari.
“Yang tahu persis ibunya. Saya awalnya juga kaget. Kok belajarnya begini? Saya bilang, kalau belajar itu yang diam gitu, loh. Lalu ibunya bilang kalau cara belajarnya ya memang begitu, saya baru tahu,” akunya sembari tertawa.
Kristiana, 47, ibu Moses menyebut, pola belajar seperti itu diakuinya sangat berbeda dengan sulungnya. Terlepas dari itu, dia tetap membiarkan putranya menemukan pola belajar yang dirasa paling sesuai.
Termasuk di antaranya, belajar sambil menyalakan video tentang teknologi hingga konten memasak dalam bahasa Inggris di YouTube.
“Seringnya yang bahasa Inggris. Itu juga dia bisa sendiri. Padahal nggak pernah les. Saya juga nggak pernah mengajari, tapi bisa sendiri,” ungkapnya sembari menyebut, putranya itu juga belajar bahasa Inggris secara otodidak lewat media sosial tersebut.
Perolehan nilai sempurna di ujian TKA itu juga melancarkan jalannya menuju jenjang SMP. Dia berhasil lolos Seleksi Penerimaan Murid Baru (SPMB) di jalur prestasi akademik.
Menariknya, dia juga berada di urutan teratas seleksi jalur prestas akademik di SMPN 1 Kediri dengan nilai 98,54.
“Itu bukti bahwa nilai rapornya ini linier dengan capaian nilai TKA yang juga tinggi,” kata Kepala SD Kristen Petra Kediri Esthi Puspitorini. (fud)
Editor : Ayu Ismawati