Atlet Kediri ini tengah jadi pusat perhatian. Selepas mencatat sejarah, merebut medali emas di seri dunia panjat tebing. Namun, di balik prestasi moncer itu, tersembul keprihatinannya melihat fasilitas latihan panjat tebing di kota kelahirannya.
EMILIA SUSANTI, Kota, JP Radar Kediri
Putra Tri Ramadani tengah menjadi sorotan di seluruh penjuru tanah air. Videonya ketika berlaga di final World Climbing Series, di Prague, Republik Ceko, 8 Juni lalu, berseliweran di media sosial (medsos). Banyak yang mengunggah ulang.
Momen yang diulang-ulang adalah ketika sang pemanjat bergelantungan di tali. Usai menyentuh hold-batuan yang menempel di dinding panjat-paling atas. Sekaligus menahbiskan dirinya sebagai yang terbaik di nomor lead.
Juara itu ditentukan dengan nilai tertinggi yang dia dapat, 43. Mengalahkan atlet Jepang Neo Suzuki yang skornya hanya 39, dan atlet Austria Jakob Schubert yang mendapat poin 37.
“Tentu saja senang bisa mendapat mendali emas pertama saya di world cup,” ucap Putra, ketika dihubungi via WhatsApp.
Putra, dan warga Nusantara, pantas berbangga hati. Medali emas itu bukan saja yang pertama bagi Putra. Juga menjadi pertama yang diperoleh atlet Asia Tenggara. Artinya, hasil itu adalah sejarah baru bagi per-climbing-an tanah air!
Sejak awal Putra memang telah mem-push dirinya sendiri agar bisa tampil prima. Mendesak raganya agar berdiri di podium. Yang tidak dia sangka, justru posisi puncak-medali emas-yang dia dapatkan di akhir kejuaraan.
“Sudah lama pingin juara world cup. Tapi (sebenarnya) saya hanya terget masuk podium. Ternyata Allah memberikan yang lebih ke saya,” ucapnya bangga.
Kebahagiaan memang terlihat jelas dalam postingan di medsos-medsos itu. Senyum Putra terus mengembang. Mengangkat tinggi-tinggi piala yang dia terima. Di lehernya terkalung medali emas.
Satu hal yang layak disyukuri. Sebab, Putra harus menempuh perjalanan panjang. Sejak memulai karir sebagai atlet Kota Kediri dan moncer di berbagai kejuaraan level daerah.
Kerja kerasnya itu mengantarnya menjadi atlet Jawa Timur yang tampil di Pekan Olahraga Nasional (PON) Aceh-Sumatra Utara (Sumut). Menyumbang lima medali untuk kontingennya. Sekaligus tiket dia mengikuti pemusatan latihan nasional (pelatnas).
Selanjutnya, berbagai ajang panjat tebing pun diikutinya. Baik di tingkat Asia maupun dunia. Tahun lalu, dia sejatinya telah turun di World Climbing Series di Koper, Slovenia. Putra langsung menembus final. Hanya saja, dia finis di peringkat keenam.
Putra tak menyerah. Dia terus mengevaluasi diri. Juga harus menyesuaikan program latihan yang baru. Ada pergantian pelatih yang dilakukan tahun lalu.
“Ada perbedaan program dan saya selalu menikmati program yang dikasih pelatih dan masukan-masukan pelatih tentunya,” ujarnya.
Meski telah melakukan persiapan panjang, turun di World Climbing Series tetaplah bukan hal yang mudah. Saat semifinal, dia sempat merasa grogi. Pasalnya, dia merasa selalu melakukan kesalahan.
“Saat masuk final kemarin saya bersyukur dan berkata pada diri saya sendiri bahwa pemanjatan di final ini harus lebih enjoy dan nikmati, saya sudah puas dengan pemanjatan saya dan saya bisa,” ungkapnya.
Cara itulah yang membuat Putra menaklukkan ajang World Climbing dengan mengesankan. Semua orang bangga kepadanya. Bahkan, seluruh insan panjat tebing di dunia tengah membicarakannya.
Kendati demikian, lulusan SMA Negeri Olahraga Sidoarjo ini tak ingin tinggi hati. Dia mencoba untuk tetap rendah hati. Sebab, itulah pesan orang tuanya yang ingin selalu dijaga.
“Jangan pernah sombong ke siapapun dan jangan lupa salat dan berdoa kepada yang di atas,” katanya saat menyebut pesan-pesan orang tuanya.
Lebih dari itu, Putra punya harapan tinggi atas prestasi yang ditorehkannya. Khususnya harapan terhadap penerusnya yang ada di Kota Tahu. Pasalnya, dia merasa miris dengan kondisi fasilitas latihan para atlet.
“Saya terkadang setiap pulang ke Kediri selalu mampir ke tempat latihan. Saya berharap mereka mendapatkan fasilitas yang lebih layak, saya lihat rangka-rangka panjat tebing sudah mulai berkarat dan sudah tidak layak,” sesalnya.
Saking mirisnya, dia pun berpikir hal buruk.
“Kalau saya boleh bilang, mungkin kalau kena badai bakal jatuh semua papannya,” ucapnya.
Melalui prestasinya, dia ingin mengetuk hati pemerintah. Khususnya Pemerintah Kota Kediri ataupun Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kota Kediri. Kedepan, dia juga ingin melihat ada atlet-atlet Kediri yang bisa menyamai prestasinya.
“Saya ingin melihat atlet-atlet Kediri bisa berkembang seperti saya dan saya juga berharap dengan adanya prestasi saya saat ini bisa mendorong KONI Kediri atau Pemerintah Kediri untuk membenahi dinding panjat di Kediri yang layak pakai,” harapnya.
Sementara, Putra sendiri juga berharap bisa terus mempersembahkan prestasi yang lebih banyak lagi untuk Indonesia. Terdekat, dia masih memiliki agenda world Cup di Insbruck, Austria.
“Target saya selanjutnya bisa sampai di Asian Game dan Olimpiade 2028,” tandasnya.(fud)
Editor : Mahfud