Nama organisasi ini terdengar sangar, Yakuza Maneges. Identik dengan organisasi kriminal di Jepang. Namun, di balik itu, tersembul cara dakwah yang tak biasa sekaligus misi sosial yang selama ini jarang tersentuh oleh kalangan pesantren.
“Istri saya pernah bilang gini, banyak yang tanya njenengan niku kiai napa mafia? (saya jawab) mafia berhati kiai. Mafia yang isa dadi kiai, kiai isa dadi mafia.”
Ucapan itu keluar dari Thuba Topo Broto Maneges. Seorang kiai muda yang biasa disapa Gus Thuba. Perkataan itu meluncur disertai tawa.
Namun, bagi pengasuh majelis Dzikrul Ghofilin Moloekatan itu, kata-katanya bukan sekadar candaan. Melainkan filosofi dakwah yang dia jalankan.
Selama ini cucu dari ulama besar KH Hamim Thohari Djazuli-biasa dipanggil Gus Miek-dikenal memiliki jaringan pergaulan yang sangat luas.
Tak hanya jemaah majelis dzikir maupun kalangan pesantren saja. Juga orang dari kelompok marginal, mantan kriminal, atau yang sedang berproses meninggalkan kehidupan kelam. Nah, dari situlah Yakuza Maneges lahir.
Organisasi ini, sebenarnya, terbentuk pada 2 Juli 2024. Namun, baru dideklarasikan 9 Mei lalu.
Awalnya, juga bukan organisasi formal. Hanya kumpulan orang yang dekat dengannya di luar lingkungan pesantren maupun majelis.
Baca Juga: Selain Berdoa, Jemaah Rutinan Dzikrul Ghofilin juga Curhat ke Gus Sabuth Minta Saran
“Setiap kumpul ya kayak geng saja. Ngopi di mana-mana. Lama-lama saya resmikan saja,” ujar Gus Thuba.
Mengapa Yakuza? Gus Thuba menyebut memang sengaja menggunakan kata itu.
Seperti halnya Yakuza yang identik dengan mafia di Jepang, anggota Yakuza Maneges memang berasal dari latar belakang yang ‘tidak sederhana’.
Juga, sejak kecil dia memang suka dengan kelompok mafia Jepang itu. Terutama dari tongkrongannya yang sangar.
“Kalau isinya memang orang-orang nakal, saya kasih nama Al Falah kan tidak pas,” dalihnya sambil tertawa.
Selain itu, Gus Thuba juga ingin menciptakan ilusi sensasional. Ketika orang mendengar kata Yakuza Maneges, persepsinya adalah kelompok sangar seperti mafia Jepang itu.
Padahal, sudah tentu ini bukan organisasi kriminal. Bahkan, menjadi salah satu jalan dakwahnya.
“Karena itu saya juga harus menjadikan Yakuza sebagai akronim, ada kepanjangannnya. Agar orang kemudian bisa memaknai apa tujuan dari organisasi itu,” terangnya.
Baca Juga: Punya Banyak Jemaah, Gus Kautsar Sebut Itu Warisan para Pendiri Ponpes Al Falah Ploso
Ya, Yakuza adalah akronim dari Yang Awalnya Kotor Ujungnya Zuhud Abadi. Khusus dia ciptakan untuk menegaskan filosofi organisasi. Sedangkan kata Maneges diambil dari namanya.
Filosofi itu pula yang menjadi dasar perekrutan anggota. Tidak semua yang bergabung sudah sepenuhnya berubah. Sebagian justru masih dalam proses memperbaiki diri.
“Kalau sudah tobat langsung saya ajak majelis (Dzikrul Ghofilin Moloekatan). Kalau yang masih proses ya saya rangkul lewat sini,” jelasnya.
Anggota Yakuza Maneges memang beragam. Tidak sedikit berlatar belakang kriminal berat.
“Ada yang memang mantan pembunuh. Ada yang preman,” rinci putra dari KH Tijani Robert Saifunnawas alias Gus Robert itu.
Meski demikian, organisasi tersebut bukan tempat pembenaran bagi tindakan kriminal.
Sebaliknya, menjadi ruang pendekatan bagi mereka yang selama ini sulit disentuh metode dakwah konvensional.
Selain merangkul kaum marginal, Yakuza Maneges juga memiliki misi lain yang tak kalah besar.
Yakni melakukan pengawalan dan pengusutan terhadap berbagai kasus yang dianggap merusak tatanan sosial masyarakat.
Baca Juga: Teruskan Dzikrul Ghofilin, Gus Sabuth Paling Dikenal Jemaah
Gagasan itu sudah dilakukan Gus Thuba jauh sebelum organisasi tersebut berdiri. Selama ini dia kerap menerima laporan dari masyarakat terkait berbagai persoalan.
Mulai dugaan penyimpangan di lingkungan pesantren hingga kasus-kasus sosial lainnya.
“Kalau ada yang laporan ke saya, saya tidak enak kalau diam. Pasti saya urus,” katanya.
Kebiasaan itulah yang dia masukkan ke visi organisasi. “Ngorat-ngarit tatanan kang morat-marit,” jelasnya.
Kalimat tersebut kemudian menjadi salah satu semangat yang melekat dalam gerakan Yakuza Maneges.
“Ada yang pernah meremehkan, sampean kiai kok dolanan mafia-mafiaan (Anda kiai kok main mafia-mafiaan, Red). Saya jawab, mending mafia-mafiaan daripada kiai-kiaian,” ujarnya.
Baginya, yang terpenting bukan label yang digunakan. Melainkan keberanian untuk memperbaiki kerusakan yang terjadi di tengah masyarakat. “Ngorat-ngarit sing wis morat-marit,” imbuhnya.
Hal itu dia buktikan dengan langkah organisasi. Sejak berdiri Yakuza Manages terlibat dalam sejumlah pengungkapan kasus yang menjadi perhatian publik.
Terutama kasus-kasus dugaan asusila yang melibatkan tokoh masyarakat maupun lingkungan pendidikan keagamaan.
Baca Juga: Tak Pernah Menghakimi, Gus Sabuth Juga Tak Pilih-Pilih Orang
Sedikitnya lima kasus telah ikut dikawal dan diungkap. Di antaranya berada di Ngawi, Ponorogo, Mojokerto, Pekalongan, serta beberapa wilayah lain yang kini masih dalam proses penanganan.
Saat ini tim Yakuza Maneges juga tengah bergerak di sejumlah daerah seperti Malang, Lamongan, dan daerah lainnya.
Namun, tentu saja, jalan yang ditempuh tidak selalu mudah. Menurut Gus Thuba, tantangan terbesar bukan mencari data maupun informasi awal. Melainkan meyakinkan korban agar berani berbicara.
“Paling sulit mendekati korban yang sudah diancam pelaku,” ujarnya.
Banyak korban yang awalnya takut karena khawatir perjuangan mereka tidak benar-benar ditindaklanjuti. Situasi mulai berubah setelah beberapa kasus berhasil diungkap.
“Kalau sekarang korban lebih percaya karena sudah ada buktinya,” jelasnya.
Dalam proses pengusutan, Yakuza Maneges juga mengandalkan jaringan yang tersebar di berbagai daerah.
Baca Juga: Bagaimana Awal Forum Pengajian Teras Gubuk Terbentuk? Begini Penjelasan Gus Kautsar
Berpusat di Kediri, cabang organisasi menyebar di Jombang, Mojokerto, Malang, Surabaya, Sidoarjo, Jember, Banyuwangi, Tulungagung, Trenggalek, Ponorogo, Pacitan, Madiun, Ngawi, Jogjakarta, Salatiga, hingga Semarang.
Jumlah anggotanya, awalnya seratusan orang. Kini terus bertambah. Menariknya, sebagian adalah non-muslim.
Juga ada anggota perempuan. Meski demikian, tidak semua orang bisa bergabung begitu saja. Mereka juga relawan, tidak ada gaji, semua berdasar pengabdian.
“Dari awal harus tahu kalau benang merahnya ke saya. Mau ikut saya atau tidak. Juga, di sini pengabdian semua,” tegasnya.
Seluruh aktivitas Yakuza Maneges tetap berada di bawah naungan majelis Dzikrul Ghofilin Moloekatan. Seluruh anggota diarahkan untuk tetap terhubung dengan kegiatan majelis.
“Ini bukan punya kegiatan sendiri. Semuanya tetap saya arahkan ke jalur majelis, Dzikrul Ghofilin itu jalur kanannya, Yakuza Manages jalur kirinya” jelasnya.
Bagi Gus Thuba, Yakuza Manages bukan sekadar organisasi. Melainkan wadah bagi orang-orang yang selama ini dianggap tak layak mendapat tempat.
Baca Juga: Tak Peduli Jumlah Jemaah, Inilah Prinsip Gus Kautsar tentang Mengaji di Teras Gubuk
Menurutnya, perubahan tidak selalu dimulai dari orang yang sudah baik. Justru sering kali lahir dari mereka yang sedang berjuang menjadi baik.
Hal yang telah diterapkan oleh Gus Miek, sang kakek. Yakni merangkul orang-orang marginal agar bisa kembali ke jalan yang benar.
Dan, dari sanalah filosofi Yakuza Manages bermula. Yang Awalnya Kotor, Ujungnya Zuhud Abadi.
Editor : Shinta Nurma Ababil