Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Kisah Tri Cahyono, Staf Medis yang Menemani Persik sejak 2001 Yang Merasa Bahagia di Stadion, Selalu Siap Jika Dibutuhkan

Emilia Susanti • Selasa, 26 Mei 2026 | 03:30 WIB
Medical Officer Persik Kediri Tri Cahyono. (FOTO: Emilia/JPRK)
Medical Officer Persik Kediri Tri Cahyono. (FOTO: Emilia/JPRK)

 

Banyak sosok di balik layar yang bekerja demi kelancaran suatu tim sepak bola, salah satunya medical officer. Peran ini berbeda dengan yang diemban dokter tim atau fisioterapi. Namun, keberadaannya sangat krusial dalam sebuah pertandingan.

EMILIA SUSANTI, Kabupaten, JP Radar Kediri

Pria ini bernama Tri Cahyono. Jarang tersorot dalam perjalanan Persik Kediri. Padahal, puluhan tahun dia membersamai tim kebanggaan masyarakat Kediri Raya itu. 
Ya, pria yang kini berusia 59 tahun itu bergabung dengan klub sepak bola berjuluk Macan Putih sejak 2001 silam. Selama itu dia memegang peran penting. Khususnya dalam laga kandang Persik.

"Saya di medis, melekatnya ke panpel (panitia pelaksana)," katanya saat ditemui sehari sebelum pertandingan Persik Kediri versus Persija Jakarta.

Sehari-hari pria ini disebut medical officer. Tugasnya berbeda dengan dokter tim maupun fisioterapi. Tetapi tetap berkaitan dengan keselamatan. Tugas yang diemban yaitu memimpin, mengawasi, dan memastikan seluruh standar keselamatan dan pelayanan kesehatan berjalan lancar. Mulai dari ketersediaan ambulans, tandu, dan lainnya.

"Saat pertandingan kurang 90 menit, ada pengecekan suhu. Nggak boleh lebih dari 32 derajat. Terus nanti kurang 60 menit dicek lagi. Kalau lebih, nanti cooling break, tetapi selama ini paling tinggi 30 derajat celcius," jelasnya.

Kurang lebih, itulah yang menjadi tanggung jawabnya sebagai medical officer. Namun demikian, situasinya berbeda dengan puluhan tahun silam. Dulu, dia juga bertugas menjadi asisten dokter tim. Jadi, jika sang dokter, Dr dr Fauzan Adima, MKes, berhalangan untuk tandang, dia yang akan turun. Ya, dia yang akan lari-lari ke dalam lapangan untuk melihat kondisi pemain.

"Kalau dokter Fauzan nggak bisa, saya suruh ikut, ngganteni. Jadi dulu ya gabungan dengan masseur, kalau ikut tim ya pasti sama Mbah Met (Muji Slamet, masseur Persik saat itu, Red), ada itu wis tenang. Dislokasi cuman klak klak, kami cuma kasih analgesik dan sebagainya, untuk mengurangi nyeri," cerita pria asal Kecamatan Kota ini.

Salah satu pertandingan away yang pernah diikutinya adalah saat Persik Kediri melawan Persipura. Menurut ingatannya, kisruh tak akan terhindarkan saat Persik Kediri membukukan kemenangan.

"Apalagi di Papua. Di sini kan yang jaga polisi, kalau di sana marinir Mbak. Makanya agak ngeri-ngeri sedap. Kan dulu pasti paketan to Mbak, Persipura dan Makassar, mesti sepuluh hari. Ya ngeri, pesawatnya kecil-kecil, pemain udah ngeri semua. Kisruh itu udah biasa," ungkapnya.

Hanya saja, Tri mengaku lupa terhadap tahun terjadinya peristiwa itu. Namun masih di era 2000-an.
Sementara itu, salah satu momen penanganan medis yang tak pernah dilupakannya adalah saat menangani Danilo Fernando. Kala itu, pemain tersebut mendapat masalah pada bagian kukunya. Kuku tersebut harus dicopot. Namun, Danilo saat itu menolak untuk diberi anestesi.

"Malang kerik tok (berdiri dengan menempatkan kedua tangan di pinggang)," cerita pria yang baru saja pensiun pada 2025 lalu.

Meski banyak hal yang menantang adrenalin, Tri mengaku senang bisa bergabung dengan Persik Kediri. Pasalnya, dia mengaku bisa berkeliling ke kota-kota lain yang ada di Indonesia. Apalagi usianya saat itu masih muda. Yang mana, tak semua orang mendapatkan kesempatan yang sama dengannya.

"Masih muda tahu sana-sana tapi nggak bayar, punya pengalaman," katanya sembari menyebut Papua menjadi daerah yang tak bisa dilupakan karena kengeriannya.

Mengulik lebih dalam, tersimpan cerita bagaimana awal mula keterlibatan Tri di tim Persik Kediri. Puluhan tahun silam, Tri merupakan seorang perawat yang bertugas di Dinas Transmigrasi Provinsi Jawa Timur. Yang mana, kantornya dulu sudah berubah menjadi mes Persik Kediri.

"Jadi saya sama dokter pegang di kesehatan transmigrasi itu. Akhirnya sama kepala dinas diperbantukan di Persik. Ada dua orang perawat sebetulnya, tapi yang satu mengundurkan diri saat uji coba di Bali. Saya mengundurkan diri nggak boleh, suruh lanjut," ceritanya.

Siapa sangka, Tri pun bertahan hingga sekarang. Menemani Persik Kediri dari kasta paling bawah, turut merasakan kejayaan, hingga momen di mana Macan Putih turun kasta lagi. Asam, manis, dan pahit di Persik Kediri sudah dirasakan. Namun, dia tetap bahagia bisa membantu Persik Kediri.

"Kalau sudah di stadion adanya cuman bahagia, kalau masih dibutuhkan tetap siap," tutupnya. (fud) 

 

Editor : Emilia Susanti
#medical officer persik #tri cahyono medical officer persik #kisah tri medical officer persik #staf persik #persik kediri