Di tangannya selembar kertas bisa berubah menjadi aneka bentuk. Burung bangau, bunga mawar, hingga pola geometris yang rumit. Kini, tekad besarnya adalah menggaungkan seni membuat hiasan dari kertas, Origami, itu ke masyarakat.
Kertas warna-warni dengan berbagai jenis menumpuk di hadapannya. Sejurus kemudian, Ngesthy Wahyu menunjukkan apa saja yang bisa dia buat dengan secarik kertas itu.
Mulai dari burung bangau yang sederhana, boneka berhijab, hingga pola geometris repetitif yang cukup rumit. Semua dia buat tanpa alat bantu seperti cetakan maupun gunting. Modalnya hanya secarik kertas dan akal yang bekerja.
Di panggung sederhana sebuah acara pameran, perempuan kelahiran Dongko, Kabupaten Trenggalek itu juga memamerkan karya-karya origaminya. Ya, Ngesthy adalah seorang seniman sekaligus pengajar seni origami; Seni melipat kertas menjadi berbagai bentuk yang berasal dari Jepang.
Baca Juga: Sanggar Tari Nawasena Kediri, Wadah Kreativitas Anak Muda Lestarikan Seni Tradisional
“Kalau origami itu senengku karena nggak perlu alat apa-apa. Cuma duduk, bawa kertas, terus melipat,” ujarnya, di salah satu stan Festival Kuno Kini, sambil menunjukkan karya berbentuk bunga mawar.
Perempuan yang akrab disapa Ngesthy itu memulai perjalanannya dari dunia papercraft. Selama 17 tahun tinggal di Jogjakarta, dia menekuni berbagai seni olah kertas. Mulai quilling, bunga dekorasi ukuran besar, hingga kerajinan tiga dimensi.
Namun, origami menjadi sesuatu yang paling dekat dengannya.
Motivasinya sederhana, ingin membuat mainan untuk sang anak. Tapi, justru dari situ anak-anak tetangga mulai ikut meminta dibuatkan berbagai bentuk lipatan. Bahkan, karya origaminya juga dijual kembali oleh teman-teman anaknya. Dari situ, dia semakin semangat mendalami hobinya itu.
Baca Juga: Kartini Masa Kini: Dipimpin Dr Jesicha, Voica Management Berdayakan Individu Lewat Seni Bicara
“Ternyata anak-anak banyak yang suka. Mereka bilang, ‘Tante, dijual aja, nanti aku jual lagi ke temenku,” kenangnya sambil tertawa.
Begitu juga saat dia pindah ke Kediri. Hobinya pada origami tak redup. Bahkan semakin dia seriusi dengan berjejaring ke sesama penghobi origami.
Selama 10 tahun terakhir ini juga, ia mulai aktif mengenalkan origami lewat edukasi ke masyarakat. Baik ke sekolah-sekolah, komunitas, hingga kegiatan sosial. Baginya, origami bukan sekadar keterampilan anak TK seperti anggapan kebanyakan orang.
Ada manfaat yang jauh lebih besar di balik aktivitas melipat kertas itu.
Baginya, seni origami adalah seni merawat ingatan. Aktivitas melipat keras itu juga bisa melatih daya ingat dan kemampuan otak. Itu karena setiap bentuk memiliki tahapan yang harus diikuti secara runtut, tak bisa dilompati. Jika satu langkah terlewat, bentuk akhirnya tidak akan sempurna.
Baca Juga: Prigel Pangayu, Sinden Gen-Z Kediri yang Lahir dari Keluarga Seniman
“Ini sebenarnya melatih otak. Karena kita mengingat step by step. Ada unsur problem solving juga,” kata alumnus SMAN 1 Kediri itu.
Bahkan, menurutnya, sudah banyak penelitian yang dilakukan di luar negeri tentang origami yang punya keunggulan dari sisi kesehatan mental dan kemampuan kognitif. Aktivitas melipat kertas dipercaya membantu menjaga daya ingat dan melatih fokus, termasuk untuk orang lanjut usia.
Karena itu, Ngesthy keukeuh untuk menyosialisasikan bahwa origami sangat baik dipelajari semua usia.
“Yang pengen saya sosialisasikan itu, origami bukan cuma untuk anak-anak. Orang tua juga bisa. Bahkan bagus untuk melatih kesabaran dan mencegah pikun,” beber perempuan yang kini berdomisili di Kelurahan Kaliombo, Kota Kediri itu.
Baca Juga: Embran Nawawi, Seniman Wastra Berdarah Betawi tapi Berhati Kediri
Dia juga menyoroti seni origami yang potensial jadi opsi kegiatan pengasuhan anak. Karakter anak yang berbeda-beda bisa terbaca setiap kali mereka dihadapkan dengan kegiatan ini.
Ada yang lambat, namun perfeksionis. Ada yang cepat, namun melewatkan beberapa step. Dari situ, dia belajar bahwa origami bukan sekadar seni lipat kertas. Tetapi juga media memahami karakter dan proses belajar seseorang.
“Kalau anak itu telaten atau tidak, sabar atau tidak, biasanya kelihatan waktu melipat,” ungkapnya.
Meski sudah berkarya cukup lama, jalan yang ditempuh Ngesthy tidak selalu mudah. Ibu dua anak itu mengakui, minat masyarakat terhadap origami di Kediri masih terbatas. Bahkan, saat kelas dihadirkan secara gratis sekalipun, belum tentu banyak peminat. Namun, itu tidak membuatnya berhenti.
Dia tetap aktif mengisi workshop di sekolah hingga kegiatan-kegiatan sosial. Bahkan hingga membuat konten di media sosial. Baginya, konsistensi jauh lebih penting dibanding mengejar keuntungan.
“Kalau cari keuntungan dari sini ya susah. Tapi aku pengen ilmu ini tetap jalan. Setidaknya orang tahu kalau origami punya manfaat,” katanya.
Perempuan kelahiran 1979 itu juga cukup dikenal di komunitas origami nasional maupun internasional. Beberapa desain buatannya bahkan pernah dimuat dalam jurnal internasional tentang seni origami, termasuk dari Australia.
Salah satu karya orisinalnya diberi nama Origami Hijab Girl.
“Di dunia origami itu juga terkenal dengan penghargaan terhadap karya. Jadi setiap karya itu punya nama dari penciptanya. Dan kalau kita ingin recreate, wajib disebutkan nama pelipatnya siapa, dan nama penciptanya siapa. Karena itu untuk menghargai hak cipta,” bebernya.
Kini, hampir ke mana pun ia pergi, selalu ada kertas di tasnya. Baginya, origami bukan sekadar seni. Tetapi juga ruang rekreatif, melatih pikiran, sekaligus cara sederhana untuk merawat ingatan dan jiwa.
“Kadang orang nunggu bosan, main HP terus juga capek. Jadi tinggal ambil kertas, terus melipat,” pungkas Ngesthy. (fud)
Editor : Mahfud