Pria ini memang tak pernah memperkuat klub-klub besar. Namun, talenta sepak bolanya menjadi pemikat penonton kala itu. Hingga diabadikan jadi nama lapangan sepak bola di desanya.
ASAD M.S, Kabupaten, JP Radar Kediri
Pria tua itu tertawa kecil. Dia hanya menggeleng-gelengkan kepalanya ketika ditanya awal-muasal julukan yang disematkan kepada dirinya, Zainsano.
Sedangkan namanya cukup singkat, Zaini. Tanpa embel-embel sano di belakang.
“Ya, masyarakat yang memberi nama begitu. Saya sendiri juga tidak tahu awalnya dari mana,” ucap lelaki yang rambutnya sudah didominasi warna putih, uban, itu.
Zaini kemudian bercerita, julukan tersebut lahir dari penonton. Kemudian, komentator pertandingan antar-kampung (tarkam) pun sering menyebut nama itu setiap kali dirinya bermain.
Lengkap dengan penyebutan dan pelafalan yang sangat khas.
“Jadi Zainsano itu muncul bukan dari keluarga ataupun pelatih,” tandas pria asli Desa Bedug, Kecamatan Ngadiluwih ini.
Lama-kelamaan, nama Zainsano lebih dikenal dibanding nama aslinya. Bahkan, langsung jadi brand dan jaminan mutu suatu pertandingan sepak bola local di masanya, era 1980-an.
Jika ada tarkam atau pertandingan sepak bola lainnya, warga di desanya lebih dulu bertanya, Zainsano main atau tidak. Keberadaannya dalam pertandingan itu akan memengaruhi animo penonton.
“Kalau saya main, orang-orang penuh nonton. Kalau saya tidak main ya sepi,” kenangnya.
Itu adalah cerita ketika Zainsano, eh Zaini, masih muda. Rambutnya belum memutih seperti sekarang ini. Juga, ketika belum terlihat kerutan di wajah dan sekujur badannya.
Penampilannya tentu berbeda puluhan tahun silam. Ketika dia masih menjadi pemain sepak bola tenar. Tentu saja di skala lokal, Kediri dan sekitarnya.
Bukti ketenarannya itu bisa dilihat di Desa Bedug. Lapangan desa diberi nama sesuai nama tenarnya kala itu, Zainsano.
Kiprah Zaini sebagai pesepakbola tidak sebatas di desanya saja. Dia adalah pemain tangguh era 1980-an yang pernah memperkuat sejumlah klub elit di Kediri.
Sebut saja Varia Baru Wates, IM Kediri, Ngronggo Putra, Mitra Caesar, hingga Canda Bhirawa.
Kala itu Canda Bhirawa adalah salah satu tim kuat di Kediri. Bersama klubnya tersebut Zaini sempat bermain di berbagai daerah.
Mengikuti turnamen antar-kota maupun pertandingan antar-wilayah. Seperti Nganjuk hingga Surabaya. Juga menghadapi pemain ternama pada masa itu.
Memang, jangan dibayangkan dunia sepak bola kala itu sama seperti saat ini. Ketika itu tidak ada Liga 1 atau Liga 2.
Yang ada hanya Galatama untuk klub sepak bola semi-profesional dan Perserikatan untuk klub amatir.
Di Kediri saat itu hanya ada Persik sebagai tim perserikatan. Itupun masih berkompetisi di level yang rendah.
Talenta sepak bola Zaini terpupuk sejak kecil. Bahkan, ketika belum memiliki bola dia menggunakan apapun agar bisa bermain.
Termasuk menggunakan cumplung, batok kelapa yang isinya rusak dimakan hewan.
“Dulu ya apa saja dibikin bola. Cumplung pun dipakai mani,” kenangnya.
Memasuki usia sekolah dasar hingga SMP, kegemaran bermain bola semakin serius. Dia rutin bermain bersama pemuda desa hingga mengikuti berbagai turnamen antarkampung. Posisi favoritnya sejak awal adalah pemain belakang.
Saat bersekolah di Pendidiakn Guru Agama (PGA) Kediri, kemampuan sepak bolanya mulai dikenal. Melalui ajang Porseni tingkat Jawa Timur bersama sejumlah pemain muda Kediri pada masa itu, namanya semakin dikenal.
“Nggih libero, kadang bek kanan,” terangnya terkait posisi yang sering dimainkan.
Karier sepak bolanya terus berkembang. Setelah lulus sekolah, Zaini diajak bergabung dengan klub terkenal masa itu. Salah satunya klub Canda Birawa.
Karier sepak bolanya membuka jalan menuju pekerjaan di pemerintahan. Saat itu Zaini ditarik mengikuti seleksi pekerjaan di kabupaten melalui jalur prestasi olahraga.
Akhirnya, jalan hidup membawanya menjadi perangkat desa di Bedug pada akhir 1984.
Meski tidak lagi aktif bermain, kedekatan Zaini dengan sepak bola tidak pernah hilang.
Setelah pensiun sebagai pemain, dia tetap terlibat dalam pembinaan klub Persik Bedug sebagai sosok pembina dan sesepuh tim.
Bagi warga Bedug, nama Zainsano bukan sekadar legenda sepak bola kampung. Nama tersebut menjadi bagian dari sejarah desa yang masih terus dikenang hingga sekarang.
Editor : Andhika Attar Anindita