KEDIRI, JP Radar Kediri - Bila dihitung jumlahnya, kedai kopi yang menyediakan buku bacaan memang belum banyak. Namun, ada kecenderungan mengarah ke hal tersebut. Para pemilik kedai ingin pengunjung tak sekadar ngopi, juga bisa menambah wawasan dan pengetahuan dari buku bacaan.
“Buka kedai Juni 2023. Dari awal memang ingin menaruh rak buku. Dasarnya memang suka buku. Daripada di rumah mending saya taruh di situ. Pembacanya lebih banyak,” ujar Iqbal Taufik, pemilik kedai kopi Minggu Pagi, sambil telunjuknya mengarah ke rak berisi buku.
Di kedainya, Iqbal menyediakan beragam bacaan. Koleksi komik Detektif Conan hingga buku-buku yang sedang ramai diperbincangkan. Salah satunya novel-novel yang diadopsi menjadi sebuah film.
Ada pula buku terbitan 1990. Buku jadul itu milik ibunya yang turut dia display. Tampilannya sudah lusung memang, tapi oleh Iqbal dilapisi sampul plastik agar tetap utuh.
“Kalau koleksi pribadi mulai tahun 2010 ke atas,” imbuhnya sembari menyebut jika genre buku bacaan di kedainya mayoritas romansa.
Buku yang dia sediakan cenderung ringan. Agar pengunjung tidak penasaran atau butuh lama untuk membaca. Banyak pula buku puisi dan quotes-quotes.
Dia membenarkan bila belum banyak pengunjung yang datang dengan niat membaca. Namun, dalam amatannya, ada peningkatan dari tahun ke tahun. Seperti beli kopi dan baca buku yang sedang viral.
“Contohnya kemarin waktu ramai film Gadis Kretek. Itu saya buat story di Instagram. Eh, ramai sekali yang memesan untuk membaca melalui DM (direct message, Red),” terangnya.
Dari amatannya pula, mereka yang datang dan membaca dari semua kalangan. Pelajar, mahasiswa, hingga pekerja. Tapi, kebanyakan perempuan dan yang dibaca novel atau puisi.
Menariknya, ada yang datang ke kedai untuk menyumbangkan koleksi bukunya. Mereka beli di toko buku kemudian diletakkan di kedai milik Iqbal. Ini yang juga turut membantu menjadikan koleksi buku di kedai ini hingga ratusan judul.
Saiful Amin, pengelola Kios Domisili, menyebut ada buku di kedainya karena yang mendirikan memang suka membaca.
“Ingin berbagi cara hidup yang membahagiakan melalui baca buku,” aku pria yang akrab disapa Sam Oemar ini.
Kios Domisili berdiri sejak Desember 2022. Buku koleksi yang disediakan lebih banyak genre sastra, sejarah, politik, dan filsafat. Jumlah buku yang disediakan mencapai 500 judul.
Meskipun terkesan bacaannya cukup berat, Saiful menyebut jika tiga bulan terakhir banyak pelajar yang datang. Mereka membaca buku sastra dan filsafat.
Pria yang juga pegiat literasi itu pun mengadakan berbagai kegiatan untuk meningkatkan kegemaran membaca di kalangan anak muda. Diwujudkan melalui acara bedah buku yang ada satu bulan sekali. Maupun diskusi sederhana setiap satu minggu satu kali.
“Saat ini kendalanya ada pada bagaimana mendeliver bahwa membaca buku menyenangkan,” beber Saiful terkait menumbuhkan kegemaran membaca.
Karena itu dia berusaha mencari celah. Agar bisa membangkitkan kegemaran membaca di lingkungan sekitarnya.
Baca Juga: Tsundoku, Ketika Beli Buku Terasa Lebih Menyenangkan daripada Membacanya
Termasuk merealisasikan mimpinya, membuka toko buku dan menghadirkan penulis kebanggaannya dalam acara festival buku. “Pengen-nya bisa menghadirkan festival buku. Mendatangkan penulis ke sini (kios domisili, Red). Seperti penulis Kalis Mardiasih,” pungkasnya.
Founder Sio Punci Coffee Steffi Yuni Tania Susanto, menyebut ruang baca di kafenya sudah ada sejak buka, pada 2021. Ada misi khusus yang dia canangkan. Yaitu melepaskan kegemarannya serta berusaha merealisasikan mimpinya.
"Saya itu merasa pengen suatu hari punya toko buku seperti ini (yang pernah dilihat di kota lain, Red) di Pare. Karena di daerah menurut saya akses buku masih minim, di Kediri yang besar Gramedia. Nah sementara banyak penerbit indi yang ga bisa masuk. Jadi saya ingin memberi ruang untuk bisa menghadirkan lebih banyak pilihan buku," cerita Steffi.
Mulanya, rak buku itu hanya diisi dengan buku-buku koleksinya. Buka yang dimilikinya sejak kecil hingga sekarang ini. Namun, semakin dikenalnya kafe ini, ada beberapa pihak memberi donasi. Salah satunya datang dari penerbit ternama.
"Gramedia juga menawarkan koleksi dari pemenang Kusala Sastra Khatulistiwa karena memang dari sana misinya juga menyebarkan itu. Jadi ngasih ke komunitas-komunitas baca," ujar Steffi sembari menyebut beberapa kenalannya juga memberi donasi buku untuk ditempatkan di rak buku kafe.
Baca Juga: Hari Buku Sedunia Diperingati 23 April, Ini Makna dan Peran Program World Book Capital oleh UNESCO
Namun demikian, mimpi utama Steffi sebetulnya adalah memiliki bookshop. Ya, memiliki toko buku sendiri. Mimpi yang baru bisa terwujud setelah kafenya berjalan sekitar tiga tahun.
Sebetulnya, beberapa orang terdekat Steffi sempat meragukan toko buku di Sio Punci Coffee akan berhasil. Termasuk yang menentang itu adalah suaminya sendiri. Namun, Steffi keukeuh dengan keinginannya. Sehingga, muncullah Sio Bookshop tersebut.
Respon yang didapat positif. Ada pembeli yang datang dari luar Pulau Jawa. Pemesanan itu dilakukan melalui direct massage Instagram. Di sisi lain, tak lama toko buku itu dibuka, terbentuklah komunitas Rasan-Rasan Buku.
Mulanya, komunitas itu hanya diikuti empat orang. Mereka bertemu setiap Rabu, sekali sebulan. Setahun lebih berjalan, anggota itu menjadi puluhan. Anggotanya mencapai 80 orang. Bahkan ada dari luar Kediri yang ikut dalam komunitas tersebut. Hanya saja, dalam setiap pertemuan, yang hadir antara 30 - 50 orang saja.
Baca Juga: Hari Buku Sedunia Diperingati 23 April, Ini Makna dan Peran Program World Book Capital oleh UNESCO
"Misalnya ada tema perempuan. Nanti setiap anggota diberi waktu satu bulan membaca buku apa saja yang terkait perempuan. Waktu pertemuan itu nanti sharing," jelasnya sembari menyebut pertemuan itu awalnya dilakukan di Sio Punci Coffee. Namun setelahnya, pertemuan dilakukan bergilir di tempat masing-masing anggota.
Kedepan, Steffi masih memiliki mimpi yang lebih besar. Bukan sekadar ruang baca atau toko buku. Nantinya, dia ingin mempunyai perpustakaan untuk masyarakat.
"Cita-cita saya kedepannya itu saya pengen jadiin toko buku indipenden sekaligus ada perpustakaan publiknya. Bisa dipinjam gitu. Saya ngerasa kalau hanya mengandalkan perpustakaan daerah sangat kurang," harapnya. (hilda nurmala risani/emilia susanti/fud)
Editor : Andhika Attar Anindita