Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Lipsus Hari Buku Nasional (1) : Tren Kedai Kopi Sediakan Koleksi Buku, Tumbuhkan Gairah Literasi atau Cuma Pindahkan Ruang Baca?

Hilda Nurmala Risani • Selasa, 19 Mei 2026 | 17:29 WIB

 

 

Ilustrasi kafe buku (Afrizal Syaiful M/JPRK).
Ilustrasi kafe buku (Afrizal Syaiful M/JPRK).

 

KEDIRI, JP Radar Kediri - Kafe dengan koleksi buku? Ini yang sedang tren, termasuk di Kota Kediri. Pertanyaannya, apakah pengunjung kafe benar-benar memanfaatkannya dengan membaca? Atau sekadar mencari spot untuk konten medsosnya?

Ria berjalan menuju salah satu sudut kafe yang dia datangi bersama dua temannya. Ke tempat yang ada rak,  berisi beragam buku bacaan. Namun, bukannya menjumput salah satu buku yang ada, gadis ini justru bergaya dengan latar belakang rak yang memang terlihat estetik itu. Salah satu temannya yang mengabadikan dengan kamera di smartphone-nya.

“Yang penting foto dulu bagus. Urusan membaca nomor sekian,” ucap perempuan asal Kecamatan Pesantren, Kota Kediri  ini.

Baca Juga: Menelisik Geliat Membaca Buku di Kota Kediri di Tengah Gencarnya Gempuran Internet dan AI, Simalakama Itu Bernama Literasi Digital

Perkataan Ria menunjukkan apa motifnya mendatangi kedai kopi yang  punya koleksi buku bacaan tersebut. Effort terbesarnya adalah berfoto di spot buku, di salah satu sudut kedai kopi. Melahap tulisan di lembar-lembar halaman buku bukanlah menjadi tujuan utama.

“Biasanya memang sering hunting kafe yang estetik buat foto-foto. Tidak yang selalu harus ada bukunya. Kebetulan saja ini lokasinya menyediakan buku dan bagus untuk dibuat foto,” akunya, sembari melempar senyum kecil.

Kafe yang dia datangi memang terasa nyaman dan tenang. Jauh dari kebisingan. Kemudian, di salah satu sudutnya berdiri rak yang berisi beragam buku bacaan. Penataannya rapi dan estetik. Membuat kaum hawa tertarik untuk mengabadikannya menjadi foto.

Baca Juga: Menelisik Geliat Membaca Buku di Kota Kediri di Tengah Gencarnya Gempuran Internet dan AI, Simalakama Itu Bernama Literasi Digital

Ria bergantian dengan kedua temannya, mengabadikan beragam gaya. Nyaris 15 menit ketiganya di sudut itu. Setelah itu, beranjak ke meja berisi makanan dan minuman pesanan. Tak lupa, satu judul buku dia ambil untuk dibaca di sela makan. Buku yang judul dan covernya terlihat menarik.

Membacanya sampai habis? “Ah, tidak seserius itu. Hanya  mencari kata-kata menarik untuk dijadikan quotes atau sekadar caption di foto,” aku wanita 25 tahun itu.

Alasan itu yang membuat Ria lebih menyukai buku berisi puisi. Atau, yang berisi kata-kata motivasi.

“Lebih bagus dan tidak membosankan,” sambungnya.

Baca Juga: Hari Buku Sedunia, Ini 10 Rekomendasi Buku yang Wajib Kamu Baca Minimal Sekali Seumur Hidup

Elin menuturkan hal yang sama. Pengunjung di kafe yang sama itu tak bertujuan membaca ketika datang. Melainkan mengambil dokumentasi, berfoto.

“Sejujurnya aku senang kalau menemukan kafe yang menyediakan buku bacaan. Karena pemilik usaha memberi fasilitas kami untuk melakukan aktivitas selain ngopi dan ngerumpi,” ujar perempuan 26 tahun ini, disambung gelak tawa.

Ya, membaca bukanlah tujuan utama bagi mereka. Tak heran bila dalam hitungan menit saja mereka fokus pada buku. Setelah itu, larut dalam obrolan serta distraksi musik yang mengalun relatif kencang.

Tapi, Putri berbeda. Gadis 22 tahun ini justru membaca buku adalah tujuan utamanya mendatangi kafe dengan fasilitas pojok baca. Menjadi cara memuaskan Hasrat literasinya, tentu dengan biaya yang minimalis.

Baca Juga: Dinas Arpus Kabupaten Kediri Kenalkan Ratusan Buku dan Perpustakaan Digital, Meriahkan Festival Kuno Kini 2026

“Saya datang karena memang ada buku yang pengen saya baca. Karena kalau beli mahal. Jadi cukup datang beli minuman Rp 20 ribu bisa membaca sepuasnya,” aku Putri.

Alasan itulah yang membuat Putri memilih waktu yang berbeda dari kebanyakan pengunjung. Dia  datang ketika kafe masih sepi. Agar bisa lebih tenang dan fokus ketika membaca buku yang disediakan pemilik kedai.

“Biasanya saya datang pagi jam 09.30 sampai 14.00. Waktu itu masih sepi karena mungkin mereka yang datang juga untuk mengerjakan tugas.  Bukan untuk nongkrong dan ngobrol,” papar perempuan asal Kecamatan Kota ini.

Sama-sama berniat membaca, Tio, pengunjung lain, memilih waktu sore hari menjelang petang. Meskipun saat itu suasana kedai kopi tengah ramai-ramainya. Suasana riuh tak mempengaruhi fokusnya membaca karena dia memakai penutup telinga.

“Kadang saya bosan saja kalau membaca di perpustakaan atau taman. Terlalu sepi. Jadi cari suasana baru,” pungkas pria berusia, 26 tahun itu.

Baca Juga: Hari Buku Sedunia, Ini 10 Rekomendasi Buku yang Wajib Kamu Baca Minimal Sekali Seumur Hidup

Di Sio Punci Coffee, kafe di wilayah Pare, Kabupaten Kediri, bukunya ditata rapi di rak yang tingginya lebih dari dua meter. Ada delapan saf dengan bagian paling atas vas dan pajangan lain yang membuatnya kian estetik.

Buku yang terpajang kebanyakan novel. Ada dari penulis Dee Lestari berjudul Aroma Karsa. Kemudian Dealova karya Dyan Nuranindya, hingga 5 Cm karangan Donny Dhirgantoro. Juga ada beberapa buku pengetahuan yang terselip dalam rak berwarna coklat tua tersebut. Misalnya buku untuk TOEFL atau IELTS preparation. Tak terkecuali buku bacaan untuk anak-anak.

Hanya saja, tak banyak pengunjung yang datang membacanya. Mayoritas untuk nongkrong atau mengerjakan tugas.

"Untuk baca-baca sempat beberapakali aku baca buku yang memang disediakan di tempat," kata Dwi Mariska, 29, salah satu pelanggan di kafe tersebut.

Baca Juga: Read Aloud Kediri Raya, Komunitas Buku yang Bangun Kesadaran Literasi sejak Usia Dini

Dalam hal membaca buku, dia mengaku lebih suka membaca dalam bentuk e-book. Yaitu buku dalam bentuk file yang bisa dibuka di gawai, laptop, atau komputer. Namun, dia mengakui, deretan buku yang ada di rak kafe membuatnya penasaran.

Di kafe ini juga menjual buku. Buku-buku yang masih dilindungi plastik bening itu juga di letakkan dalam rak. Namun warna raknya putih. Jika ada pengunjung yang ingin membeli, mereka bisa ke kasir tempat untuk memesan makan atau minum.

Sementara itu, sebuah kafe di Jalan Penanggunan, Kota Kediri juga memiliki konsep serupa. Namanya Kios Kopi Tepian. Di kafe ini, sang pemilik juga menyediakan rak-rak yang berisi buku-buku. Temanya beragam. Ada novel, buku tentang bisnis, dan lainnya.

Menariknya, sudut-sudut lain di kafe tersebut juga masih ada buku bacaan yang bisa dibaca pengunjung. Salah satunya yang berada di dekat pintu masuk. Di situ, ada novel-novel yang judulnya sering terdengar. Misalnya novel berjudul Dunia Sophie karya Jostein Gaarder dan Ketika Cinta Bertasbih karya Habiburrahman El Shirazy.

Baca Juga: Hari Buku Sedunia Diperingati 23 April, Ini Makna dan Peran Program World Book Capital oleh UNESCO

"Ada yang sempat ngira ini kantor karena ada rak bukunya," cerita Dimas Satria, salah satu karyawan di kafe tersebut.

Dia mengatakan, mayoritas pengunjung datang karena ingin nongkrong atau makan. Dia jarang melihat pengunjung datang untuk membaca buku-buku bacaan yang disediakan di kafe. Hanya saja, beberapa pengunjung beberapakali menanyakan apakah buku yang ada boleh untuk dibaca.

Pertanyaannya sekarang, tren kafe dengan koleksi buku tersebut wujud dari tumbuhnya minat membaca masyarakat?

Kinan Esty menggeleng. Relawan Literasi Masyarakat (Relima) Kota Kediri ini menyebut, keberadaan kafe buku belum menunjukkan hal itu. Melainkan masih sebatas memindahkan ruang baca bagi mereka yang sudah hobi membaca.

“(Kafe buku) bukan sebagai pencetak minat baca baru kalau menurut saya pribadi,” ujar perempuan yang akrab disapa Kinan.

Baca Juga: Read Aloud Kediri Raya, Komunitas Buku yang Bangun Kesadaran Literasi sejak Usia Dini

Meski demikian, Kinan menyambut baik dan mengapresiasi kafe yang sudah melengkapi fasilitasnya dengan buku. Ini langkah positif mendekatkan buku ke ruang publik.

“Secara tidak langsung saat ini membaca gabung dengan lifestyle ngopi dan nongkrong. Meski dampaknya belum signifikan untuk meningkatkan gemar membaca mengingat ini masih hal baru,” bebernya.

Menurutnya, tren kafe buku di Kediri potensinya memang luar biasa. Tetapi masih perlu proses dan ekosistem pendukung lebih kuat. Bukan hanya tren hidup sesaat. Tetapi benar-benar ada dampaknya dengan meningkatkan indeks literasi daerah.

“Rasanya penting untuk pemilik kafe yang menyediakan buku baik dari koleksi pribadi maupun dukungan dari perpustakaan daerah untuk melakukan kurasi. Harus dipilih buku yang relevan dengan anak muda sekarang ini. Display buku-buku yang seru. Jangan lupa kolaborasi dengan komunitas literasi berbagai kalangan yang ada, sekolah maupun taman baca masyarakat,” urai Kinan panjang lebar, memungkasi obrolan.

Apresiasi serupa juga diberikan oleh Muhammad Fikri Zulfikar, pengamat sekaligus penggiat literasi. Menurutnya, keberadaan kafe yang menyediakan buku bacaan menjadi tren positif ketika kegemaran membaca generasi muda semakin luntur.

Baca Juga: Read Aloud Kediri Raya, Komunitas Buku yang Bangun Kesadaran Literasi sejak Usia Dini

“Karena hari ini beberapa kafe di Kediri baik kota maupun kabupaten memiliki konsep jika nongkrong atau ngopi saja kurang menarik. Jadi di konsep seperti literasi agar lebih kalcer (bahasa gaul yang merupakan plesetan dari kata budaya atau kultur, Red),” nilai pria yang biasa disapa Fikri ini.

Dosen Sastra Indonesia Universitas Islam Tribakti Lirboyo Kediri ini kemudian mencontohkan, seperti di kota ada Kios Domisili Sekitar yang menyajikan pojok baca. Juga menggelar beberapa kegiatan diskusi buku. Baik itu bedah buku maupun launching buku. Bahkan, sering ada sesi sharing dengan penulisnya secara langsung.

Sedangkan di Kabupaten ada Sio Punci Coffe. Selain pojok buku, juga ada toko buku. Sehingga pengunjung tidak hanya bisa membeli tetapi juga bisa membaca secara gratis.

“Saya kira dampaknya cukup signifikan. Setidaknya anak muda yang sering ngafe jadi tahu bahwa seru juga membaca buku sembari ngopi dan diobrolkan,” imbuh Fikri.

Baca Juga: Keren! Guru SD di Kota Kediri Ini Tak Hanya Mengajar, Tapi Juga Produktif 'Telurkan' Banyak Buku Cerita Anak

Saat ini, pemilik kafe buku maupun komunitas literasi harus lebih melek terhadap buku bacaan apa yang relate dengan para pengunjung. Agar semakin banyak anak muda yang tertarik datang dan membaca.

Terlebih saat ini juga banyak influencer idola anak muda yang menunjukkan kesenangan pada buku. Seperti Dian Sastro, Sherina Munaf, Jerome Polin hingga Ferry Irwandi.

“Mereka kenal buku dari budaya anak muda yang juga senang ngafe,” tandasnya.

Tapi, ada pekerjaan rumah semua pihak terkait kegemaran membaca. Yaitu waktu yang terbatas di kafe dan harga buku yang mahal.

Baca Juga: Roby Tremonti Akui Sudah Baca Buku Broken Things Karya Aurelie Moeremans, Begini Komentarnya

Misalnya ketika mereka datang ke kafe dan menemukan buku bacaan yang menarik. Ternyata tidak cukup hanya dibaca sekali datang maupun sekali duduk. Alhasil, mereka ingin membeli. Tapi ternyata harganya mahal.

“Minat anak muda untuk membaca buku menjadi terkendala ketika melihat harga buku semakin hari semakin mahal. Oleh karenanya kedepannya rasanya perlu ada subsidi dari pemerintah untuk membeli buku,” bebernya.

Editor : Andhika Attar Anindita
#buku nasional #kafe buku #kabupaten kediri #foto #kota kediri