Beban hidup pasangan suami istri ini boleh dikata sangat berat. Harus menghidupi tiga orang cucu setelah sang anak-ibu para bocah itu-meninggal dunia. Padahal, penghasilan mereka hanya bergantung dari usaha kecil dan kerja serabutan.
Tangis Sholikah pecah saat Hanindhito Himawan Pramana tiba. Perempuan paruh baya itu tak mampu membendung rasa haru ketika Bupati Kediri tersebut mendatangi rumahnya, di Desa Kandat, Kecamatan Kandat.
Memberinya bantuan modal usaha serta perbaikan rumah. Bagi wanita lanjut usia ini, bantuan tersebut menjadi secercah harapan baru. Di tengah kebingungannya memenuhi kebutuhan tiga oran cucunya.
Setelah ibu tiga bocah itu, yang merupakan anak kandungnya, meninggal dunia. “Alhamdulillah agak berkurang bebannya. Pikiran saya juga lebih ringan,” ujarnya perempuan 50 tahun itu.
Baca Juga: Kunjungi CJH Tertua, Dhito Titip Doakan Kediri, Ini Jemaah Yang Akan Dapat Pendampingan!
Sang anak, Nurdika Natasha, meninggal dunia sebulan lalu. Tepat di usianya yang masih 25 tahun. Setelah itu seluruh kebutuhan keluarga praktis ditanggung sendiri Sholikah dan sang suami, Putut.
Sebenarnya, tiga cucunya itu masih memiliki ayah. Sayang, lelaki tersebut sudah lama tak memberi nafkah. Dia juga telah lama berpisah dengan istrinya. Meskipun surat cerai baru diterima sehari setelah anaknya meninggal.
“Tanggal 7 anak saya meninggal, tanggal 8 keluar surat cerainya. Tapi tetap saya ambil buat kepentingan anak-anak nanti,” ucapnya dengan lirih. Dulu, ketika sang anak masih hidup, urusan ekonomi masih terbantu.
Meskipun sang ayah sudah tidak mau lagi mengurusi. Almarhum anaknya bekerja di pabrik triplek. Sehingga untuk urusan popok bayi maupun susu masih dibiayai sang anak. Dia dan suaminya sekadar membantu.
Namun, cerita berubah setelah anaknya meninggal. Sholikah harus mengurus cucu sulungnya yang masih duduk di bangku sekolah dasar. Juga dua adiknya yang kembar dan masih berusia dua tahun empat bulan.
Sehari-hari Sholikah bertahan hidup dari usaha kecil-kecilan di rumah. Membuka layanan selipan-penggilingan-yang melayani pembuatan sambal pecel ataupun jasa memarut kelapa.
Penghasilannya pun tidak menentu. Kadang hanya Rp10 ribu hingga Rp 20 ribu sehari. Pendapatan yang sedikit itu tak mampu memenuhi kebutuhan susu dan popok.
Seringkali kurang. Sementara sang suami hanya pekerja serabutan. Kadang ada pekerjaan kadang tidak. “Sering gak bisa beli susu. Akhirnya ya cuma minum air putih. Sama makan biasa,” terang
Sebenarnya si nenek ini punya pelanggan tetap. Sering memesan sambal pecel. Sayang, setelah anaknya meninggal dan harus merawat sang cucu dia terpaksa menolak pesanan.
Penyebanya adalah modalnya habis untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. “Sabtu kemarin ada langganan dari Bali pesan lagi. Tapi saya cancel karena enggak ada modal,” ungkapnya.
Baca Juga: Kerek Keuntungan, Bupati Kediri Dhito Sarankan Peternak Jual Produk Olahan
Tak hanya soal modal, waktu pun dia jadi tak memiliki. Habis untuk merawat cucu. Ketika yang sulung berangkat sekolah dia yang terpaksa mengantar. Berboncengan tiga dengan si kembar. Sedangkan sang suami sudah berangkat bekerja.
“Satu digendong depan. Satu duduk depan. Yang diantar sekolah di belakang,” jelasnya. Dia bersyukur kondisinya itu diperhatikan oleh bupati. Kini bantuan modal usaha yang diterimanya diharapkan mampu membuat produksi sambal pecelnya kembali berjalan.
Sholikah berharap usahanya perlahan bangkit. Agar ketiga cucunya tetap bisa tumbuh dengan layak di tengah kondisinya yang kekurangan. Terpisah, Bupati Kediri Hanindhito Himawan Pramana menyebut bahwa pihaknya tidak sekadar memberikan bantuan sembako atau uang.
Namun, lebih ke pemberian bantuan modal usaha. Agar usaha yang sebelumnya digeluti Sholikah kembali berjalan. “Tadi barusan dari rumahnya Bu Sholikah. Beliau harus merawat ketiga cucunya baru ditinggal oleh orang tuanya satu bulan yang lalu. Sementara bapaknya sudah enggak ngurus,” terang Dhito.
Terkait sang bapak tiga anak-anak itu, menurut Dhito, jika ber-KTP Kabupaten Kediri, agar untuk tidak dilayani dalam kepengurusan kependudukan dan seluruh pelayanan publik yang ada di Kabupaten Kediri.
“Bagi saya enggak ada toleransi seorang bapak tidak menafkahi anaknya. Kalau ada suami yang tidak menafkahi mantan dan anak itu kita akan kaji akan ada punishment dari kita karena itu wajib hukumnya itu satu,” jelasnya. Sementara itu, dia juga berniat menyekolahkan cucu Sholikah yang pertama ke sekolah rakyat.
“Ada potensi kita masukkan ke sekolah rakyat. Tapi kita lihat nanti perkembangannya karena sekarang anaknya di SD NU. Yang dua yang masih usia 2 tahun, kita berikan bantuan. Cuman yang enggak kalah penting ibunya ini bisa bikin sambel pecel sama madu mongso. Nah, itu yang kita akan berikan secara masif. Jadi artinya masif itu kita berikan secara cepat, kita awasi sampai ibunya bisa mengelola keuangan dengan baik. Supaya mereka punya pendapatan,” tegasnya sembari menyebut bahwa dia juga akan memperbaiki rumah Sholikah.
Editor : Andhika Attar Anindita