Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Pemuda Asal Kelurahan Gayam Kediri Berinovasi Membuat Aplikasi Tingkatkan Keamanan Kampung, Cukup Tekan HP Sirene pun Meraung

Ayu Ismawati • Rabu, 6 Mei 2026 | 21:43 WIB
Ketua RT 05 RW 05 Kelurahan Gayam, Mojoroto, Adi Aminoto menunjukkan aplikasi keamanan yang dirancang salah satu warga bernama Topan Kristianata. (Foto: Ayu Isma)
Ketua RT 05 RW 05 Kelurahan Gayam, Mojoroto, Adi Aminoto menunjukkan aplikasi keamanan yang dirancang salah satu warga bernama Topan Kristianata. (Foto: Ayu Isma)

 Jika biasanya kegiatan rukun tetangga (RT) hanya monoton sebatas arisan atau kerja bakti bersih lingkungan, lain halnya di Kelurahan Gayam, Mojoroto. Ada satu lingkungan RT yang selangkah lebih maju. Mereka menciptakan inovasi sistem keamanan lingkungan sendiri dengan modal otodidak.

 

AYU ISMA, Kota, JP Radar Kediri

 

Bangunan semi-permanen itu nyaris tak terlihat. Berdiri di antara rumah-rumah warga RT 05 RW 05 Kelurahan Gayam, Kecamatan Mojoroto. Luasnya hanya 2x6 meter. Berdinding susunan besi hollow. Lantainya dari papan kayu.

Tapi, dari ruangan kecil itulah hal yang penting dikendalikan. Menjadi pusat sistem keamanan lingkungan.

Sistem itu memanfaatkan aplikasi rancangan sendiri. Mem-built up dari nol. Hingga mampu menjadikan cara menjaga keamanan lingkungan tak lagi dengan ronda malam.

“Warga bisa menekan ikon panic button dari ponsel mereka,” terang Adi Aminoto, ketua RT.

Baca Juga: Ngopi Kamtibmas Bareng Kabaharkam Polri Komjen Pol Karyoto, Wali Kota Kediri Vinanda Launching Ronda Digital

Saat mengatakan itu, Adi menunjukkan layar komputer yang menampilkan beberapa hal. Mulai GPS lokasi, peta dunia, peringatan dini cuaca, hingga alarm nasional.

“Ini kan sudah ada nama-nama orangnya. Nanti sirene langsung berbunyi di pengeras suara dan server,”  lanjut sang ketua RT, sambil memeragakan menekan fitur yang dia maksud.

Sejurus kemudian, sirene meraung nyaring. Disertai suara yang menyebutkan telah terjadi pencurian di rumah si A, warga setempat. Beberapa saat kemudian, sirine itu dimatikan dari server kendali.

“Bila semua sudah terkendali maka alarm dimatikan,” jelas pria berusia 35 tahun itu.

Pembuat inovasi itu adalah Topan Kristianata. Pria 38 tahun itu bukan programer atau ahli IT. Dia membuat dengan berbekal belajar sendiri, secara otodidak. Berlangsung sejak Oktober 2025.

Baca Juga: Siagakan 500 Personel untuk Amankan May Day, Polisi Juga Ajak Driver Ojol Menjaga Kamtibmas, Ini Alasannya!

Trial dan error ia lalui selama kurang lebih tiga bulan. Hingga bisa menciptakan sebuah sistem keamanan yang kini bisa diakses oleh 49 kepala keluarga (KK).

“Awalnya saya resah dengan dinamika keamanan yang terjadi. Marak aksi kriminalitas yang menyasar permukiman warga. Membuat saya berpikir bahwa warga membutuhkan sistem peringatan dini yang responsnya cepat,” ucapnya, mengurai alasan kenapa dia membuat teknologi itu.

Terlebih dia juga berpengalaman jadi petugas keamanan. Tahu bagaimana manajemen risiko seharusnya dilakukan. Tergerak meng-upgrade sistem keamanan tradisional seperti kentongan dengan sentuhan teknologi. Akhirnya jadilah aplikasi panic button yang bernama ‘Siaga Warga’.

Aplikasi itu terintegrasi dengan pengeras suara yang terpasang di empat titik. Ditempatkan di tiang listrik milik PLN. Bila ada warga yang menekan panic button dari ponselnya, pengeras suara akan meraung serta pengumuman telah terjadi gangguan keamanan.

Tak hanya gangguan keamanan, ‘Siaga Warga’ juga berfungsi bila ada bencana alam. Seperti gempa bumi atau cuaca ekstrem.

“Kami tetap berharapnya aplikasi darurat ini tidak sampai digunakan oleh warga. Tapi kalaupun nanti dibutuhkan sewaktu-waktu saat terjadi kondisi darurat, aplikasi ini sudah siap,” tandas pria kelahiran Bangsal, Pesantren itu.

Baca Juga: Lapor Mbak Wali 112

Memprogram sistem dari nol tentu saja sempat diwarnai berbagai trial dan error. Beberapa kali gagal secara teknis. Penyempurnaan pun berlangsung hingga bisa dimanfaatkan di awal 2026.

Kendalanya tidak hanya datang dari sisi teknis saja. Melainkan juga meyakinkan masyarakat untuk mau mendukung inovasi itu. Beruntung, para pengurus RT yang mayoritas juga anak muda itu memberikan dukungan dan kepercayaan kepadanya untuk merealisasikan inovasi itu di tingkat RT.

Dengan pendekatan ke warga, seluruh warga RT tersebut kompak memberikan dukungan. Beberapa warga sukarela membantu memberikan tempat hingga menanggung biaya listrik dan wifi. Sistem pun bisa siaga 24 jam.

Saya door-to-door ke rumah-rumah warga sambil bawa laptop dan perangkat. Mempresentasikan secara face-to-face ke warga. Sehingga mereka bisa paham, terutama yang sepuh-sepuh yang mungkin gaptek, mereka jadi paham,” beber pria yang disapa Topan ini.

Dukungan dari warga itu juga sangat membantu pengembangan aplikasi. Salah satunya dari pembiayaan yang sepenuhnya swadaya dari warga melalui kas lingkungan RT.

“Ini bukti nyata semangat gotong royong warga, dan saya sangat terbantu. Tanpa bantuan warga juga saya nggak bisa apa-apa,” akunya. (fud)

Editor : Andhika Attar Anindita
#kelurahan gayam #Inovasi #keamanan #pemuda #rt