KEDIRI, JP Radar Kediri - Pria ini memang lahir dan besar di Kota Pahlawan, Surabaya. Namun, Kediri juga menjadi bagian penting hidupnya, merupakan kampung halaman sang ibu. Karena itulah dia berharap bisa menyelesaikan masa tugasnya di kota ini.
HILDA NURMALA RISANI, Kota, JP Radar Kediri
“Ibu saya asli Kecamatan Gampengrejo, Kabupaten Kediri,” ucap Gatot Tri Rahardjo di awal-awal percakapan.
Hal itulah yang membuat pria yang baru menduduk posisinya sebagai kepala Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Kediri ini tak asing dengan Kediri.
Beberapa tempat sudah sering didatanginya. Meskipun, sejatinya, Gatot lahir dan besar di Surabaya. Bahkan, separuh perjalanan hidupnya dia habiskan di Kota Pahlawan tersebut.
Baca Juga: Gatot Tri Resmi Gantikan Solichin sebagai Kalapas Kelas II A Kediri, Ini Yang Masih Menjadi PR!
“Karir awal saya di kantor wilayah Departemen Kehakiman Jawa Timur di tahun 1999. Enam tahun saya ada di Kanwil Surabaya,” terangnya.
Setelah itu, Surabaya tetap jadi labuhannya bertugas. Kali ini ke Lapas Kelas I Surabaya, pada 2006. Enam tahun pula dia menjalaninya, sebagai kepala seksi pelaporan dan tata tertib.
Baru setelah itu dia bergeser. Lebih jauh ke timur. Yaitu menjadi kepala rumah penyimpanan barang sitaan (rupbasan) Pasuruan. Tugas yang dia jalani selama empat tahun.
Karir Gatot kian moncer. Pada 2016 dia mendapat promosi. Menjadi kepala rumah tahanan (rutan) Sampang.
Baca Juga: Solichin Jadi Kalapas II A Kediri yang Baru, Komitmen Tangani Over Capacity
Di Pulau Madura itu, dia menjalaninya selama enam tahun. Sebelum akhirnya bergeser ke Lapas kelas IIB Blitar selama 1 tahun sepuluh bulan.
“Tak lama saya di promosikan ke Jambi. Hitungannya saya bertugas selama 1 tahun. Dari tahun 2024 sampai 2025 awal,” bebernya.
Putaran nasib membawa Gatot kembali ke Pulau Jawa. Menjadi Kepala LPKA Blitar selama 1 tahun 2 bulan. Barulah dia kemudian bertugas di Kediri.
Pengalaman mengabdi selama puluhan tahun itu membuatnya kaya akan pengalaman. Tak heran banyak hal berkesan yang dilalui selama bertugas di beberapa tempat yang ada di Jawa Timur.
Baca Juga: Urip Dharma Yoga, Sosok Kalapas Kediri yang Punya Cara Khas agar Dekat dengan Warga Binaan
Puluhan tahun mengabdi, banyak kejadian yang membekas dalam ingatannya. Namun, yang paling berkesan adalah ketika dia menjadi Kepala LPKA Blitar. Karakteristiknya berubah hampir 180 derajat. Petugas harus menjadi orang tua yang melakukan pembinaan dan pendampingan kepada anak-anak binaan yang sedang menjalani proses hukum.
“Namanya anak itu tidak pernah tahu apakah yang diperbuat itu sebuah kesalahan atau tidak. Kehidupan mereka hanya belajar, bermain, dan berlatih,” paparnya.
Jadi ketika sang anak itu berhadapan dengan hukum, dia harus berusaha menyesuaikan dengan kondisi dirinya. Yang harus berpisah dengan keluarga. Serta menjalani kehidupan yang terpisah dengan semuanya. Termasuk menempuh pendidikan yang berbeda dari teman-teman seusianya.
“Kalau di lapas dewasa mereka kebanyakan sudah mengerti kalau perbuatannya salah risiko harus berada di Lapas. Tapi di lapas anak kami berupaya memberi penjelasan agar tak mengulangi perbuatannya lagi serta bisa menjadi orang yang bermanfaat,” tandas pria 55 tahun ini.
Baca Juga: Urip Dharma Yoga Jadi Kalapas IIA Kediri Yang Baru, Konsentrasi Persiapan TPS Lokasi Khusus Pilkada
Dia juga bercerita, ada kebanggaan ketika beberapa dari anak binaannya berhasil menjadi orang hebat. Mulai dari tentara, polisi maupun lainnya. Itu karena tak ada catatan kriminal untuk anak yang pertama kali berhadapan dengan hukum.
Berbeda halnya ketika di lapas dewasa. Petugas berupaya memberikan skill agar mereka ketika keluar memiliki keterampilan untuk bisa terjun di masyarakat.
“Di sini (Lapas Kelas II A Kediri, Red) kami memberikan keterampilan mulai dari babershop, bengkel hingga kerajinan tangan. Tujuannya satu agar bisa bermanfaat untuk banyak orang,” terang lelaki yang masih tinggal di Kota Batu ini.
Pengalamannya yang malang melintang membuatnya yakin untuk bisa memimpin Lapas Kelas II A Kediri dengan baik. Meskipun ada beberapa persoalan yang masih menjadi catatan.
Baca Juga: Mengenal Lebih Dekat Budi Ruswanto, Plt Kalapas Kelas IIA Kediri
Seperti penghuni lapas yang overload hampir 3 kali lipatnya. Hingga penyelundupan barang terlarang di dalam Lapas. “Kami akan memaksimalkan petugas dan peralatan yang ada. Komitmen untuk mewujudkan lapas zero halinar (handphone, pungutan liar, dan narkoba, Red),” tegasnya.
Dia pun juga berharap bisa menghabiskan waktu bertugas di Kediri. “Tiga tahun lagi saya pensiun. Semoga bisa menghabiskan waktu penugasan di sini (Lapas Kelas II A Kediri, Red),” katanya penuh harap.
Ya, meskipun tumbuh besar di Surabaya dan bertugas di beberapa lokasi di Jawa Timur, Kediri mempunyai kesan tersendiri baginya. Bahkan, lokasi-lokasi yang ada di wilayah Kediri masih terekam jelas dalam ingatannya.
“Sudah familiar, daerah Mojo, Branggahan, JWK (jembatan wijaya kusuma, Red). Kalau ke Kediri ya ke makam mbah yang ada di situ (Gampengrejo, Red),” pungkasnya.
Editor : Andhika Attar Anindita