“Kalau main PES (Pro Evolution Soccer, Red) ada banyak aksesoris tambahan. Itu yang (mendorong) saya bikin Mod.”
Itulah sederet kalimat yang keluar dari mulut Muhammad Abdul Adzim Zakariya. Pria asal Kelurahan Jamsaren, Kecamatan Pesantren menceritakan persinggungannya dengan profesinya saat ini, sebagai 3d artist.
Seorang profesional yang menciptakan gambar, objek, serta animasi tiga dimensi untuk berbagai kebutuhan industri. Salah satunya memenuhi kebutuhan industri game.
Awal kiprahnya di bidang ini memang berawal dari hobinya memainkan PES. Dari sinilah dia mulai membuat Mod, istilah yang menerangkan aktivitas modifikasi karakter ataupun aksesoris pada permainan online itu. Mod sendiri memang diambil dari kata modifikasi.
Dari situlah akhirnya pria kelahiran Blitar, 29 tahun silam ini menekuni 3D artist. Kini, karya-karyanya pun banyak diminati pihak di luar Indonesia.
Tapi, siapa sangka, Adzim-sapaannya-tak menyangka menekuni bidang pekerjaannya itu. Awalnya, dia justru berhasrat berkecimpung di dunia otomotif.
Keinginan itulah yang membuatnya berharap masuk jurusan teknik kendaraan ringan (TKR) kala mendaftar di SMKN 1 Udanawu, Blitar. Meskipun takdir berbicara lain.
“Inginnya di (jurusan) otomotif tapi keterima di TKJ (teknik komputer dan jaringan, Red). Mau tidak mau dijalani,” kenangnya.
Adzim memang sangat dekat dengan dunia permotoran. Terutama saat remaja. Dia suka merakit sepeda motor untuk balapan.
“Motor modif saya itu sering dipake balapan. Mulai dari yang resmi ataupun non-resmi,” kenangnya.
Namun, titik balik terjadi saat orang tua menyuruhnya berhenti dari aktivitas tersebut. Dia pun patuh. Namun, gantinya, Adzim meminta laptop. Dari situlah perjalanan barunya dimulai.
“Kalau gak boleh modif-modif motor, gantinya minta laptop. Karena memang aku juga suka game,” jelasnya.
Seiring waktu, ketertarikannya pada dunia digital tumbuh. Berawal dari kegemaran bermain game. Dia memiliki keinginan sederhana, memasukkan wajahnya sendiri ke dalam karakter game.
Keinginan itu membawanya belajar secara otodidak. Di tengah keterbatasan akses belajar saat itu, Adzim mencari referensi dari forum-forum baik lokal maupun luar negeri.
Termasuk memasukkan karya-karyanya, yang dibuat otodidak, ke forum untuk dikonsultasikan.
Baca Juga: Kisah Marsiah, Penjual Jenang yang Berhaji di Usia 104 Tahun Asal Kecamatan Semen Kediri
Tentu saja tak selalu berjalan mulus seperti harapannya. Dia sempat mendapat respon kurang menyenangkan. Dan, ini justru terjadi di forum lokal.
Toh, dia tak patah arang. Semangatnya tetap membara. Apalagi, ketika berkonsultasi di forum-forum luar negeri justru dia mendapat banyak masukan yang konstruktif. Menjadikan kemampuannya berkembang pesat.
“Kalau di luar negeri justru banyak yang memberi masukan. Dari situ saya bisa berkembang,” ungkap putra dari Djamilun Edris dan Enny Mahsunnah itu.
Memasuki akhir masa sekolah, kemampuannya mulai menghasilkan. Adzim mulai menerima proyek pembuatan objek 3D.
Terutama untuk kebutuhan modifikasi game sepak bola seperti PES. Mulai dari wajah pemain, sepatu, hingga atribut lainnya.
Dari proyek tersebut ia mulai mendapatkan penghasilan melalui sistem daring. Meski nominal awal tidak besar, pengalaman yang didapat menjadi bekal berharga.
Perjalanan Adzim terus berkembang. Berkat karya-karyanya itu dia sempat mendapatkan kesempatan belajar di 3D Sense Media School Singapura dengan skema beasiswa.
Meski harus hidup serba terbatas selama di perantauan, pengalaman tersebut membuka jalan lebih luas dalam kariernya.
“Namanya di negeri orang ya, otomatis harus ala kadarnya, asalkan bisa jalan di sana,” kenangnya.
Berkahnya, dia sering terlibat dalam proyek professional. Hingga bekerja sama dengan pihak luar negeri.
Kini, Adzim aktif mengerjakan berbagai proyek 3D secara freelance dari rumahnya.
Dalam setiap proyeknya, honor yang didapat mulai jutaan hingga puluhan juta rupiah.
Bagi Adzim, perjalanan yang ia tempuh tidak pernah direncanakan secara matang. Namun, dari keputusan meninggalkan dunia motor ia justru menemukan jalan hidup yang membawanya hingga ke dunia profesional.
“Awalnya memang bukan di sini. Tapi dari situ justru ketemu jalan yang sekarang dijalani,” pungkasnya.
Editor : Andhika Attar Anindita