Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Lipsus Hari Bumi (1): Timbulan Sampah di Kota Kediri Kian Tak Terkendali, Mampukah Program Joglangan Jadi Solusi?

Hilda Nurmala Risani • Kamis, 23 April 2026 | 05:50 WIB
TPA Klotok Kota Kediri difoto dari udara. (Foto: Wahyu Adji)
TPA Klotok Kota Kediri difoto dari udara. (Foto: Wahyu Adji)

 

KEDIRI, JP Radar Kediri - Perang melawan sampah mulai massif. Termasuk kampanye membuat joglangan untuk sampah rumah tangga. Pertanyaannya, bagaimana dengan perkampungan padat penduduk yang minim lahan kosong?

Lubang itu berada di lahan belakang rumah Diasti. Kebetulan warga Kelurahan Mojoroto, Kecamatan Mojoroto itu punya tanah kosong seluas 3 x 4 meter. Di situlah dia membuat joglangan-lubang di tanah-berukuran satu meter persegi. Kedalamannya juga satu meter.

Tentu saja wanita 27 tahun tersebut tak menggali sendiri. Dia harus memanggil tukang gali. Upahnya Rp 180 ribu untuk waktu kerja satu setengah hari. Namun, semua itu dia lakukan demi niatnya ikut mengurangi problem sampah yang kian pelik.

“Sepertinya sangat membantu (mengurangi timbulan sampah). Informasinya sampah di TPA mayoritas juga dari rumah tangga,” ucap Diasti yakin.

Baca Juga: Jalan TPA Klotok Kota Kediri Diblokade, Sampah Menumpuk di Depo Imbas Warga Tagih Kenaikan Uang Kompensasi

Ide membuat joglangan itu bukan murni inisiatifnya sendiri. Melainkan menuruti anjuran dari pihak kelurahan yang mengumpulkan para warga. Sedangkan ide awalnya dari kecamatan. 

“Arahan dari kecamatan, kebetulan di belakang rumah ada lahan kosong,” aku perempuan yang tinggal bersama orang tua dan seorang kakak ini.

Selama ini sampah yang dihasilkan dari rumahnya dibuang di bak sampah depan rumah. Sebelum  nanti diambil oleh relawan dan dikirim ke tempat pembuangan akhir (TPA).

Bukankah lebih enak seperti itu? Cukup bayar iuran tanpa bersusah-susah membuat joglangan kemudian memilah sampah?

“Ya kalau dipikir-pikir semua pengen enaknya. Tapi persoalan menumpuknya sampah sepertinya harus dicari solusinya. Dan ini menjadi tanggung jawab kita semua, warga masyarakat,” kata Diasti beralasan.

Baca Juga: Lebaran Usai, Timbunan Sampah di Kediri Tembus 3.700 Ton, Sehari Hasilkan 125 Ton

Pendapat serupa juga disampaikan Pipit, perempuan 30 tahun yang tinggal di Kelurahan Dermo, Kecamatan Mojoroto. Bahkan, keluarganya sudah memiliki joglangan sejak dia kecil. Karena itu dia sudah terbiasa memilah sampah. Membuang sisa makanan di lubang tanah. Sedangkan sampah botol plastik dia jadikan pot bunga.

“Orang tua selalu memberi contoh mengelola sampah. Kompos yang sudah kami buat ditaruh di tanaman di sekitar rumah,” jelasnya.

Upayanya itu dinilainya efektif mengurangi volume sampah yang dihasilkan dari rumah tangganya. Bahkan hingga 80 persen.

Dukungan terhadap program ini juga disuarakan Elok, warga Kelurahan Mrican. Pun, ketika faktanya dia tak memiliki tanah kosong untuk tempat joglangan sampah.

Baca Juga: Timbulan Sampah Malam Takbir Rata-Rata Capai 248 Ton, DLHKP Kota Kediri Tetap Siagakan Ratusan Petugas dan Angkutan Sampah

“Setelah dipikir-pikir, ternyata sampah rumah tangga itu banyak. Mulai dedauhan, kotoran memasak, hingga makanan basi,” aku ibu satu anak ini.

Selama ini dia tahunya sampah diambil relawan yang sudah dibayar. Tak pernah mengerti bila bisa dimanfaatkan untuk kompos. Apalagi hal itu paling mudah dilakukan. Lebih-lebih di lingkungan perumahan yang lahannya terbatas seperti dirinya. Meskipun sampah yang dihasilkan bisa 5 kantong setiap rumahnya.

Hal itulah yang menjadi alasannya mendukung program joglangan sampah yang dicetuskan Camat Mojoroto ini. Dia pun akan melaksanakannya. Segera bermusyawarah dengan warga di lingkungannya. Apakah mencari lahan kosong sebagai lokasi joglangan yang digunakan beberapa keluarga. Ataukah pengadaan wadah khusus sebagai  komposter.

Tapi, tidak semua warga setuju dengan ajakan membuat joglangan tersebut. Terutama yang tidak memiliki lahan yang cukup.

Baca Juga: Pemdes Turus Gurah Kediri Bangun TPS3R, Sukses Atasi Masalah Sampah

“Mau mengolah sendiri tidak ada waktu. Lahan juga terbatas. Solusinya tetap dengan membuang sampah di depan rumah untuk diambil relawan,” kilah Roki, 35, warga Kecamatan Mojoroto.

Pria ini berdalih iuran yang sudah diberikan seharusnya membuat petugas melakukan pengolahan dengan baik. Sehingga warganya tak perlu memusingkan lagi perkara sampah.

“Ya harusnya itu tugasnya dari petugas. Kan kami sudah membayar,” ujarnya singkat.

Sementara itu, sang inisiator gerakan ini, Camat Mojoroto Abdul Rahman, menyebut bila berhasil kampanyenya itu bakal mengurangi volume sampah yang masuk ke TPA Klotok hingga 60 persen. Sebab, menurutnya, data dinas lingkungan hidup, kebersihan, dan pertamanan (DLHKP) menyebut sampah yang masuk selama ini didominasi sampah rumah tangga.

Baca Juga: Penyakit Bernama Sampah di Destinasi Wisata

Program yang dia cetuskan itu merupakan pengalaman masa lalu. Joglangan sangat familiar bagi masyarakat di pedesaan untuk pengelolaan sampah.

“Kebetulan saya hidup didesa. Setiap hari juga berkaitan dengan sampah. Dan joglangan ini sudah ada dari dulu kenapa kok tidak coba diterapkan di wilayah kota?” ucap pejabat yang akrab disapa Abdul ini.

Menurutnya, joglangan ini tidak memerlukan lahan yang besar. Cukup memiliki kedalaman dan lebar 1 meter saja dirasa sudah cukup. “Ini juga sudah tidak bau kok. Jadi aman saja, termasuk di perumahan insya Allah bisa,” tandasnya.

Meski program ini baru diluncurkan pada Minggu lalu, dia meyakini mampu diterapkan secara berkelanjutan. Mengingat namanya proses tidak ada yang instan.

“Butuh proses, mungkin hasilnya tidak bisa dilihat satu sampai dua bulan saja. Tapi percaya jika diterapkan konsisten timbulan sampah di TPA itu bisa berkurang drastis,” pungkasnya. (hilda nurmala risani/fud)

 

Editor : Andhika Attar Anindita
#joglangan #komposter #plastik #sampah #kota kediri