JP Radar Kediri - Tekadnya ke Tanah Suci sangat kuat. Mengumpulkan uang sedikit demi sedikit dari hasil jualan jenang di kios kecilnya. Niatnya itupun kesampaian, meskipun ketika usianya sudah seabad lebih.
Nenek renta tersebut tersenyum semringah. Di antara ribuan calon jemaah haji (CJH) yang berkumpul di Convention Hall Simpang Lima Gumul (7/4) lalu. Duduk di kursi besi yang diselimuti kain warna putih.
Sosok lanjut usia (lansia) itu bernama Marsiah. Dia adalah salah seorang CJH Kabupaten Kediri yang tergabung dalam kelompok terbang (kloter) 112. Hebatnya, usianya tak sekadar lansia, melainkan sudah melewati satu abad.
“Tahun ini jemaah kita yang tertua adalah Mbah Marsiah, dari Desa Bulu, Kecamatan Semen. Usianya saat ini 104 tahun lebih 96 hari. Ini juga termasuk jemaah tertua se Indonesia,” ucap Kepala Kantor Kementerian Haji dan Umrah Kabupaten Kediri Abdul Kholiq Nawawi, sambil meminta sosok yang disebutnya itu berdiri.
Marsiah sempat berdiri sebentar. Disambut aplaus CJH lain, dan juga tamu undangan yang hadir. Termasuk Wakil Bupati Kediri Dewi Mariya Ulfa yang secara resmi melepas CJH Kabupaten Kediri.
Melihat usia Marsiah yang melewati satu abad tersebut, sudah bisa dipastikan perjuangannya mewujudkan mimpi bukan hal yang mudah. Memang, masa tunggu sejak mendaftar hingga dipastikan berangkat tidak terlalu lama. Hanya lima tahun sejak melakukannya pada 2021. Tapi, cara untuk mencapainya itu yang penuh liku.
Perjalanan menuju titik ini bukan hal mudah. Marsiah mengumpulkan biaya untuk berangkat haji sedikit demi sedikit. Dari hasil berjualan jenang.
Usaha itu, berjualan jenang, sudah dijalani sang nenek selama puluhan tahun. Sejak anak-anaknya masih kecil hingga mereka lulus sekolah.
“Dulu saya berjualan jenang. Hasilnya saya kumpulkan. Setelah anak-anak mentas (lulus sekolah, Red), punya cita-cita bisa berangkat haji. Alhamdulillah kesampaian,” tuturnya, dalam bahasa Jawa.
Muidah, sang anak, yang duduk di sampingnya meneruskan cerita. Mengatakan keinginan ibunya berhaji sudah ada sejak lama. Namun keterbatasan dana membuat rencana itu tertunda. Setelah anak-anaknya bekerja dan berkeluarga, barulah harapan itu kembali diperjuangkan.
“Mbahe dari lama mengumpulkan uang sendiri. Lalu anak-anaknya sudah pada kerja dibantu, ditambahi. Karena bagi orang desa kan ibadah paling puncak ya berangkat haji,” ungkap wanita 60-an tahun tersebut.
Anak-anak dan cucu Marsiah sudah pasti mendukung penuh cita-citanya. Terutama dari anak-anak laki-lakinya. Bahkan, saat Marsiah hampir tidak lolos pemeriksaan kesehatan, mereka berupaya keras agar sang ibu tetap bisa berangkat.
“Waktu di puskesmas sempat dinyatakan pikun. Tapi kami tidak yakin. Kami laporkan ke dokter kesehatan kabupaten. Lalu dokter datang langsung ke rumah dan menyatakan Mbah tidak pikun,” jelas Muidah.
Baca Juga: Nestapa Sujarno, Warga Desa Pagung, Semen Kediri yang Rumahnya Rusak akibat Longsor
Pemeriksaan lanjutan dilakukan di RSUD Gambiran oleh psikolog. Keluarga bahkan mengupayakan pemeriksaan secara cepat agar tidak antre. Hasilnya tetap sama, yaitu Marsiah dinyatakan tidak pikun.
Kendala sebenarnya bukan pada daya ingat. Melainkan karena Marsiah buta huruf. Ia kesulitan menjawab pertanyaan seperti tahun atau angka. Setelah melalui berbagai proses akhirnya ia dinyatakan istithaah atau layak berangkat haji.
Dukungan kuat dari anak cucu itu juga tergambar dari sikap Muidah. Dia memutuskan ikut berhaji sebagai pendammping. Dia pun mengumpulkan uang agar bisa berangkat bersama ibunya pada 30 Mei mendatang.
Selama persiapan, Muidah rutin berjalan pagi. Sedangkan sang ibu hanya dimintanya berjemur agar tubuhnya tetap kuat. Sebab, selama di Tanah Suci nanti Marsiah akan menggunakan kursi roda.
Sejak muda, Marsiah dikenal sebagai pekerja keras. Ia berjualan jenang dan sembako di kios kecil di halaman rumah. Semua dilakukan demi menghidupi lima anaknya.
Dia memang harus melakukan hal itu. Membantu ekonomi keluarga. Sebab, suaminya hanya veteran tentara yang tak memiliki pensiun. Sehari-hari bekerja sebagai pemotong kayu untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari.
Setelah suaminya meninggal, anak dan cucunya bergantian merawat Marsiah. Ia terus berjualan hingga 2014. Sebelum akhirnya berhenti akibat erupsi Gunung Kelud yang merobohkan kiosnya.
“Waktu itu Mbahe sempat sakit, lalu dilarang kerja lagi. Ternyata sisa uang jualan dulu disimpan di kumplung (kaleng, Red). Kami anak-anaknya juga tidak tahu,” ungkap Muidah.
Dari hasil jerih payah yang dikumpulkan dalam diam selama puluhan tahun itu bisa digunakan untuk mendaftar haji. Sebuah mimpi sederhana yang diperjuangkan dengan ketekunan, kesabaran, dan dukungan keluarga.
Editor : Andhika Attar Anindita